Kamis, 06 Oktober 2011



A DIVINE REVELATION OF HEAVEN
by Mary Kathryn Baxter

Published in Indonesian language 
by Pitan Daslani
Jakarta, Indonesia.



WAHYU ALLAH TENTANG SORGA
Catatan Mengenai 10 Kali Kunjungan Saya ke Rumah Bapa
oleh Mary Kathryn Baxter





WAHYU ALLAH 
TENTANG SORGA

Catatan mengenai
10 Kali Kunjungan Saya
ke Rumah Bapa

*
*
*
*
*
*

MARY KATHRYN BAXTER








DAFTAR ISI


Dari Redaksi (5)
Sekilas tentang penulis (6)
Pengantar (7)
Pendahuluan (8)
Dari Yesus untuk Kathryn (9)
Di gerbang sorga (10)
Masuk ke dalam sorga (11)
Rumah bagi jiwa yang telah ditebus (14)
Bekerja untuk memuji Allah (15)
Permata bagi yang membawa jiwa (16)
Tempat abadi untuk semua orang (18)
Airmata dari bumi (19)
Allah membuka kitab itu (21)
Langit yang pertama & ke-dua (24)
Langit yang ke-tiga (25)
Puji-pujian di sorga (26)
Menghampiri Takhta Allah (27)
Takhta kemuliaan Allah (28)
Pusat dokumentasi sorga (29)
Gudang berkat Allah (30)
Yesus Sang Penyembuh (31)
Dahulu, sekarang, dan nanti (32)
Malaikat-malaikat di gereja (33)
Ketika satu jiwa diselamatkan (34)
Kembali ke ruang arsip (35)
Mekanisme penyimpanan arsip (37)
Darah Yesus (38)
Kitab kehidupan Anak Domba (39)
Sungai Kehidupan (40)
Kembali ke Takhta Allah (41)
Orang-orang yang sudah ditebus (41)
Simfoni yang indah (42)
Kuda mulia di sorga (44)
Gudang kesembuhan (45)
Penyembuhan di sorga (46)
Minta Yesus untuk menyembuhkan (47)
Kesibukan di sorga (49)
Penduduk sorga (50)
Keteraturan sempurna (51)
Kereta Allah (53)
Tubuh mulia (53)
Ketika Allah Bapa berbicara (54)
Sorga itu benar-benar ada (55

(56) Anak-anak di sorga 
(57) Bayi-bayi yang keguguran 
(59) Dalam pemeliharaan Allah
(61) Reuni di sorga 
(62) Malaikat pengawal 
(64) Penyembahan di depan takhta 
(66) Persiapan bagi Sang Raja 
(67) Seruan penyembahan 
(68) Motivasi untuk memuji Allah 
(69) Tugas yang Allah berikan
(69) Kitab Suci mengamini
(70) Makhluk-makhluk di sorga 
(71) Serafim di depan Takhta Allah 
(72) Tugas para serafim 
(74) Riwayat perjalanan ke sorga 
(75) Rekaman sorgawi
(76) Darah yang menghapus dosa 
(79) Mezbah Allah
(79) Mezbah di jaman sekarang
(80) Menyembah Allah secara tulus 
(81) Sukacita yang akan dinyatakan 
(82) Penglihatan para nabi 
(84) Mujizat di gereja 
(85) Ketika rantai dosa diputuskan 
(86) Firman Allah 
(87) Datang ke Takhta Allah 
(88) Pertolongan di masa kini 
(88) Kuasa nama Yesus 
(89) Allah membenci okultisme 
(91) Pasukan malaikat sorga 
(92) Malaikat dan Firman 
(93) Kenangan tentang alam maut
(94) Planet baru
(94) Allah mengasihi anak-anak
(95) Sekolah malaikat
(96) Pemerintahan Yesus Kristus 
(97) Kedatangan kembali Yesus Kristus
(98) Representasi Tubuh Kristus
(99) Jurang maut 
(100) Permintaan terakhir Yesus Kristus
(101) Bersiaplah menemui Allah
(103) Sekarang, berdoalah begini
(104) Terima kasih, Tuhan memberkati



[ Dari Redaksi ]

KUNJUNGAN MARY KATHRYN BAXTER KE SORGA

Judul asli buku ini adalah A Divine Revelation of Heaven yang 
ditulis oleh  evangelist  Mary Kathryn Baxter. Ini adalah buku 
kedua yang ia terbitkan setelah mengunjungi alam maut dan sorga. 
Buku pertama tentang pengalaman spiritual itu berjudul A Divine 
Revelation of Hell.

Untuk menerjemahkan buku kedua ini dan mengedarkannya 
secara khusus kepada umat Kristiani di Indonesia, kami telah 
terlebih dahulu mendapat restu dari Misi Penginjilan Mary Kathryn 
Baxter melalui Robert Brownell yang bertugas menyebarluaskan 
kesaksian ini ke berbagai pelosok dunia.

Ia menganjurkan agar versi Indonesia buku ini secepatnya
disebarluaskan kepada umat Tuhan di Indonesia dan kepada
orang-orang Indonesia di berbagai negara, karena buku ini berisi banyak 
rahasia sorga.

Dalam menerjemahkan buku ini, kami berusaha menerjemahkan 
setepat-tepatnya bukan hanya kalimat-kalimat tetapi juga nuansa 
dan makna yang tersirat di balik setiap kejadian dan pesan. Kami 
juga melakukan sedikit reorganisasi isi naskah aslinya
demi menjaga sistematika alur cerita dan gaya penyajian yang baik.

Inilah pengalaman spiritual amat komprehensif dan dahsyat yang 
dialami seorang hamba Allah di Amerika Serikat. Allah membawa 
dia ke dalam alam maut selama 30 malam berturut-turut.
Pengalamannya yang amat mengerikan itu dituangkannya
di dalam bukunya yang pertama. 

Mulai malam ke-31 sampai dengan malam ke-40, Mary Kathryn 
Baxter dibawa Allah ke dalam sorga untuk menyaksikan semua 
keindahan kediaman Allah beserta kemuliaan, kebesaran dan 
kedahsyatannya. Pengalaman 10 malam di sorga itu ia tuangkan 
dalam buku kedua yang versi Indonesia-nya sedang Anda baca.
Doa kami, semoga Anda mendapat banyak manfaat dari
pengalaman luar biasa yang dialami Ibu Kathryn dalam 10 kali 

kunjungannya ke sorga. 
BagiMu, ya Tuhan Yesus, segala hormat dan kemuliaan sampai 
selama-lamanya.

Jakarta, 8 Maret 2007
Pitan Daslani (Editor)



SEKILAS TENTANG PENGARANG

Mary Kathryn Baxter dilahirkan di Chattanooga, Tennessee, 
Amerika Serikat. Dia dibesarkan dalam rumah Tuhan. Ketika masih 
remaja, ibunya mengajari dia tentang Yesus Kristus dan karya 
penyelamatanNya.

Kathryn dilahirkan kembali (lahir baru) di usia 19 tahun. Dia 
melayani Tuhan selama beberapa tahun, kemudian mangkir
selama beberapa waktu. Tapi Roh Tuhan tidak mau membiarkan 
dia terlepas. Ia kemudian ditarik kembali oleh Roh Kudus lalu 
menyerahkan diri lagi kepada Tuhan  Yesus—dan tetap setia sampai 
sekarang.

Pada pertengahan 1960-an Kathryn pindah bersama keluarganya 
ke Detroit, Michigan, dan tinggal di sana beberapa tahun. Ia 
kemudian pindah lagi ke Belleville, Michigan, dan di sinilah dia 
mulai mendapat penglihatan-penglihatan dari Tuhan Yesus.
Roh Kudus bekerja luar biasa dalam segala bentuk pelayanan 
yang dijalankan oleh Kathryn. Dan banyak mujizat menyertai dia 
dalam pelayanannya. Dia banyak mendemonstrasikan cara kuasa 
Allah bekerja dalam setiap pertemuan, karena Allah benar memakai 
dia bagi kemuliaanNya. 

Kathryn sangat mencintai Tuhan Yesus dengan segenap 
hati, segenap akal budi, jiwa-raga, dan segenap kekuatannya. 
Kerinduannya adalah membawa jiwa baru bagi Tuhan Yesus. 
Dia seorang pelayan yang tekun. Panggilannya adalah untuk 
menyaksikan tentang kebesaran Allah yang dialaminya melalui 
penglihatan, mimpi dan wahyu. 

Kathryn ditahbiskan sebagai pelayan Tuhan pada tahun 1983 di 
Full Gospel Church of God yang berlokasi di Taylor, Michigan. Kini 
dia melayani di National Church of God di Washington D.C.
Dalam bulan Maret 1976, ketika dia tinggal di Belleville, Yesus 
menampakkan diri kepadanya melalui mimpi, penglihatan dan 
wahyu. Sejak itu sudah banyak wahyu diberikan kepadanya ketika 
Tuhan menjenguk dan membawa dia ke alam roh. Pertama, dia 
dibawa ke alam maut selama 30 malam, dan sesudah itu dia dibawa 
ke sorga selama 10 malam.  Dia juga diberi penglihatan tentang apa 
yang akan terjadi menjelang dan pada saat Tuhan Yesus datang 
kembali. 

— Pitan Daslani (Editor)



PENGANTAR

Allah telah mengurapi tulisan-tulisan Mary Kathryn 
Baxter untuk memberkati ratusan ribu orang. Saya 
percaya bahwa sangat penting bagi kita untuk
menyebarluaskan pesan yang telah Allah
sampaikan kepadanya. 

Setiap tahun dia membagi pengalamannya ini kepada 
ratusan gereja, dan kini dia merangkumnya dalam 
sebuah buku.

Bukunya yang terdahulu, A Divine Revelation of Hell
(Wahyu Ilahi tentang Naraka), dimaksudkan Allah untuk 
menyampaikan pesan abadi tentang keselamatan kepada 
jiwa-jiwa yang terhilang. 

Buku tersebut disambut gembira oleh banyak pembaca 
di seluruh dunia. Buku tersebut dicetak dalam berbagai 
bahasa dan disebarkan di berbagai negara. 
Sampai tulisan ini dibuat, buku tersebut telah terjual 
lebih dari 500.000 buah. Karena itu saya percaya buku 
yang satu ini,  A Divine Revelation of Heaven (Wahyu 
Ilahi tentang Sorga), akan lebih meriah sambutannya di 
seluruh dunia.

Telah beberapa tahun saya menjadi pendeta untuk 
Mary Kathryn Baxter. Saya mengenal dia secara pribadi 
dan sepenuhnya mendukung misi penginjilannya. 
Allah telah merestui pelayanannya dengan cara 
mengurapi semua yang ia kerjakan seperti yang tampak 
melalui sambutan luar biasa terhadap pesan-pesan yang 
ia sampaikan.

Buku ini adalah jawaban doa, airmata dan hasil kerja 
keras banyak orang. 
Doa saya, semoga penyebaran buku ini akan membawa 
banyak jiwa kepada Tuhan dan mempersiapkan umat 
Tuhan untuk hidup kekal di sorga.

—T. L. Lowery, Ph.D.
Pelayan Firman Allah
National Church of God
Washington D.C.




PENDAHULUAN

Buku ini berisi sejumlah kisah nyata yang telah saya 
alami sendiri bersama Allah. Ini bukan hasil ilusi seorang 
pengkhayal yang menginginkan sesuatu yang lebih baik 
daripada yang ia dapatkan dalam hidupnya.

Sorga itu sesuatu yang nyata, dan pengalaman yang saya 
uraikan di dalam buku ini adalah persis seperti yang terjadi 
pada saya. 

Saya tidak dapat melihat semua yang dapat dilihat di 
dalam sorga, karena diperlukan kurun waktu yang kekal 
untuk bisa melihat semuanya itu. 

Saya tak dapat menceritakan segala sesuatu yang saya lihat 
di dalam sorga, bahkan Paulus pun tak dapat melakukannya 
(baca II Korintus 12:1-4). Tapi saya ceritakan di sini apa 
yang Allah kehendaki untuk saya bagikan kepada umatNya.
Secara khusus saya menghargai dan berterimakasih kepada 
pendeta saya, Dr. T. L. Lowery, dan juga kepada isterinya 
yang cantik, Mildred, atas segala dukungan, dorongan serta 
sumbangan yang berharga dalam penulisan buku ini. 

Saya juga perlu berterimakasih setulus-tulusnya kepada 
semua pengerja di National Church of God dan juga kepada 
Pendeta Marcus V. Hand atas bimbingan redaksional yang 
mereka berikan dalam penulisan buku ini. 

Tak lupa pula ucapan terima kasih saya tujukan kepada 
semua pengerja Whitaker House di New Kensington, 
Pennsylvania, Amerika Serikat, yang telah begitu berperan 
dalam proses penyiapan  dan pengedaran buku  A Divine 
Revelation of Heaven (Wahyu Ilahi tentang Sorga) dan  A 
Divine Revelation of Hell (Wahyu Ilahi tentang Naraka) 
kepada pembaca.

Saya sangat berterimakasih kepada Allah yang telah 
memanggil saya untuk membagi-bagikan pesanNya ini. 
Dan saya berterimakasih kepada Anda semua yang telah 
menguatkan saya dalam pelayanan ini. Allah kiranya 
memberkati Anda semua.

Mary Kathryn Baxter




DARI YESUS UNTUK MARY KATRYN BAXTER

“Untuk maksud ini engkau dilahirkan,
untuk menulis dan menceritakan
apa yang telah Aku perlihatkan 
dan sampaikan kepadamu,
karena semua ini tulus dan benar.
“Panggilanmu adalah 
untuk memberitahukan kepada
dunia bahwa sorga itu benar ada, 
dan naraka itu juga benar ada,
dan bahwa Aku, Yesus, 
telah diutus oleh Bapa
untuk menyelamatkan 
mereka semua dari penghukuman
dan menyediakan bagi mereka 
tempat di sorga.









DI GERBANG SORGA

Allah, dalam pengasihan dan anugerahNya yang abadi mengijinkan 
saya untuk masuk ke dalam tempat yang indah itu yang disebut 
sorga. Tak jelas bagi saya persiapan dan alat transportasi seperti 
apa yang saya gunakan untuk bisa masuk ke sana dan kembali lagi 
ke bumi. Tapi kenyataan yang saya alami tidak mungkin keliru.
Bagaimana caranya keajaiban sorga yang begitu hebat itu 
diperlihatkan kepada seorang manusia fana seperti saya? Saya 
mulai dari  awal peristiwa.
Pada suatu malam Tuhan Yesus menampakkan diriNya kepada 
saya dan berkata bahwa saya telah dipilihNya untuk suatu tugas 
khusus. 
Dia berkata: “AnakKu, Aku akan memanifestasikan diriKu 
kepadamu untuk membawa manusia keluar dari dalam kegelapan 
untuk masuk ke dalam terang. Aku telah memilihmu untuk sebuah 
tujuan: Engkau akan menulis dan mendokumentasikan semua yang 
akan Kutunjukkan dan katakan kepadamu.”
Ketika saya berserah diri sepenuhnya kepada Allah, hal-hal yang 
luar biasa mulai terjadi. Saya dijemput dari tempat saya berada 
dan dipindahkan langsung ke dalam alam maut. Saya sadar bahwa 
kelima pancainderaku bekerja baik: Saya dapat melihat, meraba, 
mendengar, mencium dan merasakan apa yang terjadi. Tapi ini 
semua terjadi di alam supranatural. Saya tahu bahwa semua 
kejadian ini  memiliki tujuan tertentu.
Berhari-hari setelah saya dibawa Tuhan ke dalam alam maut, 
saya sangat bersedih. Hati saya galau dan pikiranku sumpek akibat 
dari kejadian-kejadian mengerikan yang saya lihat. Saya sudah 
menyaksikan penghakiman Allah terhadap dosa dan terhadap 
mereka yang masuk ke naraka. Saya berdoa dengan sangat kepada 
Allah dan meminta penghiburan dariNya.
Pada malam ke-31 setelah semua kejadian ini mulai, kuasa Allah 
Yang Mahadahsyat itu menyelimuti saya lagi. Pada jam 2 pagi, 
seorang malaikat yang gagah perkasa berdiri di samping ranjangku. 
Yesus Kristus tampak berdiri di belakang malaikat itu. Yesus 
tersenyum ketika saya mencoba memperhatikan wajahNya. Tapi 
Dia tidak berkata sepatah pun.
Malaikat itu berkata: “Allah telah memberi aku tugas khusus. Aku 
dikirim ke sini untuk membawamu ke sorga dan memperlihatkan 
kepadamu beberapa bagian dari sorga.” Kemudian dia berkata lagi, 
“Mari dan saksikan kemuliaan Allah.”
Dalam sekejap saya sudah dibawa keluar dari rumah,
dan tiba-tiba saya menemukan diri saya
sedang berdiri bersama malaikat itu 
di depan satu dari gerbang-gerbang di sorga.
Indahnya pemandangan yang saya lihat di situ begitu menakjubkan 
sampai-sampai saya nyaris tak dapat bernafas. Pakaian yang 
dikenakan oleh malaikat sorgawi itu adalah jubah yang terbuat dari 
cahaya benderang. Malaikat itu memiliki sayap-sayap berbentuk 
segi tiga yang memantulkan warna-warni pelangi. Saya tidak heran, 
tapi sangat takjub menyaksikan tempat Allah yang keindahannya 
tak dapat diceritakan dalam bahasa manusia.
Kemudian saya mendengar seruan malaikat yang
dikumandangkannya berulang-ulang: “Saksikanlah ini kemuliaan Allah.” 
Gerbang  megah di depanku itu terbuat dari mutiara yang padat. 
Saya berdiri terkagum-kagum memandang gerbang itu. Sampai di 
situ saya  tidak melihat Tuhan Yesus, tapi saya diselimuti kemuliaan 
dan kebahagiaan sorgawi.



MASUK KE DALAM SORGA

Ketika kami tiba di sana, dua orang malaikat yang sangat tinggi 
sedang berdiri di depan gerbang. Keduanya mengenakan jubah 
cahaya yang berkilauan dengan pedang terhunus di tangan. Rambut 
mereka bagai untaian emas sementara wajah mereka memancarkan 
cahaya benderang.
Malaikat yang membawa saya maju ke depan dan berbicara 
dengan salah satu dari malaikat penjaga pintu sorga itu, sementara 
saya berdiri sendirian di situ. Sambil terkagum-kagum saya 
berbicara dalam hati: “Betapa indahnya gerbang-gerbang sorga 
ini. Dan alangkah bahagianya saya dapat melihat dengan mataku 
sendiri semua ini.” Tiba-tiba saya sadari bahwa saya memang akan 
masuk ke dalam sana.
Sambil memperhatikan para malaikat itu, saya dapat mendengar 
percakapan mereka. Satu dari malaikat-malaikat itu masuk ke 
dalam lalu kembali lagi sambil membawa sebuah kitab. Buku 
tersebut bersampul emas dan isinya pun ditulis dengan tinta emas. 
Rupanya itu buku tentang riwayat kehidupan saya. Di sampul buku 
itu tertulis sebuah nama: Mary Kathryn Baxter.
Di wajah malaikat-malaikat itu terpancar senyuman persetujuan. 
Mereka memeriksa buku itu dan sambil berpandangan mereka 
serentak berucap: “Dia boleh masuk ke dalam gerbang ini.” Malaikat 
penunjuk jalan mengantarkan saya ke dalam.
Tiba-tiba terdengar musik indah yang melingkupi saya. Musik 
itu tampaknya datang dari atas dan merembes ke dalam seluruh 
tubuhku. Alun-alunan musik yang sangat dahsyat disertai nyanyian 
indah memenuhi seluruh tempat itu. Irama sorgawi itu menyelimuti 
semua  tempat dan semua orang yang ada di situ.
Ketika saya melangkah masuk ke dalam kota Allah, perasaan 
takjub yang sangat besar membuat saya nyaris tak dapat bernafas. 
Indahnya tempat itu tidak dapat diceritakan dengan bahasa 
manusia. Di sekeliling saya ada kembang-kembang berwarna-warni 
yang paling indah yang pernah saya tahu. Di situ ada dataran hijau 
dengan tumbuhan sangat subur dan ini pun tak dapat dilukiskan 
secara tepat. Bahkan kuncup-kuncup bunga di situ pun hidup 
dan bereaksi terhadap irama musik dan nyanyian indah itu.
Alunalunan musik itu memenuhi dan menutupi saya dan saya bagaikan 
bagian dari musik itu sendiri.
Mencoba menceriterakan tentang semua keajaiban kota itu adalah 
satu hal, tapi mengetahui bahwa Anda akan mengambil bagian 
dalam kesenangan itu adalah hal lain lagi. Saya melihat beberapa 
warga sorga asyik tenggelam dalam kesenangan itu. Mereka semua 
memakai jubah. Genaplah firman dalam Kitab Suci (Yesaya 61:10):
“Aku bersukaria di dalam TUHAN, jiwaku bersorak-sorai di dalam 
Allahku, sebab Ia mengenakan pakaian keselamatan kepadaku dan 
menyelubungi aku dengan jubah kebenaran, seperti pengantin 
laki-laki yang mengenakan perhiasan kepala dan seperti pengantin  
perempuan yang memakai perhiasannya.”
Kebahagiaan dan kesenangan yang terpancar dari wajah mereka 
tak dapat saya ungkapkan dengan kata-kata. Sorga itu memang 
tempat yang nyata. Itu bukan kiasan atau hasil imaginasi seseorang. 
Di dalam Alkitab Yesus bersabda: 
“Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah 
juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika 
tidak  demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku 
pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.” (Yohanes  14:1-
2)
Sorga adalah tempat yang disediakan bagi orang-orang yang siapsedia.
Oleh karena kita sebagai anak-anak Allah telah diubahkan 
melalui kelahiran kembali dan oleh karena kita sekarang adalah 
ciptaan baru di dalam Kristus, amatlah menggembirakan bahwa 
tempat  dimana kita akan tinggal dalam kekekalan adalah tempat 
yang disediakan oleh Juruselamat yang telah menyelamatkan kita.
Sorga adalah tempat yang sempurna. Karena Juruselamat kita itu 
sempurna adanya, kekal dan tidak terbatas kuasaNya, maka sorga 
pun adalah tempat yang sempurna. Oleh karena Dia menyediakan 
tempat bagi kita untuk tinggal bersamaNya di sana selamanya, 
maka rumah kita yang abadi itu sempurna adanya. Tak ada sesuatu 
apa pun yang dapat mengotori rumah sorgawi kita itu. Tak akan ada 
suatu apa pun yang diijinkan masuk ke sorga untuk mengotori atau 
mencemari tempat itu. 
“Tetapi tidak akan masuk ke dalamnya sesuatu yang najis, atau 
orang yang melakukan kekejian atau dusta, tetapi hanya mereka 
yang namanya tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba itu.” 
(Wahyu 21:27)
Sorga itu jauh di luar jangkauan dosa maupun pendosa dalam 
bentuk apa pun. Setan tak akan pernah masuk ke situ sampai 
selama-lamanya. (Wahyu 12:3-4, 7-10, 12-13):
“Maka tampaklah suatu tanda yang lain di langit; dan lihatlah, 
seekor naga merah padam yang besar, berkepala tujuh dan 
bertanduk  sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota. 
Dan ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit 
dan melemparkannya ke atas bumi. Dan naga itu berdiri di hadapan  
perempuan yang hendak melahirkan itu, untuk menelan Anaknya, 
segera sesudah perempuan itu melahirkan-Nya. 
“Maka timbullah peperangan di sorga. Mikhael dan
malaikatmalaikatnya berperang melawan naga itu,
dan naga itu dibantu oleh  
malaikat-malaikatnya, tetapi mereka tidak dapat bertahan; mereka 
tidak mendapat tempat lagi di sorga.
“Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang 
menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan  
ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya.
Dan aku mendengar suara yang nyaring di sorga berkata: 
“Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan 
Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya, karena telah 
dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara kita, yang 
mendakwa mereka siang  dan malam di hadapan Allah kita.
“Dan ketika naga itu sadar, bahwa ia telah dilemparkan di atas 
bumi, ia memburu perempuan yang melahirkan Anak laki-laki itu.”
Si ular tua itu, Iblis atau Setan, dan semua pengikutnya tak akan 
pernah mengangkat kepalanya yang jelek itu di dalam iklim dan 
suasana kudus di sorga. Setan-setan tidak bisa masuk ke sorga. 
Malaikat yang mermberontak terhadap Allah dan yang dicampakkan 
ke bumi yaitu “yang tidak menetap di tempat semestinya tetapi 
meninggalkannya” (Yudas 1:6) tak akan dapat kembali ke sorga. Di 
sorga tidak ada orang yang kekuarangan apa pun. Tak ada setitik 
sekecil apapun yang tidak sempurna.
Tak peduli kemana kita bepergian di bumi, tak peduli dimana kita 
tinggal, atau seberapa mahalnya rumah kita di bumi, toh tak bisa 
tanpa kekurangan. 
Tidak begitu keadaannya di sorga. Di sana Allah telah membangun 
tempat yang bernama sorga itu dengan sangat sempurna. 
Kemuliaannya, keindahannya, serta keajaibannya tak mungkin 
dapat diceritakan dalam bahasa manusia.  Kesenangan yang tak 
dapat digambarkan dari tempat mahaindah itu sungguh sangat 
menakjubkan.
Tak ada pelukis di muka bumi yang dapat menggambarkan secara 
tepat betapa indahnya kegemerlapan cahaya dari Putra Allah yang 
memantul dari tembok-tembok permata yaspis, gerbang-gerbang 
mutiara, serta istana-istana yang tak terhitung banyaknya, serta 
Sungai Kehidupan di sana.



RUMAH BAGI JIWA-JIWA YANG
TELAH DITEBUS

Sorga itu adalah tempat yang permanen. Tak akan ada musuh 
apa pun yang sanggup menaklukkan Firdaus Allah kita.
Bangunanbangunnya tidak dapat runtuh, bahan-bahan bangunannya tidak 
dapat rusak, dan semua tumbuhan di sana tak dapat layu. 
Lagi pula tak ada asap atau polusi yang dapat mencemari tempat 
kudus itu.
Tempat tinggal permanen ini bersifat abadi, sebuah kota yang 
terus ada selama-lamanya. Kita akan bernyanyi di sana lagu-lagu 
seperti  yang diciptakan oleh  Hattie Buell berikut ini:
A tent or a cottage, why should I care?
They’re building a palace for me over there;
Tho’ exiled from Him, yet still I may sing;
All glory to God, I’m a child of the King.
[Sebuah tenda atau gubug, mengapa harus kupedulikan?
Di sana sedang mereka bangun tempat bagiku;
Kendati jauh terbuang dariNya, tetaplah aku bernyanyi;
Segala puji bagi Allah, aku anak Sang Raja]
Di tempat yang tak terkatakan itu para kudusNya menerima 
kelepasan dari segala kekewecaan, sakit hati, tragedi dan bencana. 
Sebab di sana tak ada kesedihan atau kesukaran. Tak ada kesakitan 
atau kesusahan, tak ada orang menangis di sorga (Wahyu 21:4): 
“Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan 
maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau 
ratap  tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu 
telah berlalu.” 
Para warga Kerajaan Sorga yang saya lihat di sana tampaknya 
datang dari berbagai usia dan berbagai negara di bumi. Jelas sekali 
bahwa mereka ketika di bumi berasal dari banyak kewarganegaraan. 
Seketika saya teringat Wahyu 5:9 yang berkata:
“Dan mereka menyanyikan suatu nyanyian baru katanya: 
“Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan
membuka meteraimeterainya; karena Engkau telah disembelih
dan dengan darah-Mu 
Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan 
bahasa dan  kaum dan bangsa.”



BEKERJA UNTUK MEMUJI ALLAH

Dengan sangat bersukacita jiwa saya mulai memuji kebesaran 
Allah. Kesusahan dan kepedihan hati yang saya alami, ketika 
Tuhan mewahyukan kepada saya tentang naraka sebelum kejadian 
ini, langsung lenyap. Sebab sekarang saya mengalami pewahyuan 
tentang sorga.
Saya melihat banyak keluarga secara lengkap. Semua mereka 
sangat berbahagia, sedang melakukan sesuatu, sedang tersenyum 
bahagia. Ada sinar kebahagiaan memancar dari setiap wajah yang 
saya lihat di sana.
Para kudus di sorga tampak sedang sibuk melakukan sesuatu. 
Setiap saat mereka selalu sibuk. Sebab waktu mereka dipakai untuk 
memuji dan membesarkan nama Allah. Ada nyanyian di bibir setiap 
orang. Dan musik indah membahana memenuhi semua tempat.
Keabadian di sorga itu tidak dipakai untuk bersantai atau 
bermalas-malasan. Jadi tidak seperti yang disangka banyak orang. 
Di sana kita tidak hanya melayang bebas di atas awan, atau 
membunyikan alat musik harpa atau mencelupkan ujung jari kaki 
di air Sungai Kehidupan. 
Waktu kita akan dipenuhi dengan kegiatan untuk berbakti 
kepada Allah. Seperti apa pengabdian itu persisnya tak dapat kita 
gambarkan selengkapnya, tetapi semua umatNya akan melayani 
Dia.



PERMATA BAGI  YANG MEMBAWA
JIWA BARU

Sejauh mata memandang saya melihat permata dan berlian 
bersinar berkilauan memantulkan cahaya ke segala tempat. Ada 
berlian yang sebesar balok besar. 
Beberapa dari batu mulia ini dimaksudkan untuk menjadi bagian 
dari istana yang diperuntukkan bagi mereka yang membawa jiwa 
bagi Allah ketika berada di bumi. 
Jadi, setiap kali ada seseorang membawa satu jiwa baru kepada 
Kristus, di sorga disediakan satu batang berlian untuk istananya. 
Alkitab berkata: 
“Hasil orang benar adalah pohon kehidupan, dan siapa bijak, 
mengambil hati orang.” (Amsal 11:30)
Baca juga Daniel 12:3: “Dan orang-orang bijaksana akan bercahaya 
seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang 
kepada kebenaran  seperti bintang-bintang, tetap untuk selamalamanya.”
Sementara saya berdiri dan menikmati dan keagungan tempat itu, 
saya melihat seorang malaikat yang amat elok parasnya berjalan 
turun. Di tangannya ada gulungan kitab yang dirajut dengan emas 
di tepinya.
Malaikat itu meletakkan gulungan kitab tersebut di sebuah meja 
yang terbuat dari bahan seperti perak, tapi ini tidak seperti perak 
yang pernah saya ketahui. Meja panjang itu memancarkan cahaya 
terang.
Di gulungan kitab itu tertulis sebuah nama. Seorang kudus tampil 
lalu membuka dan membaca gulungan kitab itu:
“Yesus adalah Kepala Tukang,” berkata orang kudus itu kepada 
saya. “Dia-lah yang menentukan siapa yang layak menerima berlian 
dan dimana mereka ditempatkan. Gulungan kitab yang kupegang 
ini adalah laporan dari bumi tentang seorang yang telah membawa 
jiwa baru bagi Yesus. Dia memberi makanan kepada orang miskin, 
dia memberi pakaian kepada orang telanjang dan melakukan 
perbuatan baik bagi Allah.” 
Baca Matius 25:31—41, 46:
“Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua 
malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di 
atas takhta kemuliaan-Nya. 
“Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan 
Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama 
seperti  gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan 
menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan
kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. 
“Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah 
kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah 
Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. 
“Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku 
haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu  
memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi 
Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di 
dalam penjara, kamu  mengunjungi Aku.
“Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: 
Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi 
Engkau  makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? 
“Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan 
kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami 
memberi  Engkau pakaian? 
“Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan 
kami mengunjungi Engkau?
“Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, 
sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah 
seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah
melakukannya untuk Aku.
“Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiriNya:
Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, 
enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan 
malaikat-malaikatnya.
“Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi 
orang benar ke dalam hidup yang kekal.”



TEMPAT ABADI UNTUK SEMUA ORANG

Malaikat pengantar itu mengulangi ucapan penyambutannya: 
“Mari dan saksikan kemuliaan Allahmu.”
Atas petunjuk Tuhan, saya merekam semua kejadian tentang 
sorga ini seperti yang saya saksikan di sana. Kita mesti mengerti 
betul bahwa fokus dari pengharapan dan keinginan kita adalah 
tinggal bersama Tuhan kita di sorga untuk selama-lamanya. Sorga 
adalah negeri impian yang pasti menjadi kenyataan.
Saya bergirang tentang sorga sebab setelah semua pekerjaan dan 
jerih lelah kita di bumi ini berlalu maka kita akan pergi ke sana. 
Allah telah menyediakan kota itu untuk kita. Dan Yesus sedang 
menyiapkan tempat di sana untuk semua orang yang mencintai 
Dia.
Persekutuan antara Allah dan manusia akan dipulihkan 
sepenuhnya di sorga. Ketika Adam dan Hawa berada di Taman 
Eden, Allah datang ke bumi menjenguk mereka. Setelah persekutuan 
dengan Allah dirusakkan oleh dosa dan ketidaktaatan, Allah terus 
menunjukkan keinginanNya untuk berkomunikasi dengan manusia. 
Bentuk dari hasrat Allah yang paling tinggi untuk menunjukkan 
kasih sayangNya kepada manusia adalah memberikan AnakNya 
sendiri untuk mati secara begitu kejam di atas kayu salib. Melalui 
kematian dan kebangkitan Kristus itulah persekutuan antara Allah 
dan manusia dimungkinkan untuk terjadi lagi.
Di bumi saat ini, kondisi kehidupan kita dapat menghalangi 
keakraban persekutuan kita dengan Allah. Tapi di sorga, tak ada 
apa pun yang menghalangi kita. Kita akan mengetahui apa artinya 
persekutuan sempurna dengan Raja Segala Raja dan Tuhan Segala 
Tuan. Persekutuan kita dengan Dia akan menjadi lengkap.
Sorga adalah tempat tinggal Allah yang hidup. Sorga itu letaknya 
jauh di seberang langit yang dapat kita lihat dan jauh di seberang 
semua planet dan galaxy. Sorga adalah tempat tinggal abadi bagi 
“semua yang ditebus oleh Tuhan” (Yesaya 62:12). Tempat itu adalah 
tujuan abadi bagi semua anak Allah yang beriman kepada Kristus.
Di sana Anda tak akan kuatir kalau akan berdesak-desakan 
masuk ke tempat yang disebut istana. Tatkala semua yang ditebus 
dari segala jaman berkumpul di dalam kemuliaan, akan ada tempat 
yang cukup bagi semua orang dan setiap orang akan mendapat satu 
dari begitu banyak istana megah di sana, yaitu tempat tinggal abadi 
yang Yesus janjikan ketika Dia berbicara tentang Rumah Bapa: 
“Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah 
juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika 
tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku 
pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku 
telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku 
akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di 
tempat di mana Aku berada, kamu pun berada. Dan ke mana Aku 
pergi, kamu tahu jalan ke situ.” (Yohanes 14:1-4)
Di sorga pasti ada tempat bagi setiap orang beriman:
“Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu 
kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya,
dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di 
hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih 
dan  memegang daun-daun palem di tangan mereka.
“Dan dengan suara nyaring mereka berseru: “Keselamatan bagi 
Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!”
“Dan semua malaikat berdiri mengelilingi takhta dan tua-tua dan 
keempat makhluk itu; mereka tersungkur di hadapan takhta itu dan  
menyembah Allah.” (Wahyu 7:9-11)


AIRMATA DARI BUMI
Suatu ketika malaikat penunjuk jalan itu membawa saya ke suatu 
tempat lalu dia berhenti di situ kemudian berkata: “Allah menyuruh 
aku untuk menunjukkan kepadamu ruangan untuk airmata.”
Anda mungkin sering membaca di dalam Mazmur tentang 
airmata kita dan apa yang diperbuat Allah terhadap airmata kita. 
Para  malaikat menangkap semua airmata kita dan menyimpannya 
di dalam kirbat Allah (Mazmur 56:8). 
Sebelumnya saya sering bertanya, apa maksud ayat ini. Saya tahu 
bahwa banyak di antara Anda yang membaca tulisan ini pernah 
atau sering menangis—ketika ditinggal pergi oleh orang yang 
dikasihi entah itu anggota keluarga atau kekasih hati, apalagi bila 
Anda diceraikan suami atau isteri. Mungkin Anda berpikir semua 
pengharapan telah lenyap sehingga Anda menangis tersedu-sedu 
karenanya.
Dengar, umat Tuhan, Allah menunjukkan kepada saya sebuah 
ruangan penuh airmata. Indah sekali ruangan itu. Malaikat 
membawa  saya ke jalan masuk ruangan yang tidak berpintu itu. 
Melihat ke dalam, saya tahu ruangan itu sendiri tidak terlalu besar. 
Di dinding kamar itu ada banyak rak yang terbuat dari papan-papan 
kristal dan tembok bagian dalamnya bertaburkan cahaya gemerlap. 
Di rak-rak itu ada banyak kirbat atau botol, ada yang diletakkan 
berkelompok, misalnya tiga kirbat setiap kelompok.
Tampak kirbatkirbat itu tembus pandang. Di bawah tiap kelompok kirbat itu 
terdapat papan nama yang bertuliskan nama asal airmata tersebut. 
Ada banyak kirbat seperti ini di dalam ruangan tersebut.
Kemudian, di dalam ruangan itu tampaklah seorang yang 
dimuliakan—malaikat Tuhan. Jubahnya yang berwarna ungu tua 
tampak sangat indah bagai sutera. Tampak di dalam sana sebuah 
meja mewah dan bersinar-sinar. Pemandangan yang glamor itu 
membuat saya terpesona.
Di atas meja itu ada banyak buku yang tampaknya dijahit dengan 
sutera yang sangat indah yang belum pernah kulihat. Ada buku 
yang berlapiskan berlian, ada yang berlapiskan mutiara, ada pula 
yang dilapisi batu mulia berwarna hijau dan ungu. Semua kitab itu 
sangat rapi dan teliti pembuatannya.
Saya berkata di dalam hati: “Ya Tuhan, betapa indahnya
buku-buku ini!” Saya memang suka buku, tapi buku-buku
yang saya lihat 
di situ sungguh sangat indah dan membuat saya amat terpukau.
Sementara tertegun memandangi buku-buku itu, orang yang 
berada di dalam ruangan itu berkata,” Mari, dan lihat. Aku akan 
menunjukkan isi ruangan ini kepadamu. Dan aku akan menerangkan 
arti dari airmata. Ini hanyalah satu dari banyak ruangan sejenis ini. 
Aku bertanggung-jawab untuk ruangan ini.”
Sementara dia berbicara, seorang malaikat tinggi besar masuk 
melewati gerbang tadi. Keindahan dan kemuliaannya membuat 
saya terkagum-kagum. Saya lihat dia memakai jubah putih terbuat 
dari bahan yang bertabur cahaya. Jumbai jubahnya terbalut emas 
yang berkilau terus ke bagian depan. Postur malaikat ini besar, 
tingginya kira-kira 12 kaki (144 inci = 3,6 meter) dan sayapnya pun 
sangat besar.
Malaikat besar ini memegang sebuah mangkuk emas berisi cairan 
(Wahyu 5:8). Kemudian orang yang di dalam ruangan itu berkata  
pada saya: “Dia membawa kepadaku mangkuk berisi airmata dari 
bumi. Aku ingin memperlihatkan kepadamu apa yang kami lakukan  
terhadap airmata ini.”
Malaikat tadi menyerahkan mangkuk tersebut beserta sehelai 
kertas yang di atasnya tercantum nama dari orang yang airmatanya 
berada di dalam mangkuk itu.
Malaikat di dalam ruangan itu membacakan catatan itu lalu pergi 
ke salah satu rak kirbat. Dia lalu membaca label nama di bawah 
kirbat untuk mencocokkan namanya dengan airmata yang baru saja 
dibawa dari bumi. Dia kemudian mengangkat kirbat yang sudah  
hampir penuh itu dan membawanya ke mangkuk tadi. Lalu dia 
memasukkan airmata di mangkuk itu ke dalam kirbat tersebut.
“Sekarang aku akan menunjukkan padamu apa yang kami lakukan 
di sini,” ucap orang kudus itu. “Ceritakanlah ini kepada manusia di  
bumi.”
Kemudian dia membawa kirbat itu ke meja, membuka salah satu 
buku lalu berkata: “Sekarang, lihat.”
Halaman-halaman buku itu kosong dan tidak bertuliskan apaapa.
Dia berkata: “Ini adalah airmata dari orang-orang kudus di 
bumi yang melayani Allah ketika mereka menangis. Sekarang lihat 
apa yang terjadi.”
Dia menjatuhkan satu tetes airmata itu dari kirbat ke atas halaman 
kosong itu. Begitu tetes airmata tersebut menyentuh lembaran 
kertas kosong itu, timbullah tulisan. Kata-kata indah dengan ukiran 
tulisan tangan yang indah bermunculan di halaman itu sampai 
penuh  halaman itu berisi tulisan. Dia melakukan ini halaman demi 
halaman sampai selesai.
Dia kemudian menutup buku tersebut dan berbicara. Sepertinya 
dia sedang berbicara kepada seluruh umat manusia di bumi dan 
juga kepada saya. “Doa yang paling sempurna adalah doa yang 
bermandikan airmata yang datang dari hati dan jiwa laki-laki dan  
perempuan di bumi.”
Kemudian malaikat dengan sayap pelangi itu berkata kepada 
saya: “Mari dan saksikan kemuliaan Allah.”



ALLAH MEMBUKA KITAB ITU

Tanpa disadari kami sudah berpindah ke sebuah pelataran 
luas berisi ribuan orang dan makhluk-makhluk sorgawi. Betapa 
indahnya pemandangan itu.
Dalam sekejap semua orang di situ perlahan-lahan lenyap dari 
pandanganku lalu kemuliaan Allah yang sangat dahsyat memenuhi 
tempat itu. Puji-pujian kepada Allah terdengar begitu kencang 
membahana bagai gemuruh guntur membelah langit. Lalu malaikat 
penunjuk jalan  membawa saya ke depan takhta Allah.
Saya melihat awan lebat, kabut dan juga suatu bentuk
Sang Maha Ada di dalam kabut itu. Saya tidak dapat memandang wajah Allah, 
tapi saya melihat kemuliaan Allah dan sebentuk pelangi melingkupi 
takhta Allah. 
Kemudian saya mendengar suara Allah yang bunyinya sama 
seperti apa yang telah ditulis oleh Yohanes: “Aku mendengar suara 
dari sorga bagai bunyi air bah dan bagai bunyi guntur.” (Wahyu 14:
2).
Di tempat mahadahsyat ini saya melihat banyak kuda dengan 
penunggangnya berdiri di samping takhta itu. Tiba-tiba saya 
melihat ada sebuah kitab di atas altar di depan takhta Allah. Saya 
melihat para malaikat menyembah di hadapanNya. 
Sambil berdiri termangu-mangu dan menyaksikan semua ini, saya 
melihat sesuatu yang tampaknya seperti tangan manusia muncul 
dari tengah awan itu lalu membuka kitab tersebut. Saya tahu itu 
tangan Allah yang sedang membuka kitab tersebut.
Terkejut ketika saya melihat sesuatu yang seperti asap naik dari 
kitab itu. Lalu, sekonyong-konyong menyebarlah aroma parfum 
yang sangat luar biasa yang tak pernah saya cium keharumannya. 
Malaikat itu katakan bahwa kitab tersebut berisi doa orang-orang 
kudus dan bahwa Allah telah mengirim malaikatNya ke bumi untuk 
menjawab doa yang keluar dari hati yang menjerit kepadaNya. 
Tampak sejumlah besar orang kudus memuji dan memuliakan 
Allah. Ketika Allah membuka kitab tersebut, halaman-halaman 
kitab tampak muncul bergantian kemudian terbang pergi ke dalam 
tangan malaikat-malaikat penunggang kuda.
Saya masih dapat mendengar suara Allah, bagai bunyi gemuruh 
yang dahsyat, berkata, “Pergilah dan jawablah doa perempuan itu. 
Pergilah dan jawablah doa laki-laki itu.” 
“Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, airmataku 
Kautaruh ke dalam kirbatMu. Bukankah semuanya telah 
Kaudaftarkan? Maka musuhku akan mundur pada waktu aku 
berseru; aku yakin, bahwa Allah memihak kepadaku. Kepada Allah, 
firman-Nya kupuji, kepada TUHAN, firman-Nya kupuji, kepada 
Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan 
manusia terhadap aku?” (Mazmur 56: 8-11) 
Firman Allah yang hidup menerangkan kepada kita tentang apa 
yang Ia perbuat terhadap airmata kita. Betapa indahnya bila kita 
mengerti kemuliaan dan keajaiban Allah kita. Betapa hebatnya 
bahwa kita menjadi penerima kasih sayangNya! Dia begitu peduli,  
bahkan terhadap airmata kita.
Kitab Suci banyak berbicara tentang aiarmata kita, tentang 
kesedihan kita, dan tentang penghiburan dari Allah buat kita.
“Baliklah dan katakanlah kepada Hizkia, raja umat-Ku: Beginilah 
firman TUHAN, Allah Daud, bapa leluhurmu: Telah Kudengar 
doamu dan telah Kulihat air matamu; sesungguhnya Aku akan 
menyembuhkan engkau; pada hari yang ketiga engkau akan pergi 
ke  rumah TUHAN.” (II Raja-Raja 20:5)
“Lesu aku karena mengeluh; setiap malam aku menggenangi 
tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku. 
Mataku mengidap karena sakit hati, rabun karena semua lawanku. 
Menjauhlah dari padaku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan, 
sebab TUHAN telah mendengar tangisku; TUHAN telah mendengar 
permohonanku, TUHAN menerima doaku.” (Mazmur 6:6-9)
“Ya, Engkau telah meluputkan aku dari pada maut, dan mataku 
dari pada air mata, dan kakiku dari pada tersandung.” (Mazmur 
116:8)
“Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan 
menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan 
menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai 
sambil membawa  berkas-berkasnya.” (Mazmur 126:5-6)
“Ia akan meniadakan maut untuk seterusnya; dan Tuhan ALLAH 
akan menghapuskan airmata dari pada segala muka;
dan aib umatNya akan dijauhkan-Nya dari seluruh bumi,
sebab TUHAN telah 
mengatakannya.” (Yesaya 25:8)
“Beginilah firman TUHAN: Cegahlah suaramu dari menangis, dan 
matamu dari mencucurkan air mata, sebab untuk jerih payahmu 
ada  ganjaran, demikianlah firman TUHAN; mereka akan kembali 
dari negeri musuh.” (Yeremia 31:16)
“Sebab Anak Domba yang di tengah-tengah takhta itu, akan 
menggembalakan mereka dan akan menuntun mereka ke mata air  
kehidupan. Dan Allah akan menghapus segala air mata dari mata 
mereka.” (Wahyu 7:17)
“Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan 
maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau 
ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah 
berlalu.” (Wahyu 21:4)
“… dan orang-orang yang dibebaskan TUHAN akan pulang 
dan masuk ke Sion dengan bersorak-sorai, sedang sukacita abadi 
meliputi  mereka; kegirangan dan sukacita akan memenuhi mereka, 
kedukaan dan keluh kesah akan menjauh.” (Yesaya 35:10)
Segala puji bagi Allah, sebab sorga itu benar-benar ada! Kita 
benar-benar akan ke sana. Dan kita tidak akan menjadi uap 
atau asap yang beterbangan ketika kita tiba di sorga, sebab kita 
mengenakan tubuh mulia. 
Salah satu keajaiban di sorga adalah bahwa segala airmata dan 
dukacita kita akan diganti dengan kebahagiaan kekal, seperti yang 
telah dijanjikan dalam Kita Suci. Dan bahkan masih ada lebih 
banyak lagi kesenangan yang akan kita alami di sana.
Sorga itu benar-benar nyata. Sorga adalah tempat pasti yang 
menjadi tujuan kita. Itu bukan suatu mimpi atau ilusi. Allah telah 
menyatakan kepada kita semua tentang banyak fakta sorgawi 
melalui Kitab Suci.



LANGIT YANG PERTAMA

Pertama, ada langit atmosfir. Ini adalah kawasan yang melingkupi 
planet bumi. Inilah kawasan tempat unggas beterbangan dan angin 
berhembus. Inilah kawasan tempat terjadi hujan, badai, kabut, uap, 
dan awan. 
Inilah bentangan langit yang dimaksudkan oleh malaikat dalam 
Kisah Para Rasul 1:11 ketika ia bertanya mengapa murid-murid 
Yesus memandang ke langit. Yesus, ketika berbicara kepada  
BapaNya, memandang ke langit (Yohanes 17:1).



LANGIT YANG KEDUA

Kemudian, ada pula langit yang disebut kawasan luar angkasa. 
Ini adalah kawasan tempat bulan, matahari, dan bintang-bintang. 
Kawasan langit ini disebutkan dalam Alkitab berulang kali, 
misalnya: “… maka Aku akan memberkati engkau
berlimpahlimpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang 
di langit dan seperti  pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan 
menduduki kota-kota musuhnya.” (Kejadian 22:17)
“… dan juga supaya jangan engkau mengarahkan matamu ke 
langit, sehingga apabila engkau melihat matahari, bulan dan 
bintang, segenap  tentara langit, engkau disesatkan untuk sujud 
menyembah dan beribadah kepada sekaliannya itu, yang justru 
diberikan TUHAN, Allahmu, kepada segala bangsa di seluruh 
kolong langit sebagai bagian mereka.” (Ulangan 4:19)
“Dapatkah engkau memberkas ikatan bintang Kartika, 
dan membuka belenggu bintang Belantik? Dapatkah engkau 
menerbitkan Mintakulburuj pada waktunya, dan memimpin bintang 
Biduk dengan pengiring-pengiringnya? Apakah engkau mengetahui 
hukum-hukum bagi langit  atau menetapkan pemerintahannya di 
atas bumi?” (Ayub 38:31-33)
“Sebab bintang-bintang dan gugusan-gugusannya di langit tidak 
akan memancarkan cahayanya; matahari akan menjadi gelap 
pada waktu terbit, dan bulan tidak akan memancarkan sinarnya.” 
(Yesaya 13:10)
“Segera sesudah siksaan pada masa itu, matahari akan menjadi 
gelap dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan 
berjatuhan dari langit dan kuasa-kuasa langit akan goncang.” 
(Matius 24:29)



LANGIT YANG KETIGA

Tempat yang menjadi tujuan semua orang yang dibenarkan oleh 
Tuhan Yesus itu jauh di seberang langit yang berbintang. 
Inilah tempat yang dimaksudkan oleh Rasul Paulus ketika ia 
berkata: “Aku tahu tentang seorang Kristen; empat belas tahun 
yang lampau--entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar 
tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya--orang itu
tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga. (II Korintus 12:2).
Istilah “sorga” yang saya gunakan dalam buku ini adalah kawasan 
yang sering digambarkan sebagai tempat takhta Allah.
“Sebab Kristus bukan masuk ke dalam tempat kudus buatan 
tangan manusia yang hanya merupakan gambaran saja dari yang 
sebenarnya, tetapi ke dalam sorga sendiri untuk menghadap hadirat 
Allah guna kepentingan kita.” (Ibrani 9:24)
Sorga adalah tempat dimana Allah berdiam. Waktu Yesus 
mengajar kita untuk berdoa, Dia menyuruh kita berdoa kepada 
“Bapa … di dalam sorga.” (Matius 6:9).
Dalam I Raja-Raja 8:30, sorga disebut sebagai tempat tinggal 
abadi bagi Allah. Dalam Mazmur 11:4 tempat itu dinamakan Bait 
Kudus Allah dan tempat dimana ada takhta Allah.
Di sana di Bait Kudus Allah, kemuliaanNya dinyatakan secara 
lengkap. Tempat itu adalah tempat sakral penuh cahaya kemuliaan 
dan kesenangan. Kita tidak dapat mengetahui letak tempat itu 
secara tepat. Tapi Alkitab selalu menggunakan kata “di atas” untuk  
menunjukkan arah tempat tersebut.
Kita tahu bahwa Allah Yang Mahakuasa itu berada di sana. 
Di tempat itu, Allah Bapa dan Yesus Kristus adalah pusat 
perhatian semua orang kudus, malaikat dan semua makhluk yang 
menyembah.
Di sana ada suatu persekutuan yang begitu indah. Ada malaikat, 
sebab Yesus berkata di sorga “ada malaikat yang selalu memandang 
wajah Bapaku” (Matius 18:10).
Ada orang-orang kudus, sebab Yesus berjanji, “dimana Aku 
berada, kamu pun berada (Yohanes 14:3). 
Kita pelajari dari I Petrus 1:4  bahwa suatu harta berharga telah 
disediakan bagi kita di sorga yaitu harta yang tidak akan dimakan 
ngengat dan karat dan yang tidak akan pernah lenyap.
Umat pilihan Tuhan, saya bersukacita dapat menceritakan tentang 
kunjungan saya yang begitu indah itu ke sorga. Saya merinding 
ketika berbicara tentang apa yang saya lihat dan orang-orang yang 
saya tatap wajahnya di sana.



PUJI-PUJIAN DI SORGA

Setelah malaikat penunjuk jalan itu menunjukkan tempat 
airmata di sorga, dia kembali mengulangi ungkapan yang sering 
diucapkannya selama kunjungan saya di sorga: “Mari dan lihat 
kemuliaan Allahmu.”
Gemerlapnya cahaya abadi yang sangat indah di sorga
menyelubungi diri saya. Kemuliaan Allah yang merebak dan memancar 
dari berbagai arah memenuhi saya dan saya tertegun menyaksikan 
semua itu. Keindahan dan semarak tempat itu tidak mungkin 
bisa digambarkan secara tepat oleh akal pikiran manusia sebelum 
seseorang menyaksikannya sendiri. Seketika itu juga saya teringat  
sebuah sajak yang pernah saya dengar di bumi:
Terang di sorga adalah wajah Yesus.
Sukacita di sorga adalah kehadiran Yesus.
Harmoni di sorga adalah pujian kepada Yesus.
Tema di sorga adalah karya Yesus.
Pekerjaan di sorga adalah melayani Yesus.
Kepenuhan di sorga adalah Yesus itu sendiri.
Sewaktu berjalan bersama malaikat itu, saya bisa merasakan 
sukacita, damai dan kebahagiaan di semua tempat. Lalu pikiranku 
melayang kembali mengingat keluargaku di bumi. Malaikat itu tahu 
apa yang sedang saya pikirkan. Dia berkata: “Ada tugas yang mesti 
kamu kerjakan bagi Allah. Kamu ditugaskan untuk menyampaikan 
kepada manusia di bumi tentang apa yang kamu lihat di sini. Allah 
sedang menunjukkan padamu beberapa bagian sorga, tetapi bukan 
semua bagian sorga. Mari dan saksikan kemuliaan Allahmu.”
Ketika kami tiba di suatu tempat, saya mendengar sangat 
banyak orang sedang memuji Allah. Alunan musik yang megah 
bersama nyanyian para penyembah itu menggetarkan jiwa saya. 
Hormat dan kemuliaan bagi Allah memantul melintasi bentangan 
sorga sementara para malaikat serafim dan orang-orang kudus 
menyanyikan kidung pujian dengan penuh semangat.



MENGHAMPIRI TAKHTA ALLAH

Jiwaku sungguh bersukacita dan tenggelam di dalam kebahagiaan. 
Tapi aku tetap sadar bahwa kami sedang mendekati Takhta Allah. 
Malaikat penunjuk jalan itu berhenti jauh, sangat jauh dari takhta 
Allah. Saya masih dapat menatap suatu panorama sangat indah 
yakni berbagai kejadian yang sedang terjadi disitu. 
Saya melihat pemandangan yang sama persis dengan apa yang 
telah dilihat oleh Rasul Yohanes seperti yang tertulis di dalam 
Wahyu 5:11: “Maka aku melihat dan mendengar suara banyak 
malaikat sekeliling takhta, makhluk-makhluk dan tua-tua itu; 
jumlah mereka berlaksa-laksa dan beribu-ribu laksa.”
Wahai penduduk bumi, betapa aku rindu jika semua orang 
mengerti tentang apa yang disediakan Allah bagi semua orang yang  
mengasihi Dia.
Sementara saya memandangi panorama indah itu dengan penuh 
kebahagiaan, sesuatu yang menakjubkan terjadi. Saya mendengar 
gemuruh puji-pujian kepada Allah yang dinyanyikan oleh sejumlah 
besar orang. Kemudian, yang paling menakjubkan bagi saya, 
malaikat itu mengijinkan saya untuk menyaksikan sendiri apa yang 
sudah sekian lama saya dambakan: Takhta Allah.



TAKHTA KEMULIAAN ALLAH

Takhta Allah itu tinggi dan berada di atas sana (Yesaya 6:1). Persis 
di bawah takhta itu mengalir Sungai Kehidupan. Sungguh jernih, 
sungguh sangat indah dan murni sungai itu. Kemuliaan Allah 
menutupi seluruh takhta itu. Ada halilintar sambar-menyambar, 
ada guntur bergemuruh dan ada suara di sekeliling takhta itu. 
Yohanes, ketika berbicara tentang sorga, berkata: “Dan dari takhta 
itu keluar kilat dan bunyi guruh yang menderu, dan tujuh obor 
menyala-nyala di hadapan takhta itu: itulah ketujuh Roh Allah.” 
(Wahyu 4:5)
Saya melihat semacam pelangi melingkar di atas takhta itu. 
Pelangi itu bentuknya seperti  permata. 
“Dan Dia yang duduk di takhta itu nampaknya bagaikan permata 
yaspis dan permata sardis; dan suatu pelangi melingkungi takhta 
itu gilang-gemilang bagaikan zamrud rupanya.” (Wahyu 4:3). 
Pelangi itu cemerlang lagi mulia, bercampur cahaya benderang 
dan memantulkan warna-warni gemerlapan. Ini pemandangan 
yang belum pernah saya lihat di atas bumi. Warna-warni pelangi 
itu menandakan kemuliaan dan kuasa. Keagungan Allah memancar 
keluar dari takhta itu bagai berkas-berkas cahaya yang mahaindah. 
Dari situ sinar-sinar kemuliaan Allah menyebar keluar lalu 
menerangi dan dipantulkan di seluruh bagian sorga.
Saya tidak tahu persis berapa lama saya berada di tempat yang 
satu ini. Tapi saya diliputi rasa kagum yang amat sangat. Saya 
lalu membayangkan begitu banyak orang yang sudah sampai 
ke sorga dan begitu banyak lagi yang akan sampai ke sana. Saya 
merenung tentang kekudusan Allah, kemurnian kebesaranNya, 
dan kesempurnaan sabdaNya. Tiba-tiba saya memekik: Oh Tuhan, 
betapa  indahnya aku memandang kemuliaan, kebesaran dan 
kekuasaanMu.
Seperti biasanya, malaikat penunjuk jalan itu berseru lagi: “Mari 
ikuti aku. Masih ada banyak hal lain yang belum dan akan aku  
tunjukkan kepadamu.”
  



PUSAT DOKUMENTASI DI SORGA

Saya terpesona melihat sebuah ruangan di sorga yang menyimpan 
catatan sangat rinci mengenai semua kejadian di bumi. Malaikat 
itu berkata, Allah menugaskan malaikat-malaikat untuk mencatat 
semua kejadian di dalam setiap kebaktian di gereja serta kebaktian 
rumah tangga dimana namaNya ditinggikan. Allah juga mempunyai 
catatan lengkap tentang kehidupan mereka yang keluar dari 
kehendakNya. 
Malaikat itu menunjukkan kepada saya tentang bagaimana 
caranya para malaikat membuat catatan tentang uang yang 
dikumpulkan di dalam kebaktian serta sikap hati setiap orang yang 
memberi derma. Dia bercerita tentang mereka yang memiliki uang 
tetapi tidak mau memberi bagi pekerjaan Tuhan. Saya lalu teringat 
ketika Yesus begitu teliti memperhatikan persembahan di dalam 
Bait Allah:
“Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan 
memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke 
dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. 
“Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan 
dua peser, yaitu satu duit. 
“Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada 
mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini 
memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan 
uang ke dalam peti persembahan. 
“Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda 
ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu 
seluruh nafkahnya.” (Markus 12:41-44)
Sementara semua itu ditunjukkan kepada saya, malaikat itu 
mengingatkan saya untuk tidak lupa mencatat kejadian di bagian 
ini. Dia berkata ada banyak hal yang akan menjadi misteri bagi saya 
karena saya hanya melihatnya secara samar-samar (I Korintus 13:
12). Tapi dia menekankan bahwa saya harus menceritakan semua 
yang dilihat kepada manusia di atas bumi.
Ketika kami sampai di bagian lain dari sorga, saya melihat 
sebuah koridor yang sangat panjang. Tembok-temboknya sangat 
tinggi dan tampaknya dibuat dari platina. Dari dalam sana keluar 
gemuruh puji-pujian kepada Allah. Pujian itu tak henti-hentinya 
dinyanyikan. Sekali lagi saya tertegun melihat keindahan tempat 
itu yang tembok-temboknya memancarkan sinar-sinar kemuliaan 
Allah. 
“Apa ini,” saya bertanya keheranan, karena tembok-tembok itu 
tak berujung sehingga saya tak sanggup melihat dimana ujungnya.


GUDANG BERKAT ALLAH
Malaikat itu berkata, “Pandanglah bagian atas tembok ini.” Di 
bagian atas sana tertulis kata  Storehouse (rumah penyimpanan). 
Saya bertanya, “ini ruangan apa?” Malaikat itu menjawab bahwa 
ruangan-ruangan itu berisi berkat-berkat yang disediakan Allah 
bagi  umatNya.
Sorga adalah kemurnian yang sempurna, itu sebabnya Allah ingin 
memurnikan orang-orang kudusNya di bumi agar mereka dapat 
menikmati suasana di sorga. Sorga adalah kepenuhan kesenangan, 
itu sebabnya Allah berkehendak untuk memberikan kesenangan 
bagi umatNya di bumi. Sorga adalah kemerdekaan abadi, makanya 
Allah menginginkan agar umatNya mengalami kelepasan bahkan 
ketika masih di bumi. Sorga adalah keutuhan sempurna, dan karena 
itu Allah mau menyembuhkan umatNya di bumi. Sorga adalah 
keamanan sempurna, dan Allah ingin umatNya merasa aman 
tenteram di bumi. Sorga adalah keberhasilan dan penggenapan. 
Makanya Allah ingin melihat umatNya dipenuhkan di bumi.
Ketika Yesus menyuruh kita berdoa “Jadilah kehendakMu di bumi 
seperti di dalam sorga,” (Matius 6:10), Dia sebetulnya menyatakan 
bahwa Allah ingin kita merasakan walau sedikit suasana sorga itu 
terjadi di bumi.
Umat Allah, di sana ada gudang-gudang penuh berkat yang Allah 
sediakan untukmu. Gudang-gudang itu menunggu di sorga dan 
Anda harus mengklaim untuk menerima berkat-berkat itu di sini, 
di bumi, sekarang. Allah ingin menyelamatkanmu, memberimu 
kelepasan  dan kesembuhan. 
Dia ingin Anda mengetahui tentang “damai sejahtera Allah yang 
melampaui segala akal,” (Filipi 4:7). Dia ingin Anda  mengalami 
30Wahyu Allah tentang Sorga Wahyu Allah tentang Sorga
kebahagiaan abadi penuh kemuliaan sampai selama-lamanya (I 
Petrus 1:8).


YESUS KRISTUS SANG PENYEMBUH
“Saksikanlah kemuliaan Allahmu,” seru malaikat penunjuk jalan 
itu lagi. Seketika dia lenyap dari pandanganku dan di sisiku berdiri 
Yesus. Saya memandang wajah Yesus. Ternyata perawakanNya 
lebih tinggi dari yang saya bayangkan sebelumnya. 
JubahNya yang berkilau-kilauan itu terurai begitu elegan dan 
mantap. SandalNya yang khas membungkus kakiNya yang kudus. 
Wajah dan rambutNya begitu anggun dan indah.
Sambil terpesona memandang wajahNya, saya bertanya, “Yesus, 
ruangan apa ini?”
Tuhan tak menjawab. Tapi Dia mengulurkan tanganNya ke arah 
tembok. Tiba-tiba tembok itu membuka diri. Di sekeliling tepi 
pintu itu saya melihat kemuliaan dan kuasa dan cahaya. Seperti 
obyek lainnya, yang ini pun bersaksi tentang kemuliaan Allah. Saya 
memekik: “Oh, Tuhan, apa lagi ini?”
Dia berkata, “AnakKu, ini semua untuk umatKu. Ini disediakan 
untuk orang-orang berdosa di bumi, kalau saja mereka percaya, Aku 
telah mati untuk membuat mereka sempurna.”
Sambil menatap ke dalam mataNya, saya diberi pengertian bahwa 
Dia menghendaki manusia percaya bahwa Dia, Yesus Kristus, 
telah mati supaya kita semua bisa menjadi sempurna. Dia berkata, 
“penyembuhan menanti semua orang di bumi. Akan datang harinya 
dimana akan terjadi badai mujizat dan penyembuhan di atas 
bumi.”
Yesus kembali melanjutkan: “AnakKu, sejauh matamu memandang,
ini semua adalah bagunan tempat perbekalan atau gudanggudang berkat.
Semua berkat di sini menunggu iman percaya 
manusia di bumi. Yang perlu mereka lakukan hanyalah percaya 
bahwa Aku  adalah Tuhan Yesus Kristus dan bahwa Aku sanggup 
melakukan semua ini. Hanya itu yang perlu mereka lakukan lalu 
mereka akan  menerima semua berkatKu ini. 
“Nanti, ketika engkau kembali ke bumi,” Dia menegaskan, 
“ingatlah, bahwa bukan dirimu yang akan menyembuhkan, bukan 
apa yang engkau gunakan, tetapi Aku. Ucapkan saja sabdaKu dan 
berdoa dan Aku akan melakukan penyembuhan. Percayalah bahwa 
Aku sanggup melakukan itu.”
Sampai di situ saya memekik kegirangan: “Glori, haleluyah. 
Terima kasih Yesusku.”
Kemudian Dia menurunkan tanganNya lalu tembok besar itu 
menutup dirinya lagi seperti semula. Lalu malaikat dan saya 
bergerak dengan kecepatan sangat tinggi  dan tiba di suatu tempat 
lain. 
Di sini pun saya masih mendengar sorak pujian kepada Allah. 
Malaikat itu berkata, “Anak, aku telah diperintahkan Tuhan untuk 
menunjukkan kepadamu beberapa hal. Sampaikan ini semua 
kepada manusia di bumi.”


DAHULU, SEKARANG, DAN NANTI
Sampai pada tahap ini malaikat Tuhan mulai menyingkapkan 
kepada saya hal-hal yang sebelumnya selalu saya pertanyakan. Dia 
mulai  membuka tabir sebuah misteri.
Dia berkata: “Allah telah berbicara kepadaku dan aku akan 
menunjukkan kepadamu tentang masa lalu, masa kini dan masa 
yang akan datang. Hal-hal yang akan kutunjukkan kepadamu 
akan membuat engkau kagum. Aku akan menunjukkan kepadamu 
apa yang terjadi ketika seseorang dilahirkan kembali (lahir baru). 
Aku akan tunjukkan kepadamu bagaimana caranya dosa manusia 
dihapuskan oleh darah Anak Domba Allah di ruangan-ruangan 
pencatatan itu. Aku akan tunjukkan apa yang terjadi ketika 
seseorang yang sudah lahir baru kemudian meninggal dunia lalu 
jiwanya datang ke sorga. Mari dan saksikan kemuliaan Allahmu.”
Dengan kecepatan sangat tinggi kami meninggalkan sorga dan 
kembali ke bumi.  Saya melihat bumi ini persis seperti dalam 
suatu penglihatan, lalu malaikat itu berkata, “Pandanglah dan 
pahamilah.”
Malaikat itu membawa penglihatan itu melewati saya. Saya lihat 
ada sebuah bangunan gereja kecil dan indah. Tapi saya tidak tahu 
tepatnya di bagian mana dari bumi ini gereja itu berada. Tapi itu 
benar-benar sebuah bangunan gereja, sepertinya di pedalaman. 
Dengan bantuan malaikat Allah, saya diperbolehkan mengintip ke 
dalam gedung itu. Di sana ada sekitar 30 orang duduk di bangku. 
Pendeta di mimbar sedang berkhotbah tentang perikop Yesaya 
55:6-7: “Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah 
kepada-Nya selama Ia dekat! Baiklah orang fasik meninggalkan 
jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah 
ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, 
dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan 
limpahnya.”
Sambil menatap pemandangan itu, muncullah seorang malaikat 
gagah perkasa dan berdiri di atas gereja itu. Malaikat penjagaku 
kemudian berkata: “Di setiap gedung gereja ditugaskan seorang 
malaikat besar. Malaikat besar ini mengepalai malaikat lainnya di 
gereja  itu.”


MALAIKAT-MALAIKAT DI GEREJA
Dua orang malaikat memegang kitab-kitab berdiri di pintu masuk 
gedung gereja. Saya melihat jemaat Tuhan masuk dan keluar gereja 
itu. Kemudian malaikat penjagaku memberikan isyarat dengan 
tangannya lalu tampak atap gedung gereja itu tergulung sehingga 
saya bisa melihat ke dalamnya.
Di sisi kiri dan kanan pendeta yang tengah berdiri di mimbar itu 
berdiri pula dua malaikat Tuhan. Di belakang dua malaikat itu ada 
dua malaikat lagi sedang berdiri. Jadi, mimbar itu dijaga empat 
malaikat Tuhan.
Di bagian belakang berdiri dua malaikat lagi yang menjaga jemaat 
yang tengah beribadah. Dua malaikat lagi berdiri agak jauh di 
luar, sementara di dekat altar berdiri dua malaikat lagi. Jadi ada 
cukup banyak malaikat Tuhan di gereja dan beberapa dari mereka 
memegang gulungan kitab beserta pulpen di tangannya. Lalu 
malaikat penjagaku berkata,” Sekarang akan aku tunjukkan apa 
yang akan terjadi.”
Pendeta mulai berbicara dan para kolektan mulai mengedarkan 
kantong persembahan. Ketika persembahan diberikan, para 
malaikat merekam sikap hati orang-orang yang memberikan 
persembahan. Mereka menulis isi pikiran dari setiap orang yang 
memberikan persembahan—apakah ada yang memberi untuk 
pekerjaan Tuhan sambil menggerutu, atau apakah ada yang 
memberi dengan bersukacita karena meyakini bahwa hal itu bagian 
dari ibadahnya. Semua itu dicatat oleh para malaikat di dalam 
kitab-kitab mereka. 
Kemudian dua malaikat besar yang berdiri di depan mimbar 
menganggukkan kepala kepada malaikat lainnya. Tapi walau semua 
kejadian ini tak dapat dilihat oleh jemaat yang tengah beribadah di 
situ, saya dapat menyaksikan semuanya secara jelas. 
Malaikat penjagaku kemudian berkata: “Aku akan menunjukkan 
kepadamu sesuatu yang lain lagi. Perhatikanlah dengan seksama 
maka engkau akan diberkati.”
Tiba-tiba saya merasakan diri saya telah dipindahkan berada di 
belakang pendeta itu. Ketika pendeta itu berbicara tentang
ayat keenam, “Carilah TUHAN sementara Ia berkenan ditemui.
Berserulah  kepadaNya selagi Ia dekat,” saya tiba-tiba melihat
sekelompok  makhluk sorgawi (serafim) di dalam gereja itu.
Sepanjang kebaktian  itu para malaikat itu bersorak-sorak. 
Pendeta itu diurapi sementara dia menyampaikan firman. Satu 
dari malaikat itu mencurahkan sesuatu yang bentuknya seperti api 
ke atas kepala pendeta itu. Kemuliaan Allah tampak mengalir keluar 
dari mulut pengkhotbah itu.
Di bagian belakang gereja itu pintu terbuka dan seorang yang 
sangat mabuk berjalan sempoyongan masuk. Rupanya dia datang 
dari pulau kecil di seberang sana. Dia berkata: “Akulah salah satu 
dari yang sedang kalian bicarakan, pak pendeta. Aku membutuhkan  
Tuhan. Aku perlu diselamatkan, sebab aku ini pemabuk.” 
Dia berlutut di depan altar dan mulai menangis kepada Allah. 
Dua orang diaken maju ke mimbar dan melayani orang ini. Sambil 
menumpangkan tangan ke atasnya, mereka bertanya: “Apakah 
saudara bersungguh hati dengan Tuhan? Apakah saudara sungguh 
mau diselamatkan?”
“Ya, saya mau diselamatkan,” jawab orang itu. “Saya pemabuk. 
Saya rindu dilepaskan dari adiksi ini.”


KETIKA SATU JIWA DISELAMATKAN
Tiba-tiba muncul dua malaikat lagi. Mereka membawa gulungan 
kitab di tangan dan mulai mencatat kata-kata si pemabuk 
itu. Kemudian diaken mulai membimbing dia dalam prosesi 
pertobatan.
Saya melihat si pemabuk itu penuh dengan dosa. Tapi ketika 
diaken mulai berdoa untuknya, satu dari malaikat itu mulai 
menyentuh hati orang ini, lalu asap hitam tebal bagai kabut berisi 
hujan lebat meluap keluar dari dada orang itu.
Saya langsung teringat firman Allah tentang dosa yang meluap 
keluar dari hati:
“Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari
perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan
halhal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat.” (Matius 12:35)
“Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah 
yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran 
jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah 
palsu dan hujat.” (Matius 15: 18-19)
Orang ini mulai berdoa kepada Allah dengan tangan yang 
terangkat. Saya melihat tubuhnya dililit pita-pita hitam yang lebar. 
Dia dibelenggu segala macam dosa, tapi yang paling besar adalah 
pita dosa adiksi alkohol dan mabuk-mabukan.
Seorang diaken berkata kepadanya: “Saudara harus mengaku 
semua dosa ini kepada Allah agar Dia memberimu pengampunan, 
agar saudara dapat dibasuh oleh darah Anak Domba.”
Ketika dia mulai mengakui semua dosanya, seorang malaikat 
menyentuh dia. Saya melihat api keluar dari tangan malaikat itu. 
Semua  tali pengikat itu terbakar dan terlepas dari diri orang itu.
Ini memberi dia kelegaan yang luar biasa. Dia mulai mengangkat 
tangan dan memuji Tuhan. Dia berdiri dan saya melihat kemuliaan 
Allah turun ke atasnya. Saya tahu Tuhan telah menghibur dia 
karena dia mulai bersorak memuji Tuhan.
Kemudian dua malaikat besar itu saling pandang lalu
menganggukkan kepala. Mereka menghampiri kami
dan berkata, “Mari  dan  saksikanlah kemuliaan Allah.”


KEMBALI KE RUANG DOKUMENTASI
Dalam kecepatan sangat tinggi, kami terbang balik ke sorga 
bersama dua malaikat besar itu. Setelah masuk melalui gerbang, 
kami berjalan menuruni sebuah jalanan indah yang beralaskan 
emas. Dalam sekejap kami tiba di sebuah ruangan yang sangat 
indah.
“Mari dan saksikan apa yang kami kerjakan di sini,” ujar 
malaikat pendampingku. Koridor panjang tempat kami berada itu 
tersambung ke ruangan-ruangan lain yang sama seperti ruangan 
yang telah kami masuki. 
Malaikat itu berkata: “Ada banyak ruangan seperti ini di sorga. 
Ini dinamakan ruangan tempat menyimpan catatan. Engkau akan 
melihat apa yang terjadi di dalam ruangan-ruangan ini.”
Malaikat itu berkata lagi: “Kita akan masuk ke ruangan dimana 
disimpan nama dari orang yang baru saja bertobat itu.” Di dalam 
ruangan itu saya melihat para malaikat datang dari bumi dan 
menyerahkan laporan yang ditulis di gulungan kitab kepada 
seorang malaikat lain.
Ada beberapa tangga yang disandarkan di tembok di dalam 
ruangan yang berbentuk persegi empat. Ada rak-rak menempel di 
tembok-tembok ruangan itu, dan di sana ada banyak kitab, sama 
seperti perpustakaan di bumi.
Malaikat-malaikat lain berbaris di depan meja besar sambil 
memuji-muji Allah. Ukuran meja itu kira-kira 8 kaki kali 4 kaki. 
Di tengahnya ada papan emas berbentuk persegi empat dan meja 
itu seluruhnya terbuat dari emas murni. Sangat indah meja itu 
karena ada ukiran berbentuk buah-buahan dan dedaunan di 
permukaannya.
Ini meja paling indah yang pernah saya lihat. Belum pernah saya 
lihat meja seperti itu atau gambarnya sekalipun di bumi. Saya 
diliputi kekuasaan dan kemuliaan Allah yang memenuhi ruangan 
itu.
Malaikat-malaikat sedang turun-naik di tangga itu. Mereka sibuk 
menarik buku-buku dari rak-rak itu kemudian mengembalikan ke 
tempatnya semula. Beberapa malaikat lain sedang berdiri di dekat 
situ sambil membawa laporan-laporan dari berbagai belahan bumi.
Saya perhatikan buku-buku di tembok itu dan ternyata ada 
yang berbeda-beda warnanya. Kemudian, saya melihat dua dari  
malaikat-malaikat yang tadi berada di gereja itu berdiri di satu 
baris sambil memegang sebuah buku yang telah diambil dari rak 
itu. Buku itu berisi catatan kehidupan dari si pemabuk yang sudah 
bertobat itu.
Malaikat penjagaku berkata: “Apakah kamu melihat dua malaikat 
yang tadi berada di gereja itu?”
“Ya,” jawab saya.
“Kamu melihat buku yang mereka bawa?” 
“Ya,” jawab saya.
“Itulah buku yang mencatat seluruh kehidupan orang yang baru 
bertobat itu. Mereka mengambilnya dari rak itu. Sekarang mereka  
mesti pergi ke kepala malaikat di sini.”
Malaikat penjagaku menjelaskan bahwa di setiap ruangan
pencatatan ada seorang melaikat yang menjadi kepala. Segala sesuatu 
yang  terjadi di sini mesti melalui malaikat kepala itu. Ini semua 
berjalan begitu rapi untuk memuliakan Allah. Saya terpesona 
menyaksikan semua kejadian itu. Malaikat kepala mengenakan 
jubah yang berkilauan. Saya tak sanggup menggambarkan
keagungannya. Rambutnya seperti emas yang berkilauan, jubahnya 
putih dan bertabur emas. Malaikat luar biasa ini memiliki rentang 
sayap berukuran 12 kaki. Dia malaikat paling indah yang pernah 
saya lihat. Dan dia penjaga utama di ruangan itu.
Dia menatap saya dan memberi isyarat agar saya pergi berdiri di 
sisinya. Kuasa Allah memindahkan saya dan dalam sekejap saya 
sudah berdiri di sisi kanan malaikat indah itu. Dia berkata: “Engkau 
diijinkan berada di sini supaya kami dapat menunjukkan kepadamu 
apa yang terjadi ketika seseorang dilahirkan kembali di bumi. 
Engkau harus menceriterakan ini kepada orang-orang di bumi.”
Kejadian yang ajaib ini menggetarkan saya dan tak dapat 
dilukiskan secara tepat dengan kata-kata.


MEKANISME PENYIMPANAN ARSIP
Sambil menatap ke depan, gemuruh pujian kepada Allah naik dari 
berbagai penjuru. Saya mendengar lonceng berdentang, walau tak 
tahu dimana lonceng itu berada. Penuh kegembiraan, gelak tawa 
dan sukacita, para malaikat yang berbahagia itu berdiri memegang 
kitab-kitab sambil menunggu giliran untuk melapor kepada
malaikat kepala pencatat. Saya mulai memuliakan Allah lagi untuk 
semua kejadian ajaib yang saya saksikan di situ.
“Apakah kamu melihat dua malaikat di depan meja itu?” tanya 
malaikat penjaga saya. “Ya,” jawabku. “Mereka hadir di sana ketika 
orang itu dilahirkan kembali.”
Malaikat itu menarik secarik kertas pesan dari gulungan kitabnya, 
persis seperti  marker penanda bacaan. Saya tak dapat melihat 
apa yang tertulis di secarik kertas itu maupun gulungan kitab 
itu. Kemudian, sambil menyodorkannya kepada saya, malaikat 
berkata: “Lihatlah apa yang tertulis di sini.” Catatan itu rapi ditulis 
dan tampak sangat bagus. Saya lihat di situ tertulis nama negara, 
nama negara bagian, nama provinsi, nama  kota, dan nama gereja. 
Malaikat itu menunjukkan kepada saya nama pendeta di gereja itu 
dan jumlah jemaat di dalam gereja. Dia menunjukkan pula susunan 
organisasi gereja. Semua data itu lengkap tercatat di situ. Dia 
tunjukkan juga nama orang-orang yang menghadiri kebaktian dan 
rincian  dari persembahan (kolekte) yang mereka kumpulkan.
Nama orang yang lahir baru tadi juga ada di situ. Begitu pula 
pesan-pesan Injil Tuhan Yesus yang diberitakan sampai jiwa ini 
bertobat tercacat lengkap. Lebih rinci lagi, jam, menit dan detik 
ketika orang itu bertobat dan lahir baru dicatat secara lengkap di 
dokumen itu. Saya langsung memekik: “Terpujilah Allahku.”
Ketika membaca sampai pada bagian dimana orang itu mengaku 
dosa dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat,  
malaikat penjagaku berkata kepada dua malaikat itu: “Apakah 
benar kamu berdua adalah saksi bahwa orang ini telah lahir baru 
pada jam yang disebutkan di sini?”
Mereka menjawab: “Ya, benar, kamilah saksinya. Kami berada 
di sana ketika dia menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan  
Juruselamat. Kami benar menyaksikan itu terjadi.” 
Langsung saja timbul gemuruh besar karena para malaikat 
bersorak-sorak dan memekik kegirangan memuji dan memuliakan 
Allah. Seluruh sorga dipenuhi sorak-sorai itu. Lalu, malaikat itu 
menulis sesuatu di dalam kitab itu kemudian menutupnya. Buku 
tersebut sangat tebal. Dia berkata kepada saya:  “Perhatikanlah di 
belakangmu.” Saya lihat di sana sejumlah besar orang,
yaitu jiwajiwa yang sudah ditebus berjubah putih bersih berbaris dalam 
kemegahan.


DARAH YESUS
Para kudus itu sedang memuji Allah Yang Mahatinggi dengan 
lagu ini:
Oh, nothing but the blood of Jesus can wash my sins away.
Oh, nothing but the blood of Jesus can make me whole today.
Oh, nothing but the blood of Jesus can cleanse me today.
I’ve been redeemed by the blood of the Lamb.
[Oh, hanya darah Yesus yang dapat menghapus dosaku.
Oh, hanya darah Yesus yang dapat membuat aku utuh kini.
Oh, hanya darah Yesus yang dapat membersihkan aku kini.
Aku telah ditebus oleh darah Anak Domba].
Sambil memandang ke situ saya melihat kitab orang itu diserahkan 
kepada salah satu dari para kudus yang tengah bersorak kegirangan. 
Halaman demi halaman semua tulisan yang lama di kitab itu dicuci 
bersih. Mereka mengangkat halaman-halaman itu satu  demi satu. 
Dan saya lihat setiap halaman benar-benar sudah dicuci dalam 
darah Yesus. Tak ada satu pun dosa orang itu yang tertinggal di 
dalam kitabnya. Ini penggenapan nats Alkitab: “Aku, Akulah Dia 
yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, 
dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu.” (Yesaya 43:25)  
Saya berucap: “Oh Tuhanku, betapa indahnya bahwa sabdaMu 
tetaplah relevan. Sebab semua dosa orang itu sudah terhapus dalam  
darah Anak Domba.”
Sambil menatap kejadian itu, saya melihat buku tersebut 
diserahkan kepada seorang malaikat lain. Malaikat yang satu ini 
rambutnya panjang dan sangat indah rupanya. Buku itu diletakkan 
di atas baki yang dipegang malaikat tersebut. Para malaikat itu 
saling memberi hormat dalam acara serah-terima buku itu dan 
langsung saja sorak pujian membahana lagi memenuhi sorga.
Malaikat penjagaku berkata: “Mari dan saksikan kemuliaan 
Allahmu.” Saya mulai meluncur sangat cepat bersama dia melewati  
lorong-lorong di sorga.


KITAB KEHIDUPAN ANAK DOMBA
Saya berdiri lagi di depan takhta Allah. Umat yang disayang 
Tuhan…, di situ saya mendengar bunyi sangkakala, saya mendengar 
tiupan terompet bagai membelah ruangan. Awan kemuliaan, 
kemuliaan Shekinah, menerangi seluruh kawasan di sekitar takhta 
itu. Bunyi guntur bergemuruh dahsyat dan halilintar sambar-menyambar.
Dan saya mendengar suara sejumlah besar orang 
kudus memuji Allah, katanya: “Glori bagi Allah, Halleluyah!”
Saya memandang panorama dahsyat ini dan melihat malaikat 
meletakkan kitab itu di atas altar Allah lalu membungkukkan 
badan sambil menyembah. Lalu, suara Allah membahana amat 
keras membelah udara. Tapi saya mengerti setiap kata yang Allah 
ucapkan.
Allah berkata: “Satu jiwa lagi telah ditebus oleh darah AnakKu. 
Satu orang lagi telah menerima keselamatan melalui darah 
AnakKu.”
Lonceng sorga bersahut-sahutan menyambut pengumuman itu. 
Semua penduduk sorga bertempik-sorak dan memekik kegirangan. 
Saya menundukkan badan lalu menyembah sambil memuji Allah.
Saya melihat Kitab Kehidupan Anak Domba (Wahyu 21:27) 
berada di atas altar Allah. Dan tampak di sana satu tangan terulur 
keluar dari awan kemuliaan itu lalu membuka kitab tersebut. Lalu 
di sana saya melihat nama orang yang bertobat itu ditulis di dalam 
Kitab Kehidupan  itu. Glori bagi Allah.
Para kudus di bumi, dengar…! Nama kita semua juga ditulis di 
sana, di Kitab Kehidupan Anak Domba Allah.
Sambil memandang panorama menakjubkan ini, malaikat Tuhan 
berkata: “Mari dan saksikan kemuliaan Allahmu.” 
Dalam kecepatan sangat tinggi saya dibawa keluar. Tapi ketika itu 
pun saya sempat mengingat nats dalam Yesaya 45:3-4:
“Aku akan memberikan kepadamu harta benda yang terpendam 
dan harta kekayaan yang tersembunyi, supaya engkau tahu, bahwa 
Akulah TUHAN, Allah Israel, yang memanggil engkau dengan 
namamu. Oleh karena hamba-Ku Yakub dan Israel, pilihan-Ku, 
maka Aku memanggil engkau dengan namamu, menggelari engkau, 
sekalipun engkau tidak mengenal Aku.”


SUNGAI KEHIDUPAN
Kemudian, sambil memandangi panorama itu, Tuhan membawa 
semua orang kudusNya melintasi Sungai Kehidupan. Sungai itu 
mengalir keluar dari takhta Allah dan Anak Domba (Wahyu 22:
1). Ketika para kudusNya melewati sungai itu, mereka menyanyi: 
“Glori  bagi Allah kita.”
Kemudian saya melihat sejumlah besar orang kudus yang tak 
terhitung banyaknya, mengenakan jubah putih yang sangat bersih, 
sangat indah yang belum pernah dilihat oleh mata manusia. Persis 
seperti yang Yohanes beritakan dalam Wahyu 7:13-14:
“Dan seorang dari antara tua-tua itu berkata kepadaku: ‘Siapakah 
mereka yang memakai jubah putih itu dan dari manakah mereka 
datang?’ Maka kataku kepadanya: ‘Tuanku, tuan mengetahuinya.’ 
Lalu ia berkata kepadaku: ‘Mereka ini adalah orang-orang yang 
keluar dari kesusahan yang besar; dan mereka telah mencuci jubah 
mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba.’”


KEMBALI KE TAKHTA ALLAH
Sekali lagi saya dibolehkan masuk dan berdiri di depan takhta 
Allah. Saya sangat terkagum-kagum memandang kemuliaanNya. 
Bunyi terompet kudus terus menggelegar membuat saya berdiri 
terpukau diliputi kedahsyatan kuasaNya. Tak ada bahasa yang 
dapat saya pakai untuk menggambarkan secara tepat kekaguman 
saya menyaksikan kedahsyatan itu.
Ada 12 malaikat berdiri melayani di depan takhta Allah. Mereka 
mengenakan pakaian gemerlapan yang tak bisa saya ungkapkan 
dengan bahasa manusia. Yang bisa saya katakan ialah bahwa pada 
bagian dadanya terdapat permata yang menyatu dengan pakaian itu. 
Di atas kepala mereka terdapat semacam bahan sorgawi
berwarna-warni sementara tepian jubah panjang yang mereka pakai
 adalah emas.
Gema terompet itu memanggil para kudus untuk tampil satu 
per satu dan berdiri di depan takhta Allah. Ada sejumlah orang 
kudus, malaikat dan makhluk sorgawi lainnya yang tak terhitung 
banyaknya berkerumun di situ. Semuanya sedang memuji-muni 
dan memuliakan Allah.


ORANG-ORANG YANG SUDAH DITEBUS
Orang-orang kudus yang ditebus dari segala zaman sungguh 
tampak indah dan mulia. Mereka adalah manusia sebenarnya dan 
bukan awan yang mengapung di udara. Sejauh mata memandang, 
saya tetap melihat malaikat yang sedang bersorak memuji Allah 
tanpa  hentinya. Dan sambil berdiri di sana, di depan takhta Allah, 
saya mendengar suatu suara besar berkata:
“Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan 
diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi
umatNya dan Ia akan menjadi Allah mereka.” (Wahyu 21:3)
Kemudian saya saksikan awan kemuliaan yang diselimuti 
halilintar yang sambar-menyambar dan diiringi bunyi guruh yang 
dahsyat dan juga suara-suara. Lalu, saya melihat tangan Allah 
terulur keluar dari awan kemuliaan itu lalu menyapu airmata dari 
para kudusNya.  Firman Allah berkata, Allah akan menyapu airmata 
dari mata mereka.
Saya mendengar suara yang berkata:  “Ia akan menghapus segala 
air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan 
ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala 
sesuatu yang lama itu telah berlalu.” (Wahyu 21:4-5)
Kemudian, Dia yang duduk di atas takhta itu berkata: “Lihatlah, 
Aku menjadikan segala sesuatu baru!” Dan firman-Nya lagi: 
“Tuliskanlah, karena segala perkataan ini adalah tepat dan benar.”
Lalu, Allah berkata kepada para kudus yang berkumpul di situ: 
“Aku ketahui bahwa nama kamu semua tercatat di dalam Kitab 
Kehidupan Anak Domba. Karena itu, selamat datang di dalam 
sukacita Allahmu.”
Benar sungguh, firman Tuhan tergenapi. “Maka kata tuannya itu 
kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan 
setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan 
kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah 
dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” (Matius 25:21).
Dengan itu Tuhan menempatkan mahkota-mahkota kemuliaan di 
atas kepala para kudus yang diurapiNya. Saya tahu bahwa anugerah 
Allah akan terus mengalir bagi semua yang sudah ditebus. Saya 
tahu anugerah ini mengalir dengan tidak berkesudahan.


SIMFONI YANG INDAH
Saya percaya Yesus Kristus menyingkapkan sorga kepada saya 
agar memberikan saya keseimbangan. Dia tahu bahwa sebelumnya 
saya telah berhari-hari dibawaNya ke dalam alam maut yang begitu 
mengerikan sehingga Dia perlu mengimbanginya dengan cara  
membawa saya ke sorga.
Malaikat Tuhan berkata: “Mari dan saksikan kemuliaan Allahmu.” 
Perawakan malaikat itu tinggi dan parasnya sangat elok. Sayapnya 
yang berwarna seperti pelangi berbentuk segitiga. Dia katakan 
bahwa Allah telah memberinya instruksi untuk memperlihatkan 
sebagian dari sorga kepada saya.
Kami naik tinggi di angkasa dan masuk melalui gerbang utama 
sorga. Di sana saya melihat ada banyak pohon berbuah lebat dengan 
buah yang sangat indah. Saya juga melihat ada keluarga-keluarga 
mengenakan jubah yang anggun sedang berjalan naik-turun bukit 
sambil memuji Allah. Musik sangat indah memenuhi tempat itu. 
Musik dan nyanyian di sorga adalah ungkapan rasa kebahagiaan 
yang  amat sangat. Itulah bukti ada damai dan sukacita besar di 
sorga.
Saya sudah menyaksikan paduan-paduan suara dan
kelompok-kelompok musik yang bernyanyi di bumi.
Tapi, para kudus Allah, 
tak satu pun di bumi ini yang dapat dibandingkan dengan keindahan 
dan keanggunan musik yang saya dengar di sorga.
Sorga itu setiap saat penuh dengan simfoni yang sangat indah. 
Bayangkan, kalau Anda bisa. Jutaa suara sempurna bernyanyi 
merdu diiringi alunan musik sempurna di sorga. Tak pernah 
terdengar walau hanya satu suara atau bunyi yang fals. Musik dan 
suara di sorga  adalah simponi yang sangat amat sempurna.
Ada alat-alat musik bertali, ada alat musik tiup seperti terompet 
dan banyak lagi yang lain yang mengiringi nyanyian di sorga. 
Perpaduan musik sempurna itu berbaur mengiringi suara para 
kudus bernyanyi dalam luapan sukacita yang tak terhingga. Semua 
suara dan bunyi musik di sana dibuat sempurna oleh kuasa Allah.
Sangat menyenangkan mendengar simponi sempurna itu yangt 
memuji-muji Allah tiada hentinya. Suara orang yang kalau di 
bumi  kedengaran fals atau tak cocok dengan irama band di bumi 
akan sempurna di sorga. Di sana kita semua akan bersukacita. 
Kumpulkan 10.000 orang dalam satu paduan suara di bumi 
dan dengarkan mereka bernyanyi. Ini tidak ada apa-apanya bila 
dibandingkan dengan paduan suara dan musik yang melantunkan 
simponi indah di kota abadi Allah. Gelombang demi gelombang 
nada dan irama pujian naik memenuhi panorama dan membahana 
melintasi semua jalan raya di sorga. Begitu indah dan menakjubkan 
sampai saya tak dapat  berpikir tentang lain hal ketika mendengar 
musik di sorga.
Kemudian, malaikat itu berkata lagi, “Mari dan saksikan 
kemuliaan Allahmu.”
Saya ingat kami berjalan melewati suatu tempat yang sangat 
subur dan hijau seperti yang tak pernah dibayangkan manusia. 
Ada kumpulan-kumpulan bunga di sejumlah bagian rumput itu. 
Kembang-kembang itu cantik-cantik dan menyerupai bunga rose di 
bumi. Setiap pohon kembang memiliki paling sedikit satu kuntum 
yang sedang mekar. Para kudus, kembang-kembang itu indahnya 
sama  dengan nyanyian di sorga.


KUDA MULIA DI SORGA
Sambil berjalan bersama malaikat itu, saya melihat
ada kuda-kuda putih yang elok. Saya teringat nats Alkitab
tentang kuda-kuda 
dan bagaimana Yesus menunggangi sebuah kuda putih dalam 
memimpin balatentara sorga.
“Lalu aku melihat sorga terbuka: sesungguhnya, ada seekor kuda 
putih; dan Ia yang menungganginya bernama: “Yang Setia dan Yang 
Benar”, Ia menghakimi dan berperang dengan adil.
“Dan mata-Nya bagaikan nyala api dan di atas kepala-Nya 
terdapat banyak mahkota dan pada-Nya ada tertulis suatu nama 
yang tidak diketahui seorangpun, kecuali Ia sendiri. 
“Dan Ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah dan 
nama-Nya ialah: “Firman Allah.” 
“Dan semua pasukan yang di sorga mengikuti Dia; mereka 
menunggang kuda putih dan memakai lenan halus yang putih 
bersih.” (Wahyu 19:11-14)
Kuda-kuda ini tampak begitu agung, dan seperti patung-patung 
besar yang dipisahkan dari batu pijakannya, tetapi kuda-kuda itu 
kuda  sungguhan dan hidup pula. Telapak kakinya besar, warna 
kuda-kuda itu putih bersih dan sangat agung. Seorang perempuan 
yang memakai jubah indah  tersenyum sambil berbicara kepada 
kuda-kudat itu. Dia memberikan petunjuk agar kuda-kuda itu 
berlutut memuji Allah. Semua hewan suci itu serempak menekukkan 
lutut kanannya lalu memuji Allah dengan bahasa sorga.
Alangkah indahnya, pikirku. Saya teringat ketika membaca
ayat-ayat Alkitab tentang hal ini, bahwa semua makhluk di bumi dan di 
sorga akan menyembah Allah.
“Demi Aku sendiri Aku telah bersumpah, dari mulut-Ku telah 
keluar kebenaran, suatu firman yang tidak dapat ditarik kembali: 
dan semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku, dan akan 
bersumpah setia dalam segala bahasa...” (Yesaya  45:23)
“Karena ada tertulis: ‘Demi Aku hidup, demikianlah firman 
Tuhan, semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku dan semua 
orang akan memuliakan Allah.’” (Roma 14:11)
“Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan
kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam 
nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di 
atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: 
‘Yesus Kristus adalah Tuhan,’ bagi kemuliaan Allah, Bapa.” (Filipi 
2:9-11)
“Dan aku mendengar semua makhluk yang di sorga dan yang di 
bumi dan yang di bawah bumi dan yang di laut dan semua yang ada 
di dalamnya, berkata: ‘Bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi 
Anak Domba, adalah puji-pujian dan hormat dan kemuliaan dan 
kuasa sampai selama-lamanya!’” (Wahyu 5:13)
Damai, sukacita dan kebahagiaan bertebaran di semua penjuru 
sorga. Semua orang memuji dan memuji Allah setiap saat. Tiba-tiba 
malaikat penjagaku itu menghilang. Dan di sisiku Yesus berdiri. 
PerawakanNya sangat tinggi, dan Dia memakai jubah yang sangat 
lain dari semua jubah yang saya lihat disana.
Sorotan mataNya yang menembusi segala sesuatu tampak begitu 
anggun. Bentuk jenggotNya sangat rapi dan rambutNya lebat. 
Saya membayangkan wajahNya, kelembutan yang terpancar dari 
wajahNya tidak dapat diceritakan dengan bahasa apa pun. Sangat 
ganteng Dia, membuat saya terkagum-kagum.
Mendadak saya merasa sepertinya seluruh bagian tubuhku ingin 
membungkuk untuk menyembah Dia, Raja Segala Raja dan Tuhan 
Segala Tuan—Yesus Kristus namaNya. Kemuliaan dan kekuasaan 
memancar keluar ke sekeliling tubuhNya.


GUDANG KESEMBUHAN
Tiba-tiba saya lihat mata Tuhan Yesus sepertinya memantulkan 
kesedihan. 
Saya bertanya: “Yesus, ada apa?”
“AnakKu, tengoklah,” jawabNya.
Dia melambaikan tanganNya ke arah sebuah gedung dan tampak 
terbuka pintunya. Dari pintu itu, kemuliaan dan kekuasaan mengalir 
keluar bagai arus yang deras.
Saya lalu bertanya lagi: “Yesus, ini apa lagi?”
“AnakKu,” jawabNya, adakah engkau melihat penyembuhan di 
dalam gudang-gudang ini?”
“Ya, saya lihat, Tuhan.”
“Semua penyembuhan ini sedang menantikan umat Allah,” jawab 
Yesus.
Betapa banyaknya penderitaan di dalam hidup kita di bumi. Ada 
penyakit, ketidak-sempurnaan fisik, kecacatan tubuh, dan banyak 
lagi penderitaan yang dialami manusia.
Anda dapat melihatnya dimana-mana. Cobalah pergi ke rumah 
sakit dan lihat di bangsal tempat perawatan mereka yang menderita 
penyakit menular, penyakit gangguan mental, unit gawat darurat, 
dan tempat lain yang melayani banyak orang yang menderita secara 
fisik dan mental.
Penyakit adalah akibat dari jatuhnya Adam dan Hawa ke dalam 
dosa di Taman Eden dahulu kala. Penyakit adalah salah satu 
turunan daripada dosa. Ada orang yang menganggap penyakit 
sebagai rintangan, tragedi manusia, atau mungkin bagian normal 
dari hidup manusia. Padahal, penyakit adalah kutukan yang 
dilakukan oleh Iblis.


PENYEMBUHAN DI SORGA
Betapa manusia memerlukan penyembuhan. Sebab penyakit 
adalah korupsi terhadap kehendak Allah. Penyakit merupakan 
elemen tak wajar dari hukum ekonomi Allah. Penyakit tidak berasal 
dari Allah, tidak datang dari sorga. Sebab dosa berasal dari si jahat, 
bukan dari sumber yang baik.
Ketika kita sampai di sorga, semua penyakit dan penderitaan 
langsung lenyap selama-lamanya. Paulus menulis hal ini ketika ia 
berbicara tentang pemulihan tubuh kita secara sempurna:
“Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak 
dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan 
kepada kita. 
“Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat 
anak-anak Allah dinyatakan.” (Roma 8:18-19)
Tapi, penderitaan fisik yang terberat di bumi ini tak ada apa-apanya
bila dibanding dengan kesenangan dan kemuliaan 
menakjubkan yang akan kita alami di sorga. Di sorga tubuh kita 
menjadi sempurna dan kita akan bersandar pada Kristus, karena 
itu tidak akan ada lagi penderitaan fisik. Tapi walau masih di bumi, 
Dia mau kita disembuhkan, sekarang.
Salah satu nama Allah di dalam Alkitab adalah Jehovah-Rapha, 
yang berarti “Tuhan, Penyembuh Kita.” Allah membuat perjanjian 
khusus dengan umatNya ketika Ia berjanji kepada bangsa Israel: 
“Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan suara TUHAN, 
Allahmu, dan melakukan apa yang benar di mata-Nya, dan 
memasang telingamu kepada perintah-perintah-Nya dan tetap 
mengikuti segala ketetapan-Nya, maka Aku tidak akan menimpakan 
kepadamu penyakit manapun, yang telah Kutimpakan kepada 
orang Mesir; sebab Aku Tuhanlah yang menyembuhkan engkau.” 
(Keluaran 15:26)
Kendati penyakit adalah kutuk dosa, Yesus telah mengangkat 
kutuk itu melalui karya penebusaan dosa. Luka-luka dan
bilur-bilur yang diderita Kristus membayar harga untuk menebus dosa. 
Dia menjadi Juruselamat kita. Tapi penderitaan Kristus lebih 
dari sekadar  menebus dosa kita. PenderitaanNya membuat Dia 
diresmikan sebagai Penyembuh kita. 
“Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia 
diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran
yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh 
bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.” (Yesaya 53:5)
“Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu 
salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk 
kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.” (I Petrus 2:
24)


MINTA YESUS UNTUK MENYEMBUHKAN
Misi penyembuhan Tuhan Yesus tidak berhenti ketika Dia 
terangkat ke sorga. Kisah Para Rasul adalah kelanjutan dari semua 
yang  telah dimulai Yesus (Kisah Rasul 1:1)
Yesus memberi teladan untuk misi penyembuhan di bumi dan 
mengajarkan bahwa penyembuhan adalah bagian dari kerajaanNya. 
Sebelum kembali kepada Bapa, Yesus memberi perintah kepada 
orang percaya untuk pergi dan menyembuhkan orang sakit. 
Dia berkata: “Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang 
yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi namaKu,
mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi 
mereka;  mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka 
minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka 
akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan 
sembuh.” (Markus 16-17-18)
Yesus juga berpesan kepada kita dalam Yohanes 14:13-15:
“... dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan 
melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. 
“Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku 
akan melakukannya. 
“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala 
perintah-Ku.” 
Setelah beberapa saat, Yesus tidak lagi saya temukan di situ. 
Malaikat penjaga kembali berdiri di sisi saya dan berjalan bersama 
saya di antara gudang-gudang itu. “Betapa banyaknya gudang ini, 
Tuhan,” saya berkata dalam hati.
Yesus berbicara ke dalam rohku: “AnakKu, ketika engkau berdoa 
buat seseorang di bumi, berdoalah dengan memakai namaKu. 
Ingat, bukan engkau yang melakukan penyembuhan, tetapi Aku 
yang melakukannya. Mintalah Aku untuk mencelikkan mata 
yang buta atau menyembuhkan kaki yang timpang, dan Aku akan 
melakukannya. Mintalah Aku meluruskan rusuk yang bengkok 
atau menyembuhkan  tubuh yang sedang sakit, maka Aku akan 
menyembuhkan mereka. 
“Apa pun yang engkau mau Aku lakukan, mintalah itu di dalam 
namaKu maka Aku akan melaksanakannya. Sebab jawaban untuk 
semua persoalan itu sedang menunggu di dalam gudang-gudang 
ini, menunggu engkau memintanya.”
Yesus kembali menegaskan kepada saya bahwa berkat-berkat 
yang tersedia di dalam gudang-gudang itu memang diperuntukkan 
bagi umatNya, bagi orang-orang berdosa di bumi. Saya ingat Dia 
berkata bahwa dalam waktu dekat akan terjadi badai penyembuhan 
di atas bumi.
Saya kemudian berpikir tentang penyembuhan yang sedang 
terjadi di bumi, lalu berkata: “Tuhan, betapa baiknya Dikau 
menyembuhkan tubuh kami.”
Semakin usia kita bertambah, semakin lemah dan rusak tubuh 
kita. Itu adalah dampak alami dari dosa dan kita tak bisa bebas 
sepenuhnya dari dampak itu. Tapi Allah tidak berkehendak agar 
usia kita dihabiskan dalam penyakit sehingga tak dapat berbuat 
apa-apa. Allah menghendaki kita menjadi produktif dan aktif. 
Untuk itulah Yesus telah mati agar kita dipulihkan seutuhnhya.
Yesus Kristus, Anak Allah, mencurahkan darahNya agar kita 
terbebas dari naraka. Jika kita percaya bahwa Yesus Kristus adalah 
Anak Allah, maka kita memiliki pengharapan. Harapan bagi jiwa 
kita adalah di dalam Yesus.
Yesus Kristus telah menderita agar tubuh kita disembuhkan. Di 
dalam Yesus ada berkat, dan pengharapan dan kelebihan kita. Dia 
sajalah pengharapan untuk menyempurnakan tubuh jasmani kita.
Para kudus, di sorga ada gudang-gudang berkat yang belum kita 
klaim. Gudang-gudang berkat itu mesti diklaim oleh umat Allah 
yang  meminta dengan iman di dalam nama Yesus.
Ketika Dia masih di bumi, Dia pernah berkata: “Aku pergi untuk 
menyediakan tempat bagi kamu.” (Yohanes 14:2). Tempat yang Dia  
sediakan itu adanya di sorga. Tempat itu sangat indah dan segala 
sesuatu yang di sana itu indah. 
Ketika saya bersaksi dalam buku ini dan berbicara tentang sorga, 
ingatan tentang tempat itu membuat saya merinding. Terima kasih, 
Tuhan, untuk Firman yang begitu indah yang telah Dikau berikan 
kepada anak-anakMu.


 
KESIBUKAN DI SORGA
Sorga itu tempat yang amat ramai. Tempat itu padat dengan 
banyak sekali kegiatan dan kegembiraan. Malaikat-malaikat selalu 
tampak sedang mengerjakan sesuatu, sibuk dengan berbagai urusan 
yang mulia.
Salah satu tujuan buku ini ditulis adalah agar saya menceriterakan 
tentang apa yang dikerjakan para malaikat di sorga. Mereka selalu 
bergirang, tak pernah lelah, tak pernah murung, dan selalu memuji 
Allah.
Orang-orang kudus yang sudah ditebus juga selalu tampak sibuk 
di sorga. Ada saja kegiatan yang mereka kerjakan di sana. Seperti  
apa rincian pekerjaan mereka saya tidak tahu persis. Tapi yang jelas 
di tempat abadi itu tak ada orang yang nganggur. Para orang kudus 
mengerjakan pekerjaan yang tak pernah dialami di bumi. Mereka 
terlibat dalam kegiatan menstimulasi, menambah semarak dan 
melaksanakan tugas-tugas khusus. Selalu mereka memuji-muji 
Allah sambil menyelesaikan tugas yang diberikan Allah kepada 
mereka.
Ketika saya melihat malaikat-malaikat yang membawa laporan 
naik dari bumi, mereka itu ternyata datang dari berbagai belahan 
bumi. Mereka sebelumnya telah mengunjungi berbagai acara 
kebaktian dan perkumpulan doa.
Selalu saja mereka membawa kertas-kertas putih yang berbentuk 
gulungan bertepi emas. Dari bumi mereka terbang balik ke beberapa 
tempat di sorga dan menyerahkan laporan-laporan itu kepada 
malaikat lainnya untuk diarsipkan.


PENDUDUK SORGA
Di sebuah tempat di sorga saya melihat sejumlah laki-laki 
berjubah putih bersih dan sangat indah. Terkenang saya akan ayat  
firman Tuhan di dalam Yesaya 61:10 yang berbunyi: “Aku bersukaria 
di dalam TUHAN, jiwaku bersorak-sorai di dalam Allahku, sebab Ia 
mengenakan pakaian keselamatan kepadaku dan menyelubungi 
aku dengan jubah kebenaran, seperti pengantin laki-laki yang 
mengenakan perhiasan kepala dan seperti pengantin perempuan 
yang memakai perhiasannya.”
Orang-orang yang saya lihat itu memiliki ciri khas yang berbeda-beda
dan berasal dari berbagai bangsa di bumi seperti yang 
difirmankan dalam Wahyu 7:9: “Kemudian dari pada itu aku 
melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang 
tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan 
kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak 
Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di 
tangan mereka.”
Satu hal lain lagi yang membuat saya terpesona agak lama adalah 
bahwa sorga itu sebuah tempat yang sangat apik. Segala sesuatu 
yang dikerjakan di situ dikerjakan secara tuntas, sesuai aturan dan 
dengan derajat kesempurnaan yang sangat tinggi. Tak satu pun 
perkerjaan yang rendah mutunya, tak satu pun kegiatan yang tidak 
bermutu tampak di sana.
Pemandangan yang paling indah, mungkin, adalah ketika saya 
melihat sebuah keluarga yang berjalan di atas bukit kudus. Sukacita 
dan kegembiraan mereka begitu besar dan tak terlukiskan. Mereka 
tampak sibuk mengerjakan pekerjaan luar biasa di dalam hadirat 
Tuhan. 
Apa pun yang dikerjakan di situ, entah dikerjakan secara 
sendiri-sendiri atau secara bersama-sama, selalu terjadi dalam 
kesempurnaan. Sebab sorga itu tempat yang bebas dari cacat. 
Segala yang ada di situ sempurna dalam arti yang sesungguhnya. 
Kesenangan dan kebahagiaan yang sempurna terpancar keluar dari 
wajah, hati, dan jiwa setiap orang yang ada di sorga.


KETERATURAN SEMPURNA
Keagungan, keteraturan sempurna dan tujuan pasti mewarnai 
segala sesuatu yang terjadi di sorga. Setiap saat para malaikat 
dan orang-orang kudus terlibat dalam pelayanan penuh damai 
sejahtera sempurna. Tak seorang pun tidak bekerja di sorga. Tak 
seorang pun merasa bosan tinggal di sorga. Semua anak Allah, juga 
para malaikat dan semua makhluk sorgawi lainnya melayani Dia  
selama-lamanya.
Ketika kita menerima tubuh baru, yaitu tubuh sorgawi setelah 
kebangkitan orang-orang kudus, tak akan pernah lagi kita merasa 
letih atau lemah. Tak ada seorang pun yang lesu badan. Sebab tubuh 
mulia yang supra-natural itu tak dapat kehilangan kekuatannya. Di 
dalam kekekalan, waktu tidak berlaku dan pikiran, kehendak, dan 
tubuh kita tak akan dapat terganggu oleh situasi dan kondisi seperti 
di bumi.
Untuk melibatkan diri dalam pekerjaan dan sukacita di sorga, kita 
hanya bisa hadir di sana dengan tubuh sorgawi. Ini dimulai ketika 
seseorang dilahirkan kembali lalu ikut mengambil bagian di dalam 
bagian sorgawi seperti diuraikan dalam II Petrus 1:4: “Dengan jalan 
itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga 
dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil 
bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang 
membinasakan dunia.”
Arsitektur sorga dirancang dan dibangun di dalam kekekalan 
oleh Allah yang kekal. Di suatu tempat saya melihat semua deretan  
bangunan di dalam Kota Allah. Bangunan-bangunan itu sangat 
besar. Di atas setiap bangunan itu saya melihat mahkota yang 
teramat besar yang terbuat dari sangat banyak permata. Saya tidak 
tahu ada berapa banyak orang tinggal di dalam istana-istana megah 
itu karena saya tidak masuk ke dalamnya. Tapi semua bangunan itu 
tampak kokoh, lengang dan luas, jauh melampaui bangunan besar 
apa  pun yang ada di planet bumi.
Saya teringat firman Tuhan yang berkata jika kita bekerja keras di 
bumi untuk Yesus, kita sebetulnya sedang menabung harta di sorga  
(Lukas 18:22):
Lalu, dalam ingatanku muncul ayat-ayat firman Tuhan seperti 
berikut: 
“Dan kedua puluh empat tua-tua, yang duduk di hadapan Allah 
di atas takhta mereka, tersungkur dan menyembah Allah, sambil 
berkata: Kami mengucap syukur kepada-Mu, ya Tuhan, Allah, 
Yang Mahakuasa, yang ada dan yang sudah ada, karena Engkau 
telah memangku kuasa-Mu yang besar dan telah mulai memerintah 
sebagai raja dan semua bangsa telah marah, tetapi amarah-Mu telah 
datang dan saat bagi orang-orang mati untuk dihakimi dan untuk 
memberi upah kepada hamba-hamba-Mu, nabi-nabi dan
orang-orang kudus dan kepada mereka yang takut akan nama-Mu, kepada 
orang-orang kecil dan orang-orang besar dan untuk membinasakan 
barangsiapa yang membinasakan bumi.” (Wahyu 11:16-18)
“Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya,
upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek 
moyang mereka telah memperlakukan para nabi.” (Lukas 6:23)
“Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku 
untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya. 
(Wahyu 22:12)


KERETA ALLAH
Ketika kami beranjak pergi ke kawasan lain di sorga, malaikat 
pengawalku berkata lagi: “Mari dan saksikan kemuliaan Allahmu.”
Malaikat itu menunjukkan kepada saya kereta Allah.
Roda-roda kereta itu sangat besar sehingga saya tak tahu bagaimana 
mengukurnya dengan kata-kata. Roda-roda itu ditaburi permata 
dan berlian dan ruby dan zamrud.
Setiap kereta memiliki paling sedikit dua roda besar di setiap 
sisinya. Bagian depan kereta itu agak rendah dan terbuka. Semua 
kereta itu tampak diselubungi nyala api tapi tidak terbakar.
Kereta-kereta itu dikemudikan oleh para malaikat. Bentuk kereta itu sangat 
besar dan penuh dengan keagungan. Elia naik ke sorga dengan 
menggunakan kereta kuda. Tak perlu merasa heran mengapa kuda 
bisa berlari naik ke sorga. Apa yang mustahil dalam akal pikiran 
manusia itu tidak mustahil bagi Allah.


TUBUH MULIA
Badan  semua orang yang saya lihat di sorga itu mulia, sempurna,  
dan sangat serasi. Tak satu pun orang di sana memiliki keriput setitik 
pun. Semua orang itu sangat anggun dan tubuhnya memancarkan 
cahaya kemuliaan. Saya pernah mendengar orang berkata bahwa 
nanti di sorga tubuh kita hanya bagaikan gumpalan asap. Itu tidak 
benar. Tubuh kita akan mengenakan kodrat, bentuk dan sifat-sifat 
sorgawi.
Alkitab berkata para tua-tua ada di dekat takhta Allah: “Dan 
sekeliling takhta itu ada dua puluh empat takhta, dan di takhta-takhta itu
duduk dua puluh empat tua-tua, yang memakai pakaian 
putih dan mahkota emas di kepala mereka.” (Wahyu 4:4)
Para sesepuh di sorga adalah orang-orang kudus yang tampak 
begitu anggun, yaitu mereka yang telah mendahului kita. Allah telah 
memberikan kehidupan kekal kepada mereka. Tubuh yang mereka 
gunakan itu adalah tubuh mulia seperti yang akan diberikan kepada 
orang-orang yang akan dibangkitkan kelak. 
Dengar, umat Tuhan…, Anda akan sangat bahagia di sorga, lebih 
dari yang dapat Anda bayangkan saat ini. Ketika saya berada di  
sorga, kenangan tentang rumah saya di bumi nyaris tak terpikirkan. 
Sebab di sorga tidak ada kesedihan, tidak ada susah atau sengsara. 
Saya sendiri tenggelam dalam sukacita yang amat besar dan 
terpesona oleh keindahan Tuhan kita. Di sorga tidak ada kegelapan. 
Yang ada hanya sukacita, kuasa dan kedahsyatan Allah terpancar 
dari segala tempat, khususnya ketika kita mendekati takhta Allah. 
Tempat bagai lautan kaca itu terlalu indah untuk dilukiskan. 
“Lalu ia menunjukkan kepadaku air Sungai Kehidupan, yang 
jernih bagaikan kristal, dan mengalir ke luar dari takhta Allah dan 
takhta Anak Domba itu.” (Wahyu 22:1)
Lagi-lagi malaikat itu berkata “Mari dan saksikan kemuliaan 
Allahmu,” ketika saya beranjak pergi dari tempat itu.
Dengar, umat Tuhan…, saya dibawa dalam kecepatan yang sangat 
tinggi ke suatu tempat lain di sorga dimana sorak pujian dan alunan  
musik terdengar kian kencang. Itu musik mahaindah yang pernah 
didengar telinga manusia. Sorak dan teriakan sukacita membahana 
di  segala tempat. Kemudian malaikat itu berkata lagi: “Kini kita 
makin dekat ke takhta Allah.” Saya berucap: “Ya Tuhaaaan, betapa 
indahnya tempat  ini.”


KETIKA ALLAH BAPA BERBICARA
Sebelum Allah Bapa berbicara, tampak 12 malaikat besar dan 
tinggi—kira-kira 12-15 kaki tingginya—berdiri di depan takhtaNya 
sambil  meniup terompet.
Permata yang sangat indah menghiasi bagian depan jubah 
mereka. Dengan musik yang bergema ditambah suara mereka, dan 
semua yang mereka lakukan di situ, mereka tampak mendominasi 
suasana. Mereka sibuk melakukan persiapan sebelum Allah Bapa 
mulai berkata-kata.
Setiap kali Allah Bapa mengucapkan sepatah kata, saya melihat 
awan mulia menutupi takhta itu. Begitu pula ketika Yang Mahakuasa  
menyampaikan pesan-pesan.
Dan dari takhta itu keluar halilintar dan bunyi guruh yang dahsyat, 
dan tujuh obor menyala-nyala di hadapan takhta itu: itulah ketujuh 
Roh Allah. (Wahyu 4:5)
Kemudian kuasa Allah naik dari bagian depan takhta itu. Di tengah 
takhta itu Yang Mahakuasa berdiam di dalam awan kemuliaanNya.
Ketika Allah Bapa berbicara, suaraNya mengaum bagai desau 
air bah (Wahyu 14:2). Tapi saya mengerti setiap kata yang 
diucapkanNya. 
Suatu ketika Allah berbicara tentang darah AnakNya. Allah 
berkata bahwa darah AnakNya telah ditumpahkan bagi (penebusan 
dosa) semua manusia di bumi. Allah berkata bahwa hanya darah 
Yesus Kristus sajalah yang dapat menghapus dosa manusia (I 
Yohanes 1:7). 
“Dan barangsiapa yang mendengarnya, hendaklah ia berkata: 
54Wahyu Allah tentang Sorga Wahyu Allah tentang Sorga
‘Marilah!’ Dan barangsiapa yang haus, hendaklah ia datang, dan 
barangsiapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan 
dengan cuma-cuma!” (Wahyu 22:17 )
Allah katakan bahwa darah anakNya dicurahkan untuk menebus 
dosa laki-laki dan perempuan di bumi. Dia katakan bahwa harga 
yang paling mahal yang telah Dia bayar untuk menghapus dosa 
manusia adalah mengutus AnakNya sendiri untuk mati di kayu 
salib. 
“Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, 
yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya.” 
(Efesus 1:7)
“… di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan 
dosa.” (Kolose 1:14)
“… Yesus Kristus, Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari 
antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini. Bagi 
Dia, yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa 
kita oleh darah-Nya.” (Wahyu 1:5)
Saya gemetar, tapi sangat girang bisa mendengar suara Allah. 
Suara Allah Bapa itu bagai auman mahadahsyat, tapi sekaligus 
sangat menyenangkan dan saya mengerti setiap ucapanNya.
Saya terus berucap: Ya Allahku, betapa indahnya Dikau. Dikau 
telah menyediakan segala sesuatu. “Engkau ya Tuhan telah
menyediakan segala sesuatu untuk kami. Kami bahkan tak mampu 
memikirkan semua yang Engkau sediakan untuk orang-orang yang 
mengasihi Dikau (I Korintus 2:9).


SORGA ITU BENAR-BENAR ADA
Saya ingat ketika di sana saya berkata dalam hati: Sungguh, 
sorga itu benar-benar ada. Orang-orang yang saya lihat itu nyata. 
Malaikat-malaikat itu nyata. Semua yang indah-indah ini semua 
nyata. Dan suatu hari nanti saya akan datang lagi ke sini untuk terus 
melayani Tuhan.
Bagi saya, berbicara tentang Allah dan keindahanNya adalah 
sesuatu yang menyenangkan. Saya bersyukur dengan segenap 
hati kepadaNya karena mendapat kesempatan melayani Dia. Saya 
berterimakasih kepada Bapa karena Yesus Kristus menyelamatkan 
saya dari naraka. Saya bersyukur sebab saya dilahirkan kembali 
dan menjadi anak Sang Raja yang ditebus oleh darah Yesus. Saya  
bersyukur dan merasa sangat beruntung bahwa Yesus adalah 
Tuhan saya. Apabila Anda belum dilahirkan kembali, Anda perlu 
dibebaskan dari semua dosamu itu. Undanglah Yesus Kristus untuk 
masuk ke dalam hatimu agar Dia menyelamatkan jiwamu. 
Yakinlah bahwa Dia benar-benar Anak Allah. Percayalah bahwa 
Allah Bapa mengutus Dia ke dalam dunia, bahwa Dia dilahirkan 
melalui Perawan Maria dan bahwa Dia-lah Anak Allah Yang Kudus 
yang dikirim ke dunia untuk menebus dosa semua kita agar kita 
terluput dari naraka. Dan yang paling penting, Anda perlu yakin 
bahwa Yesus telah melakukan satu-satunya pengorbanan yang 
dapat menghapus dosamu  ketika Dia mati di kayu salib.


ANAK-ANAK DI SORGA
Ketika mengajar dahulu Yesus pernah berbicara tentang anak-anak.
“Biarkanlah anak-anak itu datang kepadaKu dan janganlah 
melarang mereka, karena yang seperti inilah yang empunya 
kerajaan sorga.” (Matius 19:14) 
Baca juga Matius 18:3-4: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya 
jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu 
tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa 
merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang 
terbesar dalam Kerajaan Sorga.”
Markus 10:15: Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa 
tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak 
akan masuk ke dalamnya.”
Markus 9:37: “Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini 
dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut 
Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus 
Aku.”
Yoel 1:3: “Ceritakanlah tentang itu kepada anak-anakmu, dan 
biarlah anak-anakmu menceritakannya kepada anak-anak mereka, 
dan anak-anak mereka kepada angkatan yang kemudian.”
Bagian sorga yang satu ini akan membuat banyak orang 
terperanjat. Saya tahu banyak orang tak bisa menerima hal ini, 
tapi saya tahu Allah sudah menyatakannya kepada saya ketika saya 
mengunjungi sorga. Saya didampingi malaikat besar yang sayapnya 
merupakan pelangi berbentuk segi tiga. Dia mengenakan pakaian 
putih berkilauan dan rambutnya berupa emas yang terurai lepas. 
Perawakannya anggun dan mulia. Cahaya kemuliaan dan kekuatan 
mengelilingi dia.
Dia berkata: “Mari dan lihat kemuliaan Allahmu. Allah telah 
bersabda bahwa saya harus menunjukkan tempat dimana
anak-anak berada dan apa yang terjadi ketika seorang anak meninggal 
dunia.” Perlu saya jelaskan bahwa ketika Tuhan membawa saya ke 
naraka, saya tidak melihat seorang anak pun di sana. Sepanjang 
ingatan saya, tidak tampak baik bayi maupun anak-anak kecil di 
dalam naraka.
Mungkin orang lain tidak bisa menerima ini, tapi ingin saya 
sampaikan apa yang diperlihatkan kepada saya oleh malaikat 
Tuhan ketika  di sorga khususnya tentang tempat berdiam anakanak.
Bersama malaikat itu saya terbang tinggi di angkasa sorga 
dan ketika berhenti, dia berkata, “Saya harus menunjukkan semua 
ini  kepadamu.”
Banyak hal terjadi ketika saya bersama malaikat itu tapi tidak 
semua dapat saya ingat sekarang, karena saya tidak diperkenankan 
Allah untuk  mengingat semua hal yang saya lihat. Banyak peristiwa 
terjadi selama perjalananku ke sorga yaitu hal-hal yang saya lihat 
tetapi otak saya dibikin untuk tidak boleh mengingat semuanya. 
Apa yang saya ceritakan di sini adalah hal-hal yang Allah ijinkan 
untuk saya ingat agar disampaikan kepada Anda  semua tentang 
sorga.
Daniel mengerti sepenuhnya tentang penglihatan dan mimpimimpinya.
Tapi ketika Tuhan membawa saya ke sorga, ada banyak  
peristiwa yang terjadi yang tidak diterangkan maknanya kepada 
saya. Saya hanya dibawa ke berbagai tempat di sorga. Dan tempat 
yang paling menakjubkan adalah tempat tinggal bayi-bayi dan 
anak-anak kecil.


BAYI-BAYI YANG KEGUGURAN
Malaikat Allah berkata: “Mari dan lihat.” Dia menggerakkan 
tangannya dan tampak di sana sebuah rumah sakit. Saya melihat 
ruang bersalin. Seorang perempuan seperti mau melahirkan. 
Malaikat berkata: “Dia keguguran. Bayi itu usianya baru tiga 
bulan.”
Saya menatap dengan teliti. Dua malaikat yang tampan mendekati 
tempat tidur perempuan itu. Mereka membawa sesuatu yang 
tampaknya seperti sebuah keranjang yang terbuat dari pualam 
putih dan mutiara. Sangat indah keranjang itu.
Malaikat itu terus memuji Allah. Saya mendengar itu jelas sekali. 
Ketika terjadi keguguran, roh bayi yang berusia tiga bulan itu, 
bagai  uap, naik dari janin tersebut. Malaikat menangkap roh itu 
lalu meletakkannya di dalam keranjang, kemudian menutup bagian 
atasnya. Malaikat-malaikat itu kemudian mengangkat tangan 
menunjuk ke sorga, lalu mereka bersorak nyanyikan pujian bagi 
Tuhan. Mereka  mengagungkan dan meninggikan Dia sebagai Raja 
Segala Raja dan Tuhan Segala Tuan, Pencipta segala yang ada di 
sorga dan di  bumi. Mereka berseru, “Kepada Allah beri pujian.”
Ketika dua malaikat itu naik melewati kami,  mereka berkata lagi: 
“Mari dan lihat.”
Kami berjalan kembali melalui pintu gerbang masuk ke dalam 
sorga. Ya Tuhan, inilah bagian yang sungguh paling indah di sorga. 
Belum pernah saya lihat tempat yang satu ini.
Saya ingat berjalan bersama malaikat-malaikat itu didampingi 
malaikat penunjuk jalan. Kami naik tinggi sekali dan saya bisa 
melihat lagi takhta Allah. Saya bisa mendengar lagi gemuruh sorak 
pujian. Sepertinya kami menuju takhta dari bagian sebelah kiri.
Ketika sampai di situ saya masih berucap: “Allahku, betapa 
indahnya Dikau. Betapa menakjubkan diriMu.” Dari segala penjuru 
sorak pujian tiada hentinya.
Panggilanku yang terutama adalah melalui mimpi, penglihatan 
dan pewahyuan. Kesaksianku adalah bahwa diri saya ini hanyalah 
seorang hamba sahaya di tangan Tuhan dan karena itu kerinduanku 
adalah menyampaikan cerita tentang anak-anak.
Betapa saya selalu ingat akan kemuliaan yang saya saksikan 
di sana serta puji-pujian yang memenuhi segala tempat. Saya 
masih ingat betul akan halilintar dan guntur yang bergemuruh 
serta pelangi di atas takhtaNya. Saya ingat bahwa di takhta itu 
ada sesosok tubuh  manusia, seperti seorang lelaki di dalam awan 
kemuliaan yang menutupi takhta itu.
Para malaikat meletakkan keranjang itu di atas takhta Allah 
kemudian membungkukkan badan untuk menyembah.
Sayap-sayapnya terangkat ke atas lalu sorak pujian berkumandang 
memenuhi sorga: “Glori, haleluyah, pujilah Allah.”
Tampak kami berada di sebuah arena yang amat luas. 
Malaikat-malaikat besar sedang meniup terompet bagai sedang 
mengumumkan  sesuatu.
Saya tak dapat melihat wajah Allah Bapa, tapi saya melihat 
sesuatu yang seperti dilihat Musa (Keluaran 33:17-23). Kemudian 
saya  melihat ada tangan yang terulur ke depan membuka keranjang 
tadi. Saya tahu itu tangan Bapa.
Umat Tuhan, dengar…, andai saja Anda pun berada di situ ketika 
itu, betapa bahagianya memandang kemuliaan Allah seperti yang 
Ia nyatakan kepada saya. Kuasa kehadiranNya sungguh amat 
menyilaukan, tapi sangat indah dan luar biasa.
Tangan itu keluar dari awan kemuliaan itu dan mengangkat jiwa 
bayi itu lalu mengeluarkannya kemudian meletakkannya di atas 
altar. Kemudian saya melihat tangan-tangan bekerja seperti sedang 
melakukan sesuatu terhadap jiwa bayi tersebut.
Setelah selesai pekerjaan itu, tampaklah sesosok tubuh manusia 
yang begitu bagus dan sempurna muncul di situ. Sosok bayi itu 
bertumbuh dan terus membesar sampai menjadi seorang pria yang 
sangat tampan seperti yang belum pernah saya lihat di bumi.


DALAM PEMELIHARAAN ALLAH
Sejauh mata memandang tak pernah saya lihat ada sesuatu 
yang cacat atau kurang sempurna di sorga. Ayat Alkitab tentang 
penciptaan Adam terbayang di benak saya. Allah melihat semuanya 
itu, sungguh sangat baik adanya. Segala sesuatu yang hilang di 
jaman Adam yang pertama dipulihkan oleh Adam yang kedua.
Saya percaya bahwa hanya pada tubuh Yesus dapat kita temukan 
sesuatu yang “cacat” di sorga, yaitu tangan dan kakiNya yang 
berbekas paku serta lambungNya yang dulu ditikam. Tanda-tanda 
ini tetap selama-lamanya sebagai bukti bahwa hanya Dia-lah yang 
telah membayar harga yang begitu mahal untuk menebus dosa-dosa 
manusia.
Kemudian saya melihat sesuatu yang menurut hemat saya 
merupakan bagian atas dari kepala Allah Bapa—bentuknya seperti 
wol. (Wahyu 1:14). Suatu transformasi yang dahsyat terjadi ketika 
Allah menghembuskan nafas ke dalam bayi itu lalu ia bertumbuh 
menjadi manusia sempurna.
Sambil menyaksikan semua ini, lenyaplah semua pertanyaan 
yang sebelumnya selalu menyelimuti saya tentang apa yang 
terjadi  terhadap bayi yang mengalami aborsi. Sekarang saya sudah 
mengerti bahwa bayi seperti itu ternyata hidup di sorga dan menjadi 
ciptaan sempurna di dalam pemeliharaan Allah Bapa.
Setelah itu malaikat pengawal membawa saya naik tinggi 
melintasi sisi sebuah tempat di sorga. Tampak di sana banyak 
pohon rindang dan banyak buah-buahan yang sangat bagus. Ada 
banyak kembang dari berbagai jenis dan varitas. Saya lihat juga 
banyak unggas beterbangan, beberapa dari burung-burung itu tak 
pernah saya lihat di bumi. Indahnya pemandangan itu tak mungkin 
bisa dilukiskan dengan  bahasa manusia.
Kami naik terus ke suatu tempat lain. Gemuruh sorak pujian 
terdengar di sana. Seorang malaikat sangat besar yang mengenakan 
jubah putih berdiri di sisi gerbang. Dia berdiri di belakang sebuah 
meja. Dia membuka sebuah kitab emas dan memberikannya kepada 
seorang malaikat lain. Malaikat tersebut kemudian membuka kitab 
itu lalu berkas-berkas cahaya yang sangat cemerlang terpancar 
keluar dari kitab tersebut, layaknya percikan cahaya jutaan kembang 
api yang memancar secara bersamaan.
Kemudian saya melihat para orangtua dan banyak orang lain 
secara individu bergerak ke segala arah mendekati orang-orang 
tertentu. Mereka bersorak-sorak dan melompat-lompat. Saya tidak 
mengerti apa yang sedang terjadi.
Malaikat pengawalku berkata: “Orang-orang ini mengenali sanak 
keluarga mereka di sini.” Semua orang yang ketika di bumi putus 
anggota badannya, atau yang lumpuh, atau meninggal prematur 
sekarang menjadi manusia sempurna, menjadi manusia seutuhnya 
di sorga. Di sorga Anda akan mengenal semua orang. Anda akan 
kenal Abraham, Isak, Yakub. Anda akan kenal Musa dan semua 
nabi lain. Anda juga akan kenal semua murid Tuhan Yesus seperti 
yang diceritakan di dalam Perjanjian Baru. Setiap orang di sorga 
mengenal setiap orang di sorga. Anda akan mengenal mereka sama 
seperti Allah mengenalmu (I Korintus 13:12). Pengetahuanmu akan 
sangat luas ketika berada di sorga.
Malaikat pengawal berkata lagi: “Mari, kamu akan masuk 
melalui gerbang ini.” Inilah gerbang yang paling indah yang saya 
lihat di sorga. Tampak bagai gerbang sebuah taman yang berlapis 
kayu tapi gerbangnya sendiri terbuat dari pualam putih bersih 
yang diselubungi bunga-bunga cantik. Kami masuk ke dalam 
dan menyaksikan reuni berbagai keluarga yang tengah bersorak 
gembira—keluarga besar Allah.



REUNI DI SORGA
Raja Daud paham betul bahwa ketika bayi-bayi dilahirkan secara 
prematur lalu meninggal, jiwanya pergi ke sorga sambil menunggu 
sanak familinya yang beriman datang ke situ di kemudian hari. 
Ketika bayinya sendiri yang lahir di luar nikah melalui Betsyeba 
meninggal, Daud secara tulus bertobat dari dosa perzinahannya 
dan kemudian menyadari Allah telah memberi dia pengampunan 
(Mazmur 32:5).
Oleh karena Daud menemukan damai sejahtera dalam keyakinannya
bahwa ia akan tinggal di sorga bersama Allah (Mazmur 
23:6) dan akan berjumpa dengan bayinya itu (II Samuel 12:23) 
maka ia dapat menghibur Betsyeba yang tengah berduka. 
Baca II Samuel  12:13-24: “Lalu berkatalah Daud kepada Natan: 
‘Aku sudah berdosa kepada TUHAN.’ Dan Natan berkata kepada 
Daud: ‘TUHAN telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan 
mati. Walaupun demikian, karena engkau dengan perbuatan ini 
telah sangat menista TUHAN, pastilah anak yang lahir bagimu itu 
akan mati.’ 
“Kemudian pergilah Natan ke rumahnya. Dan TUHAN menulahi 
anak yang dilahirkan bekas isteri Uria bagi Daud, sehingga sakit. 
“Lalu Daud memohon kepada Allah oleh karena anak itu, ia 
berpuasa dengan tekun dan apabila ia masuk ke dalam,
semalam-malaman itu ia berbaring di tanah. 
“Maka datanglah kepadanya para tua-tua yang di rumahnya 
untuk meminta ia bangun dari lantai, tetapi ia tidak mau; juga ia 
tidak makan bersama-sama dengan mereka. 
“Pada hari yang ketujuh matilah anak itu. Dan pegawai-pegawai 
Daud takut memberitahukan kepadanya, bahwa anak itu sudah 
mati. Sebab mereka berkata: Ketika anak itu masih hidup, kita 
telah berbicara kepadanya, tetapi ia tidak menghiraukan perkataan 
kita. Bagaimana kita dapat mengatakan kepadanya: anak itu sudah 
mati? Jangan-jangan ia mencelakakan diri! 
“Ketika Daud melihat, bahwa pegawai-pegawainya berbisik-bisik, 
mengertilah ia, bahwa anak itu sudah mati. Lalu Daud bertanya 
kepada pegawai-pegawainya: Sudah matikah anak itu? Jawab 
mereka: Sudah. 
“Lalu Daud bangun dari lantai, ia mandi dan berurap dan bertukar 
pakaian; ia masuk ke dalam rumah TUHAN dan sujud menyembah. 
Sesudah itu pulanglah ia ke rumahnya, dan atas permintaannya 
dihidangkan kepadanya roti, lalu ia makan. 
“Berkatalah pegawai-pegawainya kepadanya: Apakah artinya 
hal yang kauperbuat ini? Oleh karena anak yang masih hidup itu, 
engkau berpuasa dan menangis, tetapi sesudah anak itu mati, 
engkau bangun dan makan! 
“Jawabnya: Selagi anak itu hidup, aku berpuasa dan menangis, 
karena pikirku, siapa tahu TUHAN mengasihani aku, sehingga anak 
itu tetap hidup. 
“Tetapi sekarang ia sudah mati, mengapa aku harus berpuasa? 
Dapatkah aku mengembalikannya lagi? Aku yang akan pergi 
kepadanya, tetapi ia tidak akan kembali kepadaku. 
“Kemudian Daud menghibur hati Batsyeba, isterinya ...”
Malaikat Tuhan berkata kepada saya: 
“Mulai sejak terjadi pembuahan di dalam kandungan, setiap bayi 
merupakan jiwa yang kekal. Apabila seorang bayi diaborsi atau 
keguguran, Allah mengetahui itu. Allah menugaskan
malaikat-malaikat untuk memelihara bayi itu. 
“Kami membawa jiwa-jiwa kecil itu ke sorga kemudian Allah 
membuat mereka menjadi ciptaan sempurna, tidak peduli apakah  
bayi itu diaborsi atau meninggal secara alamiah. 
“Tangan Allah yang Mahakuasa itulah yang membentuk mereka 
menjadi ciptaan sempurna. “Apabila orangtua dari para bayi itu 
hidup benar di dalam Yesus Kristus, maka ketika mereka datang ke 
sorga mereka akan dipertemukan dengan dan mengenali anak-anak 
mereka. Mereka akan berjumpa di pintu gerbang kebahagiaan.”


MALAIKAT PENGAWAL
Saya bersyukur kepada Allah karena mendapat kesempatan 
menulis buku ini. Semua kenangan ini membara di dalam hati 
saya setiap saat. Memang banyak orang menyuruh saya menulis 
semua ini. Dalam setiap kesempatan mengunjungi gereja-gereja, 
saya berceritera tentang perjalanan saya ke sorga dan juga ke alam 
maut.
Saya mau membagikan beberapa pengalaman lain yang saya 
alami di sorga karena saya rindu Anda memahami betul bahwa 
sorga itu benar-benar ada. Dan yakinlah, bahwa apabila Anda telah 
kehilangan seorang anggota keluarga atau orang yang dicintai, dia 
akan menemui Anda di pintu gerbang kebahagiaan. Saya ringu 
Anda mengerti betul hal ini, sebab kita memiliki harapan yang pasti 
di dalam Yesus yang telah pergi untuk menyediakan tempat bagi 
kita. 
Semua malaikat yang saya lihat di sorga itu besar dan kuat-kuat. 
Mereka memakai jubah yang bersinar-sinar secara luar biasa. 
Mereka sangat kuat tapi juga tulus dan pikiran mereka selalu 
tertuju pada Allah. Malaikat-malaikat yang berdisi di pintu-pintu 
gerbang adalah malaikat penjaga yang memegang pedang terhunus. 
Setiap kali saya melihat pedang mereka, saya selalu berucap: Glori 
haleluya, Allah benar-benar menjaga anak-anakNya. 
Alkitab banyak berbicara tentang malaikat. Ironisnya, sering kita 
mengabaikan hal yang satu ini yang sudah berulang kali dinyatakan 
oleh Firman Allah. Baru setelah terjadi pewahyuan, kita mendapat 
lebih banyak penjelasan tentang topik ini. 
Mari kita simak beberapa pernyataan Alkitab tentang malaikat:
“… sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya 
kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu. Mereka 
akan menatang engkau di atas tangannya, supaya kakimu jangan 
terantuk kepada batu. (Mazmur 91:11-12)
“TUHAN, yang di hadapan-Nya aku hidup, akan mengutus 
malaikat-Nya menyertai engkau, dan akan membuat perjalananmu 
berhasil, sehingga engkau akan mengambil bagi anakku seorang 
isteri dari kaumku dan dari rumah ayahku.” (Kejadian 24:40)
“Dan aku melihat seorang malaikat lain yang kuat turun dari 
sorga, berselubungkan awan, dan pelangi ada di atas kepalanya dan 
mukanya sama seperti matahari, dan kakinya bagaikan tiang api.” 
(Wahyu 10:1)
“Kemudian dari pada itu aku melihat seorang malaikat lain turun 
dari sorga. Ia mempunyai kekuasaan besar dan bumi menjadi 
terang oleh kemuliaannya.” (Wahyu 18:1)
“Sebab apabila orang bangkit dari antara orang mati, orang tidak 
kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di 
sorga.” (Markus 12:25)
“Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri
kepadaNya untuk memberi kekuatan kepada-Nya.” (Lukas 22:43)
“Bukankah mereka semua adalah roh-roh yang melayani, 
yang diutus untuk melayani mereka yang harus memperoleh 
keselamatan?” (Ibrani 1:14)
“Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada 
malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.” 
(Lukas 15:10)
Saya merenungkan betapa sabdaNya terbukti dalam berbagai 
kesempatan. Dan setiap kali Tuhan memberikan pewahyuan kepada 
seseorang, makna sabdaNya semakin tersingkapkan. Di dalam 
Firman Allah masih ada banyak rujukan lain tentang malaikat. 
“Pujilah TUHAN, hai malaikat-malaikat-Nya,
hai pahlawan-pahlawan perkasa yang melaksanakan firman-Nya
dengan mendengarkan suara firman-Nya.” (Mazmur 103:20)
“Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut 
akan Dia, lalu meluputkan mereka.” (Mazmur 34:7)
“Maka terjadilah gempa bumi yang hebat sebab seorang 
malaikat Tuhan turun dari langit dan datang ke batu itu dan 
menggulingkannya lalu duduk di atasnya. Wajahnya bagaikan kilat 
dan pakaiannya putih bagaikan salju.” (Matius 28:2-3)
Yesus sendiri juga berbicara tentang bagaimana manusia dibawa 
pergi ke sorga oleh malaikat. “Kemudian matilah orang miskin itu, 
lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham.” (Lukas 
16:22)
Saya teringat ketika masuk melalui gerbang sorga. Dengar, umat 
Tuhan…, tak pernah saya dapat melukiskan secara tepat betapa 
besarnya damai sejahtera dan sukacita yang ada di sana. Nyanyian, 
pujian dan sembah dan sukacita yang begitu besar. Saya yakin tak 
seorang pun di bumi dapat menggambarkannya secara tepat karena 
bumi belum pernah merasakan seperti apa sukacita yang ada di 
sorga itu. Sejak Taman Eden, bumi belum pernah mengalami damai 
sejahtera dan sukacita seperti yang ada di sorga.
Tak ada yang namanya penyakit di sorga. Tak ada kursi roda di 
sana. Tak ada orang yang memiliki kelemahan jasmani di sana. 
Semua orang sempurna dan sangat cantik dan ganteng. Korupsi 
juga tentu tak ada di sana. Di sorga tidak ada tipu daya dan 
kebohongan. Tidak ada dosa karena Allah tidak mengijinkan dosa 
apa pun mendekati sorga.


PENYEMBAHAN DI DEPAN TAKHTA
Dalam kecepatan sangat tinggi malaikat pengawal membawa saya 
pergi lagi melintasi kawasan pepohonan rindang yang berbuah 
lebat di tepi Sungai Kehidupan. Tampak setiap pohon di situ penuh 
buah yang sangat bagus.
Sambil berjalan, saya merasa seperti menjadi bagian dari irama 
musik yang sedang berkumandang. Di sorga, setiap saat terdengar 
irama musik dan selalu saja ada musik-musik dan nyanyian baru. 
Saya mendengar alunan musik berkesinambungan memuji Allah.
Malaikat berkata: “Kita akan berjalan di depan takhta untuk 
menyaksikan penyembahan kepada Allah.”
Di sepanjang jalan saya lihat orang-orang berdatangan dari 
berbagai penjuru sorga. Mereka katakan mereka datang untuk 
memuji “Raja  Segala Raja dan Tuhan Segala Tuan.”
Awalnya jumlah mereka beberapa ratus. Kemudian bertambahn 
menjadi beberapa ribu. Setelah itu membludak tak terhitung 
banyaknya. Kami berada di sebuah tempat yang diceriterakan oleh 
Rasul Yohanes dalam Wahyu 4:2-5, 10-11:
“Segera aku dikuasai oleh Roh dan lihatlah, sebuah takhta terdiri 
di sorga, dan di takhta itu duduk Seorang. 
“Dan Dia yang duduk di takhta itu nampaknya bagaikan permata 
yaspis dan permata sardis; dan suatu pelangi melingkungi takhta 
itu gilang-gemilang bagaikan zamrud rupanya. 
“Dan sekeliling takhta itu ada dua puluh empat takhta, dan di 
takhta-takhta itu duduk dua puluh empat tua-tua, yang memakai 
pakaian putih dan mahkota emas di kepala mereka. 
“Dan dari takhta itu keluar kilat dan bunyi guruh yang menderu, 
dan tujuh obor menyala-nyala di hadapan takhta itu: itulah ketujuh 
Roh Allah. 
“Maka tersungkurlah kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan 
Dia yang duduk di atas takhta itu, dan mereka menyembah Dia 
yang hidup sampai selama-lamanya. Dan mereka melemparkan 
mahkotanya di hadapan takhta itu, sambil berkata: Ya Tuhan dan 
Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan 
kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh 
karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.”
Tampak di depan sana ada awan kemuliaan Allah yang bergerak 
masuk dan keluar dari takhta. Bentuknya seperti ledakan bom atom 
yang berbentuk cendawan. Tapi setiap berkas awan kemuliaan itu 
berwarna-warni sangat menakjubkan.
Sebentuk pelangi kemuliaan yang bersinar-sinar menudungi takhta itu.
Dari situ keluar kuasa Allah yang amat dahsyat dan tak dapat 
saya temukan ungkapan yang pas untuk menggambarkannya. Saya 
tahu persis bahwa sosok yang tampak di dalam awan kemuliaan itu  
adalah representasi Allah Bapa. 
Ribuan tahun silam Allah menjadikan manusia menurut 
gambarNya: “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut 
gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki 
dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” (Kejadian  1:27)
Allah benar-benar mengambil tanah dari bumi ini dan
membuatnya menjadi seorang manusia. Coba bayangkan kehadiran 
Allah ketika  itu.
“… ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari 
debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; 
demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.” (Kejadian 
2:7)
“Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada 
burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi 
baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan 
dia.” (Kejadian 2:20) 
Karena Adam sendirian, Allah membuatnya tertidur lelap. 
Allah membuka bagian samping tubuhnya lalu mencopot satu 
dari tulang rusuk Adam lalu dengan ini Ia menciptakan Hawa, 
yaitu pendamping dan teman Adam semasa hidupnya, yang juga 
diciptakanNya sesuai dengan gambarNya (Kejadian 1:27). 
Bayangkan betapa mulianya manusia diciptakan menurut gambar 
Allah!


PERSIAPAN BAGI SANG RAJA
Penyembahan di depan takhta itu menyaksikan betapa indah 
dan kudus Allah kita. Ketika kami tiba di tengah kerumunan orang  
banyak itu, saya melihat banyak malaikat berbaur di tengah orang 
banyak itu. Walau sangat besar jumlah orang di situ, suasananya 
tetap tertib. Para kudus dan malaikat terus menyembah dan memuji 
Allah. 
Sungai Kehidupan yang mengalir keluar dari takhta itu bagai 
lautan kaca yang begitu bening dan kristal yang sangat indah. Tapi 
kaca itu mengalir karena tempat itu benar-benar sungai.
Saya lihat orang-orang kudus, juga kuda-kuda putih dan berbadan 
besar dan sangat anggun. Kuda-kuda ini tubuhnya seperti terbuat 
dari pualam yang tak bercacat sedikit pun. Di atas punggung
kuda-kuda ini terdapat selimut putih yang sangat rapi jahitannya dan 
pinggirannya dilapisi emas murni. 
Di mulut mereka tampak tali kekang yang terbuat dari emas. 
Mereka mengenakan perhiasan sangat indah di kaki dan di ekor. 
Kuda-kuda ini berridi tegap dan bersiap-siaga di depan takhta 
Allah.
Saya lihat ada 12 malaikat berdiri di depan takhta sambil 
membawa terompet dan nafiri yang tergantung di pinggang. Mereka 
mengenakan pakaian emas yang cahayanya mengalir keluar dan 
jubah-jubah itu bertabur batu-batu mulia.
Tiba-tiba muncul berbagai jenis alat musik yang tak pernah 
dibayangkan oleh pikiran manusia. Banyak pula harpa terlihat di 
sana. Betapa indahnya tempat itu. Saya memperhatikan secara 
cermat siapa yang berada di tengah peralatan musik itu. “Oh, 
Allahku. Segala kemuliaan bagiNya. Haleluya.”


SERUAN PENYEMBAHAN
Dengar, umat Tuhan..., Roh Kudus menunjukkan kepada saya 
sesuatu secara amat jelas. Seorang perempuan berada di tengah 
kuda-kuda itu. Ia berdiri terdiam. Para malaikat di depan takhta 
Allah, masing-masing mangangkat terompet dan nafiri lalu  
membunyikannya. Bunyi suara alat musik itu sungguh luar biasa 
indahnya mengiringi sorak pujian, lalu terdengar suara:
“Sekarang telah tiba saatnya untuk memberikan pujian syukur 
tertinggi, menyembah Dia dalam nyanyian dan tarian, menyembah 
Dia dengan musik, menyembah Dia karena kebaikanNya. Dia 
sajalah Allah. Dialah Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala 
tuan.  Dia itu Penebus dosa semua umat manusia.”
Pengumuman itu disambut dengan tiupan terompet dan sangkakala.
Kemudian malaikat yang sedang membacakan pengumuman 
dari gulungan kitab itu berhenti dan sebuah tanda lain diberikan. 
Kuda-kuda yang mulia itu membungkukkan badan lalu berlutut. 
Kepala mereka serempak menunduk rapi dalam barisan sebagai 
penghormatan kepada Allah.
“… supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di 
langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi.” 
(Filipi 2:10)
“Dan aku mendengar semua makhluk yang di sorga dan yang di 
bumi dan yang di bawah bumi dan yang di laut dan semua yang ada 
di dalamnya, berkata: ‘Bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi 
Anak Domba, adalah puji-pujian dan hormat dan kemuliaan dan 
kuasa sampai selama-lamanya!’” (Wahyu 5:13)
Kuda-kuda itu kemudian bangun lalu berlari berjingkrak-jingkrak 
di hadapan Tuhan. Mereka mengeluarkan semua kemampuan 
untuk memuliakan dan menyembah Allah. Betapa aku rindu Anda 
juga menyaksikan semua ini. Dan Allah sungguh senang melihat 
penyembahan itu.


MOTIVASI UNTUK MEMUJI ALLAH
Umat Tuhan, dengar..., saya yakin banyak di antara kita tidak 
menyadari sepenuhnya betapa Allah menyukai puji-pujian yang 
kita naikkan. 
Kita patut memuji Allah, bukan karena telah terlepas dari semua 
kesusahan, melainkan karena kita memang mencintai Dia. Ketika 
kita menyembah Dia, kita tidak melakukan itu untuk kepentingan 
kita. 
Ketika kita memuji Dia karena segala peristiwa luar biasa yang 
telah Ia kerjakan di dalam hidup kita, sebetulnya kita mengalihkan 
fokus kita dari diri sendiri kepada Allah. 
Dalam proses penyembahan barulah kita boleh menyadari 
bahwa Dialah satu-satunya Pribadi yang sanggup mengatasi semua 
masalah yang kita hadapi dan karena itu kita mempercayakan 
solusinya kepada Dia. Jadi, sebetulnya kita sangat beruntung dapat 
memuji dan menyembah Tuhan.
Melihat gegap gempitanya kuda-kuda itu menyembah Tuhan, 
semua pemain musik di sorga turut memainkan alat musiknya. 
Sejumlah besar penyanyi mendendangkan lagu pujian. Gemuruh 
sorak pujian membahana lagi diiringi dentangan lonceng
bersahut-sahutan di seantero sorga. Berjam-jam suasana meriah itu terjadi  
dan semua tertuju pada Allah.
Betapa indahnya saya mendengarnya dan betapa bahagia hati 
saya ketika berada di tengah akolade pujian itu. Di sana, di tengah  
resonansi pujian itu ingatan tentang planet bumi ini seperti lenyap 
ditelan sukacita sorgawi. Kesusahan dan masalah sirna, kengerian 
tentang alam maut menghilang.



TUGAS YANG ALLAH BERIKAN 
Saya menyadari bahwa Allah mempunyai suatu maksud yang 
harus saya kerjakan. Malaikat Allah menyentuh saya dan seketika 
itu juga tubuh saya kembali dikuatkan. 
Dia berkata: “Anak, Allah membolehkan engkau melihat semua 
ini agar engkau mengingat dan merekam semua ini. Wahyu 
dan penglihatan dan mimpi diberikan kepadamu agar engkau 
memberitahukan kepada manusia di bumi tentang “segala sesuatu 
yang telah Allah sediakan bagi mereka ... yang mengasihi Dia dan 
melaksanakan perintah-perintahNya .” (I Korintus  2:9, Ulangan 7:
9).
Kemudian, umat Tuhan, dengar..., saya mendengar suara Allah. 
Mendengar suaraNya saja saya sudah diliputi sukacita yang luar 
biasa. Bunyi suara Allah Bapa itu bagaikan gemuruh guntur, tapi 
saya mengerti kata-kataNya. 
Begitu mendengar suaraNya, saya langsung rebah dan bersujud, 
menyembah dan memuji Sang Raja Segala Raja dan Tuhan Segala 
Tuan.


KITAB SUCI MENGAMINI
Ketika saya kembali ke planet bumi dan merenungkan semua 
peristiwa dahsyat yang telah Allah tunjukkan, saya memeriksa 
Kitab Suci. Anehnya, di setiap lembar Alkitab, saya seperti sedang 
membaca sesuatu tentang sorga dan kebesaran Allah. Beberapa 
ayat yang saya temukan adalah:
“Hanya Engkau adalah TUHAN! Engkau telah menjadikan langit, 
ya langit segala langit dengan segala bala tentaranya, dan bumi 
dengan segala yang ada di atasnya, dan laut dengan segala yang ada 
di dalamnya. Engkau memberi hidup kepada semuanya itu dan bala 
tentara langit sujud menyembah kepada-Mu.” (Nehemia 9:6)
“Bukankah Allah bersemayam di langit yang tinggi? Lihatlah 
bintang-bintang yang tertinggi, betapa tingginya!” 
“Awan meliputi Dia, sehingga Ia tidak dapat melihat; Ia berjalanjalan
sepanjang lingkaran langit!” (Ayub 22:12, 14)
“… sebab Ia telah memandang dari ketinggian-Nya yang kudus, 
TUHAN memandang dari sorga ke bumi…” (Mazmur 102:19)
“TUHAN sudah menegakkan takhta-Nya di sorga dan
kerajaanNya berkuasa atas segala sesuatu.” (Mazmur 103:19)
“Biarlah semuanya memuji-muji TUHAN, sebab hanya nama-Nya 
saja yang tinggi luhur, keagungan-Nya mengatasi bumi dan langit.” 
(Mazmur 148:13)
“Tetapi kamu sudah datang ke Bukit Sion, ke kota Allah yang 
hidup, Yerusalem sorgawi dan kepada beribu-ribu malaikat, suatu 
kumpulan yang meriah…” (Ibrani 12:22)
 

              
MAKHLUK-MAKHLUK  SORGAWI
Ini kisah nyata tentang apa yang terjadi pada saya. Malaikat 
Tuhan datang lagi dan berkata kepada saya: “Saksikanlah kebesaran  
Allahmu.”
Dengan cepat dia membawa saya lagi ke sorga melalui salah 
satu gerbang indah itu. Setiap gerbang itu terbuat dari mutiara 
tulen berhiaskan dekorasi amat cantik. Keindahan sorga itu tidak 
bisa diceritakan sepenuhnya. Kami berjalan melewati Sungai 
Kehidupan. 
Di sepanjang tepi sungai itu saya mendengar sorak pujian tak 
henti-hentinya. Sekali lagi saya dibawa ke depan takhta Allah yang 
seperti dikisahkan dalam kitab Wahyu. Luar biasa gemuruh pujian 
dan penyembahan di situ.
Umat Tuhan..., takhta Allah yang saya lihat itu sama persis dengan 
apa yang dikatakan Alkitab.
“Dan dari takhta itu keluar kilat dan bunyi guruh yang menderu, 
dan tujuh obor menyala-nyala di hadapan takhta itu: itulah ketujuh 
Roh Allah. 
“Dan di hadapan takhta itu ada lautan kaca bagaikan kristal; di 
tengah-tengah takhta itu dan di sekelilingnya ada empat makhluk 
penuh dengan mata, di sebelah muka dan di sebelah belakang.” 
(Wahyu 4:5-6)
Sambil menyaksikan itu, saya mendengar paduan suara malaikat 
bergemuruh di sekeliling takhta itu. Malaikat-malaikat itu tak 
terhitung banyaknya. Lalu, saya melihat makhluk-makhluk sorgawi 
lainnya dan juga para tua-tua. Ada empat makhluk lain dan 24 tuatua,
sama persis dengan yang ditulis di dalam Alkitab:
“Maka aku melihat dan mendengar suara banyak malaikat
sekeliling takhta, makhluk-makhluk dan tua-tua itu; jumlah mereka 
berlaksa-laksa dan beribu-ribu laksa…” (Wahyu 5:11)
“Dan semua malaikat berdiri mengelilingi takhta dan tua-tua dan 
keempat makhluk itu; mereka tersungkur di hadapan takhta itu dan 
menyembah Allah…” (Wahyu 7:11).


SERAFIM DI DEPAN TAKHTA ALLAH
Dalam perjalanan kali ini saya menyaksikan apa yang disebut 
seraf atau makhluk sorgawi di depan takhta Allah. Mereka memiliki 
mata yang besar, ada yang di bagian depan dan ada yang di bagian 
belakang kepala mereka. Karena itu mereka dapat melihat ke depan 
dan ke belakang sekaligus. 
Mereka memiliki enam sayap. Ada yang  wajahnya seperti singa, 
satu lagi seperti anak lembu, satu lagi berwajah manusia dan ada 
pula yang wajahnya seperti burung nasar yang sedang terbang. 
Perawakan mereka tinggi besar. Mereka bertempik-sorak, “Kudus, 
kudus, kuduslah, Tuhan Allah Mahakuasa.”
Saya merasa itu pemandangan aneh karena sebelumnya tak 
pernah saya melihat makhluk seperti itu. Tapi saya sadar betul 
bahwa Allah menciptakan mereka untuk tinggal di sorga. Saya 
memuji Allah karena karya dan kuasaNya yang luar biasa itu. 
Sungguh, Allah kita itu terlalu amat dahsyat.
Saya rindu Anda memahami bahwa setelah memandang makhluk 
sorgawi itu saya mulai menyelidiki tentang mereka dan saya 
temukan  pernyataan Rasul Yohanes yang menakjubkan di kitab 
Wahyu 4:6-8: “Dan di hadapan takhta itu ada lautan kaca bagaikan 
kristal; di tengah-tengah takhta itu dan di sekelilingnya ada empat 
makhluk penuh dengan mata, di sebelah muka dan di sebelah 
belakang. 
“Adapun makhluk yang pertama sama seperti singa, dan makhluk 
yang kedua sama seperti anak lembu, dan makhluk yang ketiga 
mempunyai muka seperti muka manusia, dan makhluk yang 
keempat sama seperti burung nasar yang sedang terbang. 
“Dan keempat makhluk itu masing-masing bersayap enam, 
sekelilingnya dan di sebelah dalamnya penuh dengan mata, dan 
dengan tidak berhenti-hentinya mereka berseru siang dan malam: 
Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah 
ada dan yang ada dan yang akan datang.”


TUGAS PARA SERAFIM
Tugas dan pekerjaan para serafim—inilah juga tugas para tua-tua 
itu—adalah menyembah dan memuji Allah, seperti yang diceritakan  
di dalam Alkitab.
“Dan keempat makhluk itu masing-masing bersayap enam, 
sekelilingnya dan di sebelah dalamnya penuh dengan mata, dan 
dengan tidak berhenti-hentinya mereka berseru siang dan malam: 
Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah 
ada dan yang ada dan yang akan datang.
“Dan setiap kali makhluk-makhluk itu mempersembahkan puji-pujian,
dan hormat dan ucapan syukur kepada Dia, yang duduk 
di atas takhta itu dan yang hidup sampai selama-lamanya, maka 
tersungkurlah kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Dia yang 
duduk di atas takhta itu, dan mereka menyembah Dia yang hidup 
sampai selama-lamanya. Dan mereka melemparkan mahkotanya 
di hadapan takhta itu, sambil berkata: Ya Tuhan dan Allah kami, 
Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; 
sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena 
kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.” (Wahyu 4:8-11)
“Dan mereka menyanyikan suatu nyanyian baru katanya:
Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka
meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu 
Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan 
bahasa dan kaum dan bangsa. 
“Dan Engkau telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan 
menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah 
sebagai raja di bumi.” (Wahyu 5:9-10)
“Maka aku melihat dan mendengar suara banyak malaikat 
sekeliling takhta, makhluk-makhluk dan tua-tua itu; jumlah
mereka berlaksa-laksa dan beribu-ribu laksa, katanya dengan suara 
nyaring: “Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima 
kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan 
kemuliaan, dan puji-pujian!” 
“Dan aku mendengar semua makhluk yang di sorga dan yang di 
bumi dan yang di bawah bumi dan yang di laut dan semua yang ada 
di dalamnya, berkata: Bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi 
Anak Domba, adalah puji-pujian dan hormat dan kemuliaan dan 
kuasa sampai selama-lamanya!  
“Dan keempat makhluk itu berkata: “Amin”. Dan tua-tua itu jatuh 
tersungkur dan menyembah.” (Wahyu 5:11-14)
“Dan semua malaikat berdiri mengelilingi takhta dan tua-tua 
dan keempat makhluk itu; mereka tersungkur di hadapan takhta 
itu dan menyembah Allah, sambil berkata: “Amin! puji-pujian dan 
kemuliaan, dan hikmat dan syukur, dan hormat dan kekuasaan dan 
kekuatan bagi Allah kita sampai selama-lamanya! Amin!” (Wahyu 
7:11-12)
“Dan kedua puluh empat tua-tua dan keempat makhluk itu 
tersungkur dan menyembah Allah yang duduk di atas takhta itu, 
dan mereka berkata: Amin, Haleluya. 
“Maka kedengaranlah suatu suara dari takhta itu: Pujilah Allah 
kita, hai kamu semua hamba-Nya, kamu yang takut akan Dia, baik 
kecil maupun besar! 
“Lalu aku mendengar seperti suara himpunan besar orang 
banyak, seperti desau air bah dan seperti deru guruh yang hebat, 
katanya: Haleluya! Karena Tuhan, Allah kita, Yang Mahakuasa, 
telah menjadi raja.” (Wahyu 19:4-6)
“Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, tersungkurlah keempat 
makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak 
Domba itu, masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan 
emas, penuh dengan kemenyan: itulah doa orang-orang kudus.” 
(Wahyu 5:8)
“Maka aku melihat Anak Domba itu membuka yang pertama 
dari ketujuh meterai itu, dan aku mendengar yang pertama dari 
keempat makhluk itu berkata dengan suara bagaikan bunyi guruh: 
Mari!” (Wahyu 6:1)
“Dan ketujuh malaikat dengan ketujuh malapetaka itu, keluar dari 
Bait Suci, berpakaian lenan yang putih bersih dan berkilau-kilauan 
dan dadanya berlilitkan ikat pinggang dari emas. 
“Dan satu dari keempat makhluk itu memberikan kepada ketujuh 
malaikat itu tujuh cawan dari emas yang penuh berisi murka Allah, 
yaitu Allah yang hidup sampai selama-lamanya. 
“Dan Bait Suci itu dipenuhi asap karena kemuliaan Allah dan 
karena kuasa-Nya, dan seorangpun tidak dapat memasuki Bait Suci 
itu, sebelum berakhir ketujuh malapetaka dari ketujuh malaikat 
itu.” (Wahyu 15:6-8)



RIWAYAT PERJALANAN KE SORGA
Tuhan Yesus membawa saya ke sorga 10 kali. Saya tiba di sorga 
dalam kuasa Allah. Ini semua terjadi segera setelah Dia membawa 
saya ke alam maut selama 30 malam.
Perjalananku ke alam roh ini berlangsung dalam masa Paskah. 
Yesus pertama kali muncul pada suatu subuh, antara jam 02:00 
dan jam  05:00.
Pertama-tama Dia membawa saya ke dalam alam maut untuk 
menunjukkan kepadaku tempat perhentian bagi semua manusia 
yang menolak atau tidak percaya kepadaNya.  Artinya, manusia 
yang tidak percaya Yesus tak akan pernah sampai ke sorga. 
Jadi, sebelum Dia membawa saya ke sorga, Dia terlebih dahulu 
membawa saya ke dalam perut bumi dan menunjukkan tempat 
tinggal orang mati. Tentang kunjungan ke alam maut ini telah saya 
bukukan dalam buku berjudul  A Divine Revelation of Hell  (Wahyu 
Allah tentang Naraka).
Seusai melakukan perjalanan 30 malam ke dalam perut bumi 
yang penuh kengerian itu, selama 10 malam berikutnya Yesus 
menunjukkan  kepada saya tentang  kemuliaanNya di sorga. Setelah 
itu masih ada lagi serentetan penglihatan yang Tuhan anugerahkan 
kepada saya. Semua yang saya tulis di dalam buku ini adalah kisah 
nyata yang saya alami sendiri dan dinyatakan oleh Roh Allah Yang 
Hidup. Dan Allah mempunyai tujuan bahwa Anda mendengarnya 
hari ini.
Beberapa hal lain perlu saya ceriterakan di sini. Di sorga ada 
malaikat yang memiliki sayap dan ada juga yang tidak memiliki 
sayap. Setiap kali saya tiba di sorga, saya melihat setiap malaikat itu 
sedang sibuk mengerjakan sesuatu tugas. Mereka merampungkan 
semua tugas yang diberikan bahkan sampai hal-hal yang sangat 
rinci. 
Setiap malaikat memiliki tugas tertentu, jadi tugas mereka  
berbeda-beda. Tapi yang sama adalah setiap mereka selalu memuji 
Allah dan mereka mengerjakan semua tugas itu dengan penuh  
sukacita walau tampak begitu sibuk.
Misalnya, setiap kali jiwa-jiwa baru tiba di sorga, para malaikat 
menemui mereka dan mengantar mereka melewati Sungai 
Kehidupan. Jadi, ada malaikat yang tugasnya mengantar jiwa 
melewati Sungai Kehidupan. Malaikat pengantar ini menyerahkan 
jiwa-jiwa itu kepada malaikat-malaikat lain lagi yang tugasnya 
adalah memakaikan pakaian baru kepada jiwa-jiwa yang baru tiba 
tersebut.
Pakaian keselamatan yang diberikan itu adalah “jubah kebenaran.” 
Setelah itu, malaikat pengantar membawa jiwa-jiwa itu ke sebuah 
ruangan lain bernama “ruang mahkota.” Di sini setiap jiwa akan 
menerima mahkota yang dipakaikan di atas kepalanya.
Semua keagiatan ini berlangsung secara sangat tertib dan sangat 
indah pula. Dalam melakukan tugas ini, para malaikat selalu 
tampak girang dan kebahagiaan yang terpancar dari mereka 
amatlah sempurna.
Saya tidak pernah melihat lonceng di sorga, tapi saya selalu 
mendengar bunyi lonceng berdentang. Malaikat bilang lonceng di 
sorga itu berbunyi setiap kali ada jiwa baru yang diselamatkan di 
bumi. Hal ini mereka namakan “sukacita sorgawi.”
Selama 10 kali perjalanan ke sorga itu saya sering melihat 
meja-meja yang amat cantik. Saya tidak tahu bagaimana harus 
mengungkapkan keindahan meja-meja itu. Di bumi ada banyak 
meja cantik seperti meja bergaya Victoria atau yang lain yang pernah  
Anda lihat, misalnya ada meja ditempatkan di sudut ruangan dan di 
atasnya ada vas bunga atau buku.
Di sorga begitu juga. Tapi, bedanya adalah, meja-meja di sorga 
itu memiliki desain yang keindahannya tidak bisa diterangkan oleh 
manusia. Ada banyak sekali buku di sorga, juga banyak benda lain 
yang tak sanggup saya ceriterakan di sini.


REKAMAN SORGAWI
Dengar baik-baik, umat Tuhan...! Setiap kali engkau menolong 
seseorang misalnya dengan cara memberikan uang untuk kemuliaan 
Tuhan, atau setiap kali engkau membayar perpuluhan, itu semua 
dicatat di sorga. Saya tahu betul hal ini sebab ketika sampai di sana, 
Tuhan menyingkapkan suatu kejadian yang tidak akan terhapus 
dari ingatan saya.
Di sana saya melihat banyak malaikat yang baru saja kembali dari 
bumi. Mereka membawa laporan dari berbagai pelosok planet bumi. 
Mereka kemudian pergi ke pusat dokumentasi dan menyerahkan 
laporan-laporan itu kepada malaikat pencatat untuk diarsipkan. 
Tapi sebelum itu, malaikat pembawa laporan akan membacakan 
laporannya. Malaikat pencatat kemudian bertanya: “Apakah benar 
engkau  menyaksikannya sendiri hal itu? Apakah benar kejadiannya 
persis seperti yang engkau laporkan?”
Setelah laporan itu dikonfirmasikan kebenarannya, barulah
dimasukkan ke dalam kitab kehidupan dari jiwa-jiwa yang dilaporkan itu. 
Kitab-kitab ini  lalu dibawa ke depan takhta Allah. Tapi sebelumnya 
harus melewati suatu proses khusus.
Saya masih ingat betul bahwa Roh Tuhan bergerak senantiasa 
di sorga. Roh itu  jauh lebih besar dari apa pun di bumi. Itulah 
sebabnya Alkitab berkata: “Kamu berasal dari Allah ..., dan kamu 
telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di 
dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia.” 
(I Yohanes 4:4)
Segala sesuatu yang ada di bumi ini sebetulnya diciptakan berdasarkan
model yang sudah ada di sorga, tapi semua yang di bumi 
hanyalah pantulan atau bayang-bayang dari apa yang sesungguhnya 
yang ada di sorga. Misalnya musik di bumi ini tidak ada  apa-apanya
dibanding dengan musik di sorga. Begitu juga puji-pujian serta 
kemuliaan yang ada di sorga tidak bisa dibandingkan dengan apa 
pun yang ada di seantero bumi.
Allah memang menghendaki umatNya memuliakan Dia. Dari 
kitab Kejadian sampai kitab Wahyu, Allah menghendaki adanya 
keluarga  besar Allah yang mencintai Dia.
Sampai di sini Anda mesti camkan bahwa sorga hanya disediakan 
bagi orang-orang yang mengasihi Yesus Kristus. Suatu hari nanti 
saya akan pergi lagi ke sana. Suatu hari nanti engkau pun akan pergi 
ke sana—jika engkau sudah bertobat dari semua dosamu dan jika 
Yesus Kristus tetap tinggal di dalam hatimu. Hanya Yesus sajalah 
yang dapat menghapus dosa manusia melalui darahNya yang 
kudus dan mulia. Berikut ini saya berbicara tentang darah Yesus 
penghapus dosa manusia.


DARAH YANG MENGHAPUS DOSA
Di atas sudah saya jelaskan tentang ruangan arsip di sorga. Tapi 
saya mau memberikan informasi yang lebih rinci lagi. Di dalam 
ruangan itu ada beberapa malaikat duduk sambil bekerja.
Di depan mereka ada ember-ember yang terbuat dari emas. Ini juga 
merupakan bagian dari kemuliaan sorgawi. Di depan
malaikat-malaikat itu ada tumpukan-tumpukan buku.
Di dalam buku-buku itu tampak marker (penanda bacaan) yang 
berisi pesan-pesan dari bumi tentang kehidupan seseorang. Setiap 
pesan itu harus diperiksa oleh seorang malaikat tinggi besar yang 
bertugas melakukan penyimpanan data.
Saya melihat dua malaikat lain datang dari bumi sambil membawa 
pesan-pesan seperti yang tertulis di marker itu.
Setiap kali seseorang lahir baru, maka satu pesan dituliskan 
tentang itu dan dibawa ke sorga. Ini terjadi ketika seseorang 
sungguh-sungguh bertobat dan menerima Yesus di dalam hatinya. 
Ketika seseorang benar-benar bertobat dari dosa-dosanya dan  
meminta Yesus menjadi Tuhan dan Juruselamatnya, maka di 
marker itu akan ditulis bahwa orang tersebut telah “menyerahkan  
hidupnya kepada Tuhan.”
Malaikat yang mengawasi ember-ember emas itu kemudian 
mengambil sebuah buku dari tumpukan itu. Setiap malaikat itu 
memegang apa yang tampak bagai secarik kain yang dibasuh 
dengan darah. Ini representasi darah Yesus. 
Kain berwarna merah darah ini juga memancarkan
sinar kemuliaan dan kuasa. Kain ini tidak kelihatan menyeramkan
walau basah karena darah, melainkan tampak sangat indah.
Setiap malaikat itu kemudian meletakkan buku yang telah
diambil itu di hadapannya dan, mulai dari halaman yang paling awal, 
malaikat itu menghapus tulisan-tulisan dalam buku itu dengan 
menggunakan kain berdarah itu. 
Hebatnya, walaupun kain penghapus itu berwarna merah, tapi 
halaman yang dihapus tidak ternodai melainkan menjadi putih 
bersih. Atas petunjuk Allah, malaikat menghilangkan semua catatan 
lama di dalam buku-buku itu kemudian membuat catatan baru 
yang mengatakan bahwa orang berdosa ini benar telah dilahirkan 
kembali dan Allah tidak mengingat dosanya lagi.
“Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu 
oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu.” 
(Yesaya 43:25)
Dengar, anak-anak. Sabda Allah itu benar. Allah benar-benar 
menghapus dosa-dosa kita. Suatu pemandangan yang sungguh 
indah melihat para malaikat itu bekerja membersihkan halaman 
demi halaman dalam buku-buku itu. Haleluyah, karena Tuhan 
menghapus dosa setiap kita yang percaya Dia.
Sekali lagi saya mendengar gemuruh pujian. Lirik nyanyian itu 
sebagai berikut:
Oh, nothing but the blood of Jesus can wash my sins away.
Oh, nothing but the blood of Jesus can make me whole today.
Oh, nothing but the blood of Jesus can cleanse me today.
[Oh, hanya darah Yesus yang dapat menghapus dosaku.
Oh, hanya darah Yesus yang dapat membuat aku lengkap kini.
Oh, hanya darah Yesus yang dapat membersihkan aku kini]
Kemudian para malaikat bernyanyi:
Another one’s been redeemed
by the blood of the Lamb.
Another one’s been saved from the Devil’s hand
by the blood of the Lamb.
Another one’s been saved from hell 
by the blood of Jesus Christ.
[Satu jiwa lagi telah ditebus
oleh Darah Anak Domba
Satu jiwa lagi telah dilepaskan dari cengkeraman Iblis
oleh darah Anak Domba
Satu jiwa lagi telah dibebaskan dari naraka
oleh darah Yesus Kristus]
Umat Tuhan, dengar..., jangan pernah merasa malu untuk 
meminta kuasa darah Yesus. Dua ribu tahun silam darahNya 
dicurahkan untuk menghapus dosa kita. Sejak itu kuasa darah 
Yesus tidak pernah berkurang. Yesus telah mengalahkan Iblis satu 
kali untuk selama lamanya ketika Dia memberikan diriNya untuk 
digantung di salib menggantikan kita (Ibrani 7:2-7). Kristus turun 
dari sorga yang mulia. Dia dilahirkan oleh Perawan Maria. Dia 
menyerahkan diriNya agar kita dapat ditebus oleh da-rahNya yang 
mulia itu. Dia melakukan ini semua agar kita jangan dimasukkan ke 
naraka.
Saudara bisa bayangkan betapa girangnya hati saya ketika 
menyaksikan dosa manusia dihapus oleh darah Yesus. Bayangkan 
kejadian itu—semua catatan lama tentang dosa, kecemaran, semua 
yang kelam itu lenyap dan Allah tidak mengingat lagi semua dosa 
yang sudah terhapus itu.



 MEZBAH ALLAH
Saya sangat suka melihat mezbah Tuhan. Ketika saya berada di 
sebuah gereja yang dipenuhi Roh Allah, saya melihat ada mezbah 
yang sangat indah. Indah mezbah itu karena saya menyadari pasti 
di sana sudah banyak airmata ditumpahkan. Di dalam Perjanjian 
Lama, Allah berulang kali memberi perintah untuk merobohkan 
mezbah-mezbah penyembahan berhala. “Mezbah mereka kamu 
harus robohkan, tugu-tugu berhala mereka kamu remukkan, 
tiang-tiang berhala mereka kamu bakar habis, patung-patung allah 
mereka kamu hancurkan, dan nama mereka kamu hapuskan dari 
tempat itu. Jangan kamu berbuat seperti itu terhadap TUHAN, 
Allahmu.” (Ulangan 12:3-4)
Umat Allah diperintahkan untuk melenyapkan mezbah-mezbah 
penuh dosa yang tidak memuliakan Allah. Mereka diperintahkan 
untuk menghancurkan semua mezbah yang tidak menghormati 
Dia dan mereka diminta mendirikan dan merawat mezbah untuk 
menyembah Dia. Hanya Yesus sajalah yang dapat melakukan itu 
bagi kamu. Engkau tidak bisa melakukannya sendiri. 
Baca Hakim-Hakim 6:25-26: “Pada malam itu juga TUHAN 
berfirman kepadanya: Ambillah seekor lembu jantan kepunyaan 
ayahmu, yakni lembu jantan yang kedua, berumur tujuh tahun, 
runtuhkanlah mezbah Baal kepunyaan ayahmu dan tebanglah 
tiang berhala yang di dekatnya. Kemudian dirikanlah mezbah bagi 
TUHAN, Allahmu, di atas kubu pertahanan ini dengan disusun 
baik, lalu ambillah lembu jantan yang kedua dan persembahkanlah 
korban bakaran dengan kayu tiang berhala yang akan kautebang 
itu.”

MEZBAH DI JAMAN SEKARANG
Dalam misi penginjilanku di seantero Amerika, saya selalu 
merenungkan tentang mezbah Tuhan. Ketika kita maju ke depan 
dan “curhat” kepada Allah sambil berlutut di altar gereja, kita tidak 
malu menghadapi Dia. Mezbah yang dikhususkan bagi Tuhan 
adalah tempat dimana kita dapat berada di dalam hadirat Allah, 
tempat dimana kita dapat memanggil-manggil Dia dan mengakui 
semua dosa kita kemudian meminta pengampunan dariNya.
Banyak di antara kita yang telah merasakan kehadiranNya yang 
amat dahsyat. Dia menjawab doa kita. Kadang-kadang kita juga  
merasakan tanganNya sedang merangkul diri kita.
Ada sesuatu yang luar biasa tentang mezbah di dalam Perjanjian 
Lama. Di sana engkau hanya berlutut dan menyembah. Engkau 
juga bisa memuji Allah ketika berada di rumah atau di dalam mobil. 
Dimana pun engkau berada engkau dapat memuji Tuhan. Tapi saya 
ingin katakan satu hal: Mezbah adalah tempat dimana engkau dapat 
mengikat janji dan bersekutu dengan Allah dalam suasana akrab.
Nabi-nabi dalam Perjanjian Lama mendirikan mezbah sebagai 
tempat dimana mereka dapat berseru kepada Allah meminta  
pengampunan bagi umat Allah dan juga bagi diri mereka sendiri. 
Di mezbah itu mereka lakukan pertobatan dan mempersembahkan 
korban curahan darah atas nama umat. Allah menerima pertobatan 
dan korban itu.
Tapi karena Kristus telah mencurahkan darahNya sebagai korban 
yang paling tinggi maka kita tak perlu lagi memberikan korban 
curahan untuk penebusan dosa. Tapi tetap kita mesti bertobat dari 
semua dosa. Dan tempat paling baik untuk melakukan pertobatan 
itu adalah di mezbah atau altar. Karena itu, ketika melihat altar 
gereja, jangan segan-segan maju dan berlutut di sana untuk berdoa 
sebisa mungkin. Karena altar itu sangat berarti. Di setiap rumah 
mesti ada altar seperti itu, agar kita dapat senantiasa berbicara 
kepada Allah dan agar ada tempat untuk berduaan dengan Allah.
Setiap kali saya berkhotbah, saya selalu katakan: Jangan 
malu untuk maju ke altar ini, sebab di sini Allah akan berjumpa 
denganmu. Betul, Dia dapat menemuimu ketika engkau sedang 
duduk. Tapi ada nilai lebih tentang mezbah yang diurapi Tuhan 
dimana engkau dapat merendahkan diri, mengangkat tanganmu 
dan berkata: Tuhan, aku ada di sini. Pakailah demi kemuliaanMu.


MENYEMBAH ALLAH SECARA TULUS
Hatimu harus selaras dengan kata-katamu ketika engkau berdoa. 
Allah masih terus mencari orang-orang yang secara tulus mencintai 
dan memuji Dia. Allah masih terus mencari orang-orang yang mau 
berbalik dari jalan hidup yang jahat dan bertobat di hadapanNya. 
Dia masih mencari orang-orang yang mau menyembah Dia di 
dalam roh dan kebenaran.
“Dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan 
diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya 
yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni 
dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.” (II Tawarikh 7:14)
“Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa 
penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh 
dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah 
demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus 
menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” (Yohanes  4:23-24)
Tuluslah di hadapan Allah. Jujurlah kepadaNya. Ketika maju 
ke altar, jangan sekali-kali berlutut untuk berkata “Betty bersalah 
kepada saya,” atau “Joe membuat aku kecewa.” Tapi, katakan: 
“Bapa, akulah yang bersalah. Itu sebabnya aku ada di sini untuk 
memohon pengampunanMu.” Engkau sendiri harus mengampuni 
mereka yang menurut pendapatmu telah bersalah kepadamu. 
Tuhan rindu melihat umat yang dibebaskan agar mata yang buta 
dapat melihat dan telinga yang tuli dapat mendengar apa yang 
tengah dikatakan Roh kepada gerejaNya. (Wahyu 2:7).
Kita sering mengalami banyak pencobaan dan guncangan hidup. 
Terkadang kita merasa bahwa si jahat itu telah mencuri semua 
kedamaian dari kita. Tapi Allah memberikan kepada kita ketabahan 
agar pada akhirnya kita menerima kemenangan. Ada banyak sekali 
tekanan di dalam hidup ini, tapi di dalam Yesus ada kedamaian dan 
ketenteraman. Carilah gereja yang percaya pada kuasa Roh Kudus. 
Di sana engkau akan belajar tentang hikmat Allah dan terbebas dari 
masalah, penderitaan dan kesedihan. Sangat penting bagi setiap 
anak Tuhan untuk selalu bersekutu di gereja. Alkitab mengajarkan 
kita tentang pentingnya persekutuan seperti itu (Ibrani 10:25). 
Jangan pernah mengasingkan diri. Allah mengasihi kamu dan ada 
banyak orang kudusNya yang juga mengasihi kamu.



SUKACITA YANG AKAN DINYATAKAN
Bagian lain dari sukacita di sorga merupakan misteri ilahi yang 
akan dinyatakan kelak. Saya tidak dibolehkan untuk melihat bagian 
tersebut. Tapi yang pasti, dalam salah satu kunjungan saya ke sorga, 
saya melihat sendiri rumah-rumah megah dan istana-istana yang 
mahaindah. Hanya sekejap saja saya dibolehkan melihat
istana-istana indah itu. Kemudian saya dibawa ke suatu tempat dimana 
malaikat-malaikat sedang sibuk bekerja. Mereka mengerjakan
berbagai macam pekerjaan. 
Tampaknya mereka baru saja tiba dari bumi dan masuk secara 
teratur. Setiap malaikat itu membawa berkas-berkas di tangannya. 
Terkadang juga malaikat membawa kitab-kitab yang penuh dengan 
catatan yang telah mereka tulis sendiri. Laporan dari bumi ini 
kemudian dibawa ke tempat-tempat tertentu untuk diarsipkan. Di 
antara arsip-arsip itu ada catatan tentang upah yang akan diterima 
semua orang kudus.
Nanti, ketika Anda tiba di sorga, Anda akan diberikan upah untuk 
setiap pekerjaan yang telah Anda lakukan di bumi untuk kemuliaan 
Yesus Kristus. Inilah sebabnya buku ini harus saya tulis. Saya 
tulis ini semua demi hormat dan kemuliaan Tuhan Yesus Kristus. 
Saya ingin Anda mengerti betul tentang bagian misteri yang Allah 
perkenankan untuk saya saksikan. 
Benar, seperti kata Alkitab (I Korintus 13:9) bahwa sekarang kita 
hanya mengetahui sebagian saja dan kita hanya bernubuat sebagian 
saja, sebab waktunya belum tiba untuk mengetahui segalanya. 
Itu sebabnya Allah juga menyatakan hanya sebagian kecil dari 
misteriNya di sorga.
Terpujilah nama Tuhan, sebab ketika nanti kita tiba di sana, 
di rumah kita yang abadi, semua pertanyaan kita akan terjawab, 
semua doa kita akan dijawab, semua kerinduan kita yang terdalam 
akan dipuaskan.


PENGLIHATAN PARA NABI
Saya mau berceritera tentang penglihatan saya mengenai 
para malaikat yang tengah bekerja. Saya rindu Anda mengerti 
tentang beberapa hal indah yang telah Allah nyatakan. Saya ingin 
membagikan kepadamu sukacita yaitu ketika kita tahu bahwa 
Tuhan menyediakan upah untuk semua orang yang bekerja bagi 
kemuliaanNya.
Bapa di sorga begitu hebat karena Dia terus menyingkapkan 
banyak “rahasiaNya kepada hamba-hambaNya—para nabi” (Amos 
3:7). Kerinduan Bapa di sorga adalah menyingkapkan semua ini 
kepada mereka yang peka terhadap wahyuNya dan mereka yang 
tergerak hati untuk menyebarluaskan pesanNya.
“Beginilah firman TUHAN, Raja dan Penebus Israel, TUHAN 
semesta alam: Akulah yang terdahulu dan Akulah yang 
terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku. Siapakah seperti 
Aku? Biarlah ia menyerukannya, biarlah ia memberitahukannya dan 
membentangkannya kepada-Ku! Siapakah yang mengabarkan dari 
dahulu kala hal-hal yang akan datang? Apa yang akan tiba, biarlah 
mereka memberitahukannya kepada kami! Janganlah gentar dan 
janganlah takut, sebab memang dari dahulu telah Kukabarkan dan 
Kuberitahukan hal itu kepadamu. Kamulah saksi-saksi-Ku! Adakah 
Allah selain dari pada-Ku? Tidak ada Gunung Batu yang lain, tidak 
ada Kukenal!” (Yesaya  44:6-8)
“Lalu TUHAN menjawab aku, demikian: Tuliskanlah penglihatan 
itu dan ukirkanlah itu pada loh-loh, supaya orang sambil lalu dapat 
membacanya.” (Habakuk 2:2)
Ada banyak contoh di dalam Alkitab tentang bagaimana Allah 
rindu menyatakan sesuatu kepada umatNya melalui utusan-utusan 
yang  diurapiNya. Sabda Tuhan itu sungguh benar adanya.
Menurut Alkitab,  Daniel mendapat penglihatan:
“… bermimpilah Daniel dan mendapat penglihatan-penglihatan di 
tempat tidurnya. Lalu dituliskannya mimpi itu …” (Daniel 7:1 NIV)
“Apa yang engkau lihat, tuliskanlah di dalam sebuah kitab …” 
(Wahyu  1:11).
Yesaya adalah seorang nabi besar yang membawa pesan penting 
untuk Yehuda karena keberaniannya dalam menyampaikan 
pesan Tuhan. Kitab Yesaya dimulai dengan kalimat: Penglihatan 
dari Yesaya anak Amos, yang dilihatnya mengenai Yehuda dan 
Yerusalem (Yesaya 1:1). Krena Yehezkiel mendapat penglihatan 
dari Tuhan (Yehezkiel 1:1), dia terpanggil dan diurapi untuk suatu 
misi nubuatan.
Allah, dalam belaskasihanNya yang tak terbatas, telah memandang 
perlu memanggil saya dan menyatakan penglihatan-penglihatan  
yang berasal dari diriNya sendiri. 
Saya bersyukur kepadaNya untuk hal ini. Ketika saya sedang 
berdoa dan meditasi, mencari kehendak Allah untuk hal-hal 
tertentu, Roh Kudus membolehkan saya mengetahui berbagai 
misteri sorgawi. Panggilan saya di dalam Tuhan adalah untuk 
menerima mimpi-mimpi, penglihatan dan wahyu untuk dibagikan 
kepada banyak orang. Sebagai salah satu hamba Allah yang diurapi, 
saya hanya mendeskripsikan tentang hal-hal yang Allah nyatakan 
kepada saya. Dan saya percaya seperti inilah peran alkitabiah yang 
harus saya  lakonkan.
Ketika Tuhan Yesus Kristus menyatakan diriNya kepada saya, Dia 
memakai jubah putih yang berkilau-kilau, penuh cahaya kemuliaan  
dan kuasa. Tinggi badan Tuhan Yesus, menurut yang saya lihat,  
adalah 6 kaki (6 x 12 inci = 180 sentimeter). JenggotNya amat rapi. 
RambutNya lebat dan panjang, terurai lepas ke bahu. MataNya 
amat indah dan sorotan mataNya tajam menembus.
Gambar Tuhan Yesus yang paling mirip dengan wajah asliNya 
yang saya lihat itu adalah yang tergantung di lokasi Tembok 
Ratapan di Israel yang menggambarkan Dia sedang berdoa untuk 
orang-orang Yahudi dan Israel. Dia penuh dengan kasih sayang dan 
kepedulian terhadap kita semua, persis seperti yang digambarkan 
oleh pelukis di Israel itu.
Baca Kisah Para Rasul 1:10:
“Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu,
tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka…”
Bagaimana mungkin seseorang membaca dan tidak mempercayai 
apa yang dibacanya? Allah secara terang-terangan menunjukkan 
kepada manusia tentang adanya malaikat ketika Yesus terangkat 
ke sorga. Kita perlu mengerti bahwa Allah rindu untuk menyatakan 
kuasa kemuliaan dan karya-karyaNya yang ajaib kepada kita justru 
pada bagian akhir dari akhir zaman ini. 
Allah mempunyai banyak penglihatan untuk kita saksikan. Dia 
rindu menyampaikan semua kebenaran ini kepada kita supaya kita 
bersukacita dan bekerja di bumi dengan senang hati untuk Dia.


MUJIZAT DI GEREJA
Setelah semua penglihatan itu berlalu, saya mulai melayani di 
sebuah acara gereja. Saya tenggelam dalam doa dan meditasi yang 
kusuk. Pada malam itu, di gereja, saya melihat banyak malaikat 
datang. Mereka memegang pedang yang terbuat dari emas. Roh 
Allah kemudian berbicara kepada saya dengan sangat jelas:
“AnakKu, ketika tiba saatnya umat ini berdoa, Aku akan
menyembuhkan berbagai penyakit. Aku mau ini menjadi tanda dalam 
pelayananmu, bahwa penglihatan yang telah engkau lihat tentang 
naraka itu benar adanya. Sudah Kukatakan bahwa Aku akan 
memberi tanda-tanda ajaib dan mujizat-mujizat seperti yang ditulis 
di dalam Injil Yesus Kristus.”
Sangat bahagia hati saya ketika mendengar itu. Ketika saya 
sedang berkhotbah, tampak seorang malaikat memegang sebuah 
kitab besar dan menulis semua yang saya khotbahkan. Tampak 
atap gereja itu terbuka dan di atas sana takhta Allah dapat dilihat 
dari tempat saya berdiri. Para malaikat di atas sana tampak sedang 
bertempik-sorak.


KETIKA RANTAI DOSA DIPUTUSKAN
Ketika tiba saatnya untuk maju ke depan altar, saya melihat para 
malaikat berjalan-jalan di tengah jemaat sambil membujuk mereka 
untuk berjalan ke altar dan menyerahkan hati kepada Tuhan Yesus. 
Ketika malaikat menyentuh hati setiap individu yang sedang
berlutut di altar itu, asap dosa hitam pekat mulai menguap keluar dari 
hati mereka. Menakjubkan pemandangan itu.
Saya melihat juga rantai-rantai yang membelenggu jemaat. 
Sewaktu mereka menerima pengampunan, para malaikat 
memutuskan rantai-rantai dosa tersebut dan membuangnya ke 
luar. Semua rantai pengikat itu mulai putus ketika orang-orang 
itu mulai mengangkat tangan sambil mengaku dosa kepada Tuhan 
Yesus.
Ada lagi hal lain terjadi. Ketika Firman Allah saya bacakan, Firman 
itu tampak seperti pedang yang melompat keluar dari
halaman-halaman Alkitab lalu menembusi tubuh setiap orang dan langsung 
menyembuhkan penyakit apa pun yang mereka derita. Saya sendiri 
juga heran. Tapi kemuliaan Tuhan memenuhi ruangan itu dan saya 
bersyukur Dia bekerja melalui mujizat-mujizat untuk menyalurkan 
berkat-berkat sorgawi ke bumi.
Tangisan dan pujian naik dari semua sudut ruangan mengiringi 
penyelamatan jiwa-jiwa itu. Dalam banyak pelayanan saya di 
berbagai tempat di bumi, Allah selalu menunjukkan
mujizat-mujizatNya seperti ini dan banyak jiwa diselamatkan.
Terpujilah nama Tuhan karena semua tanda ajaibNya itu. 
Saya yakin betul bahwa malaikat masih terus bekerja seperti 
itu, membantu saya melaksanakan pelayanan bagi hormat dan 
kemuliaan Tuhan Yesus Kristus.



FIRMAN ALLAH
Dalam banyak kebaktian yang saya kunjungi, saya melihat 
malaikat mengerjakan banyak hal indah. Perlu diingat bahwa 
malaikat adalah roh-roh yang melayani Tuhan. Mereka diutus 
untuk melayani semua orang yang mewarisi keselamatan (Ibrani 
1:13).
Suatu ketika saya melihat seorang hamba Tuhan sedang 
bernubuat. Ketika dia sedang bernubuat, Allah membuka mata saya 
untuk melihat malaikat yang tengah berdiri di atasnya. Malaikat 
itu sedang mencurahkan ke atas kepala hamba Tuhan itu sesuatu 
yang tampak bagai minyak bercampur api yang keluar dari sebuah 
tabung berbentuk nafiri.
Lalu saya melihat isi hati orang itu—penuh dengan firman 
Allah. Firman itu keluar dari hati orang itu kemudian naik melalui 
kerongkongannya dan keluar melalui mulutnya. Saya lihat firman 
itu mengalir keluar dari mulutnya. 
Ketika firman itu menyentuh udara, firman itu berubah bentuk 
menjadi sebilah pedang tajam bermata dua. Seorang malaikat lain 
tampak sedang mencatat semua yang diucapkan oleh hamba Tuhan 
itu. Saya berkata: “Tuhan, ini benar-benar firmanMu yang keluar 
untuk umatMu di sini.”
Tampak seorang malaikat lain lagi memegang Kitab Suci. Ketika 
hamba Allah itu berkhotbah, kata-kata dalam
Kitab Suci itu melompat keluar, masuk ke dalam hati pengkhotbah itu
lalu keluar melalui mulutnya dan kata-kata yang keluar itu pun berubah bentuk 
menjadi  pedang bermata dua.
Ketika hamba Tuhan itu berdoa bagi mereka yang sakit, Tuhan 
membuka mata saya untuk melihat sebuah bercak hitam di dalam 
paru-paru, kaki, liver atau bagian lain dari jemaat yang sakit. Pedang 
firman Allah yang keluar tadi menyentuh bagian-bagian tubuh 
jemaat yang sakit itu dan uap panas meluap keluar mengelilingi 
bagian tubuh yang sakit tersebut. Banyak kali ketika jemaat yang 
sakit didoakan, mereka merasakan panas seperti itu.
Saya menyaksikan bagaimana penyakit di tubuh jemaat dibakar 
dan dilenyapkan oleh firman Allah. Bagian tubuh yang sakit 
tadi menjadi sembuh ketika sel-sel baru dan kulit baru muncul 
menggantikan sel-sel lama yang tadinya terserang penyakit. Betapa 
indahnya menyaksikan cara Tuhan bekerja melalui mujizat seperti 
itu. Terpujilah nama Tuhan Yesus.
Beberapa waktu kemudian, saya berbicara dengan beberapa 
anggota jemaat yang disembuhkan. Ada yang berkata: “Saya 
disembuhkan secara sangat ajaib hari itu.” 
Benar, umat Tuhan, di sini, di bumi, kita hanya melihat secara 
samar-samar. Kita hanya dibolehkan melihat dan mengetahui apa 
yang Allah ijinkan untuk kita ketahui. 
Apa yang saya lihat di gereja itu hanyalah apa yang Allah 
perbolehkan bagi saya. Hormat dan puji dan syukur saya bagi Dia 
Yang Mahamulia.



DATANG KE TAKHTA ALLAH
Saya menyadari betapa pentingnya peran para nabi di dalam 
dunia masa kini sama seperti peran mereka di dalam dunia masa 
lalu. Saya mulai menyadari pentingnya pelayanan seperti yang 
diberitakan dalam Efesus 4:11-12: “Dan Ialah yang memberikan 
baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita 
Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk 
memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, 
bagi pembangunan tubuh Kristus.”
Saya mengerti betapa pentingnya setiap kita sebagai sesama 
anggota dalam Tubuh Kristus. Alkitab berkata kita dapat datang 
dengan berani ke hadapan takhta anugerah Allah agar kita boleh 
memperoleh pengasihan dan anugerah untuk melayani sesama 
(Ibrani 4:16).
Kata-kata itu meyakinkan kita bahwa kita memiliki keberanian 
untuk masuk ke dalam kekudusan melalui darah Yesus (Ibrani 10:
19), karena sesuai dengan hukum, hampir segala sesuatu mesti 
dimurnikan oleh darah dan tanpa darah yang tertumpah tak akan 
ada pengampunan (Ibrani 9:22).
Kawan, saya bersaksi di sini bahwa semua ini adalah benar. Hanya 
darah Yesus Kristus sajalah yang dapat melakukan pendamaian 
bagi jiwa manusia. Darah dan firmanNya bekerja bersama dalam 
anugerahNya.
“Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri 
takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan 
kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.” 
(Ibrani  4:16)



PERTOLONGAN DI MASA KINI
Betapa seringnya kita membutuhkan pertolongan! Ada yang sakit 
secara fisik, ada pula yang sakit hati, ada lagi yang bergumul karena 
perceraian. Banyak yang berkabung karena kehilangan orang-orang 
yang dikasihinya, atau ada anak yang tersesat melakukan hal-hal 
yang tidak senonoh. Ada masalah lain lagi seperti ketika tak ada 
harapan dari mana kita akan mendapatkan uang. Pada saat-saat 
seperti itu, kita membutuhkan pertolongan. Kita dapat datang 
dengan berani menghadap takhta Allah dan berdoa: Ya Allahku, 
aku membutuhkan uluran tanganMu.
Dalam penglihatan yang Allah berikan kepada saya tentang 
berbagai kejadian di muka bumi, setiap kali ada hamba Tuhan 
berkeluh-kesah, Firman Allah ada di sana. Seorang malaikat yang 
memegang sebuah Kitab Suci besar datang ke situ. Malaikat itu 
membuka firman Allah lalu menempelak wajah Iblis dengan firman 
itu. Si Iblis biasanya muncul dalam bentuk roh jahat atau pun ular. 
Ketika malaikat membuka Kitab Suci, Iblis langsung terpental 
dan menjerit, karena dia tahu betul bahwa malaikat itu sedang 
menggunakan pedang tajam bermata dua. 
Tidak semua mujizat itu terjadi pada setiap gereja yang saya 
layani. Dalam roh biasanya saya dapat melihat hal-hal yang terjadi 
di berbagai tempat yang jauh di bumi. Kadang saya tak tahu tempat 
apa yang tengah saya lihat di dalam roh atau kapan hal-hal ajaib itu 
terjadi. Puji syukur kepada Bapa di sorga sebab Tuhan Yesus telah 
mengalahkan Iblis secara tuntas demi kita semua, agar kita boleh 
memperoleh kelepasan dan hidup kekal. Dengan itu kita kini boleh 
secara berani menghadap takhta Allah yang penuh anugerah itu di  
tempat mana pun kita berada.


KUASA NAMA YESUS
Melalui Kitab Suci, belas kasihan dan anugerah Allah tersedia 
secara nyata demi menyembuhkan semua penyakit yang kita derita. 
Saya rindu saudara bersemangat di dalam firman Allah pada hari 
ini. Jika saudara mempunyai suatu keperluan, datanglah dengan 
berani menghadap takhta kemurahan Allah dan mintalah Dia 
menolong saudara. Sebab malaikat-malaikat Allah adalah
roh-roh yang melayani yang diutus untuk melayani semua orang yang 
menjadi ahli waris keselamatan (Ibrani 1:14).
Saya yakin betul akan hal ini sebab saya mengalaminya. Saya 
sudah melihat semua itu di dalam roh berulang kali. Ketika kita 
berseru  kepada Tuhan, Dia mengutus malaikat-malaikatNya untuk 
menolong kita melalui kuasa dan kebesaran firman dan rohNya.
Ketika setan-setan telah dibuang keluar dari diri seseorang yang 
dilayani, saya melihat roh-roh jahat menyembul keluar bagai 
bayang-bayang hitam dalam penampakan. Ketika nama Yesus 
disebutkan, saya sering melihat malaikat menyeret keluar roh-roh 
jahat itu lalu mengikat mereka dengan rantai. Spontan saya berseru: 
Oh Tuhan, betapa berkuasanya firmanMu untuk menyelamatkan 
umatMu dari belenggu kuasa jahat. 
Firman Tuhan sajalah yang mengerjakan semua ini. Dan itu 
adalah kata-kata yang Yesus ucapkan. Hanya di dalam nama 
Yesus yang  berkuasa itu semua kuasa kegelapan takluk. Sekarang, 
panggillah Yesus. Sebutlah namaNya, maka Dia akan menolong 
saudara. Engkau akan dilahirkan kembali dan dibebaskan dari 
dosa-dosamu agar dapat memiliki istana megah di sorga.
Suatu ketika saya berada di Malaysia. Orang-orang di sana sangat 
haus akan firman Tuhan. Dan saya sadar bahwa dengan kehadiran 
Allah di sana banyak orang akan melihat mujizat. Kemuliaan Tuhan 
tercurah ke atas Malaysia ketika itu bagai hujan yang deras.
Roh Kudus bergerak di antara umat yang berhimpun di sana dan 
menyelamatkan banyak jiwa. Banyak orang terjatuh dari kursinya 
dan tersungkur ke tanah ketika mereka menerima Tuhan Yesus. 
Banyak jiwa diselamatkan ketika kuasa Tuhan  menyentuh mereka.
Betapa hausnya mereka akan firman Allah! Mereka bergegas ingin 
segera dilahirkan kembali dan mengundang Yesus ke dalam hati  
mereka. Kuasa Tuhan bekerja dahsyat dalam kunjungan itu.


ALLAH MEMBENCI OKULTISME
Saya rindu saudara merenungkan ayat-ayat berikut ini:
“Kemudian bergeraklah Malaikat Allah, yang tadinya berjalan di depan 
tentara Israel, lalu berjalan di belakang mereka; dan tiang awan 
itu bergerak dari depan mereka, lalu berdiri di belakang mereka. 
Demikianlah tiang itu berdiri di antara tentara orang Mesir dan 
tentara orang Israel; dan oleh karena awan itu menimbulkan 
kegelapan, maka malam itu lewat, sehingga yang satu tidak dapat 
mendekati yang lain, semalam-malaman itu.” (Keluaran 14:19-20)
Anak-anak Tuhan, dengar! Tidak tahukah kamu bahwa Tuhan 
rindu untuk mengerjakan mujizatNya dalam hidupmu pada hari 
ini juga, sama seperti yang Dia lakukan di masa lalu? Sadarkah 
kita bahwa sering kita mengabaikan hal ini yang mestinya sudah 
mendatangkan keuntungan bagi kita? Hal-hal indah yang Tuhan 
sediakan bagi kita justru sering tidak kita hiraukan.
Berbagai jenis ilmu sihir, perdukunan dan sejenisnya begitu marak 
di negeri ini. Hal-hal ini disodorkan oleh Iblis sebagai jawaban untuk 
memuaskan hati banyak orang. Orang jaman sekarang mencari 
petunjuk dari berbagai sumber tentang kehidupan mereka. Tapi 
saya mau tegaskan kepada saudara hari ini: Allah itu benar-benar 
ada dan Dia sajalah yang sungguh benar. Dia tidak mengijinkan 
kita untuk mencari pertolongan dari sumber lain. Bapa di sorga 
membenci semua praktek okultisme, sihir, perdukunan dan apa 
pun namanya di dunia.
“Janganlah kamu berpaling kepada arwah atau kepada roh-roh 
peramal; janganlah kamu mencari mereka dan dengan demikian 
menjadi najis karena mereka; Akulah TUHAN, Allahmu.” (Imamat 
19:31)
Sangat besar dosanya dan salah besar apabila saudara mencari 
pertolongan atau petunjuk melalui medium atau alat Iblis. Sebab 
malaikat Tuhan itu nyata dan diutus untuk melayani kita demi 
keselamatan kita.
“… sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya 
kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu.” (Mazmur 91:
11)
“… dalam segala kesesakan mereka. Bukan seorang duta atau 
utusan, melainkan Ia sendirilah yang menyelamatkan mereka; 
Dialah yang menebus mereka dalam kasih-Nya dan belas kasihanNya.
Ia mengangkat dan menggendong mereka selama zaman 
dahulu kala.” (Yesaya 63:9)
“Berkatalah Nebukadnezar: “Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh 
dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan 
hamba-hamba-Nya, yang telah menaruh percaya kepada-Nya, dan 
melanggar titah raja, dan yang menyerahkan tubuh mereka, karena 
mereka tidak mau memuja dan menyembah allah manapun kecuali 
Allah mereka.” (Daniel 3:28)



PASUKAN MALAIKAT SORGA
Ketika Tuhan Yesus menyingkapkan alam maut kepada saya, 
dapat saya saksikan dengan mata rohani saya bahwa rumah saya 
di bumi dikawal oleh firman Allah yang ditulis di udara. Tiga 
pasukan malaikat Tuhan mengawal rumah saya. Ada yang duduk, 
ada yang  sedang bercakap-cakap dengan temannya. Satu pasukan 
lainnya yang tampak sangat berwibawa dan berkuasa juga tampak 
mengawal rumah itu. Jadi ada tiga pasukan malaikat yang mengawal 
rumah saya ketika roh saya dibawa ke alam maut dan ke sorga.
Kelompok yang ketiga berdiri begitu rapat satu dengan lainnya. 
Sayap mereka bersentuhan dan wajah mereka menghadap keluar. 
Malaikat dalam group ini sangat besar perawakannya dan  tampak 
bagai jawara-jawara perang yang gagah perkasa. Mereka memiliki 
pedang yang tergantung di pinggang. Dan setiap kali sebuah 
bayangan hitam mencoba mendekati rumah itu, mereka serempak 
mencabut pedang, bersiap melindungi keluarga saya.
Pedang yang mereka tarik itu sebetulnya adalah firman Allah. 
Ingat, “pedang Roh” adalah “firman Allah.” (Efesus 6:17). Pedang 
firman Allah itu ketika ditarik keluar dari sarungnya menyerupai 
nyala api yang akan menghanguskan musuh. Dan musuh akan 
hancur lebur dan menjadi debu.
Saya teringat firman Allah di dalam Maleaki 4:3 yang  membuat 
saya kagum. Ingat, ketika Allah mengirimkan firmanNya, maka 
Petrus yang terbelenggu di dalam penjara dibebaskan oleh malaikat. 
Baca kisahnya dalam Kisah Para Rasul 12:7-11:
“Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat Petrus dan 
cahaya bersinar dalam ruang itu. Malaikat itu menepuk Petrus 
untuk membangunkannya, katanya: Bangunlah segera! Maka 
gugurlah rantai itu dari tangan Petrus. 
“Lalu kata malaikat itu kepadanya: Ikatlah pinggangmu dan 
kenakanlah sepatumu! Iapun berbuat demikian. Lalu malaikat itu 
berkata kepadanya: Kenakanlah jubahmu dan ikutlah aku!
“Lalu ia mengikuti malaikat itu ke luar dan ia tidak tahu, bahwa apa 
yang dilakukan malaikat itu sungguh-sungguh terjadi, sangkanya ia 
melihat suatu penglihatan. 
“Setelah mereka melalui tempat kawal pertama dan tempat kawal 
kedua, sampailah mereka ke pintu gerbang besi yang menuju ke 
kota. Pintu itu terbuka dengan sendirinya bagi mereka. “Sesudah 
tiba di luar, mereka berjalan sampai ke ujung jalan, dan tiba-tiba 
malaikat itu meninggalkan dia. 
“Dan setelah sadar akan dirinya, Petrus berkata: Sekarang tahulah 
aku benar-benar bahwa Tuhan telah menyuruh malaikat-Nya dan 
menyelamatkan aku dari tangan Herodes dan dari segala sesuatu 
yang diharapkan orang Yahudi.” 
Baca juga II Raja-Raja 6:17:
“Lalu berdoalah Elisa: Ya TUHAN: Bukalah kiranya matanya, 
supaya ia melihat. Maka TUHAN membuka mata bujang itu, 
sehingga ia melihat. Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan 
kereta berapi sekeliling Elisa.”


MALAIKAT DAN FIRMAN
Untuk merenungkan tentang peran malaikat Allah di dalam 
kehidupan manusia, baca ayat-ayat berikut ini: 
“Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan 
nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: “Yusuf, anak Daud, 
janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab 
anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.” (Matius 
1:20)
“Kemudian TUHAN menyingkapkan mata Bileam; dilihatnyalah 
Malaikat TUHAN dengan pedang terhunus di tangan-Nya berdiri di 
jalan, lalu berlututlah ia dan sujud.” (Bilangan 22:31)
“Yakub melanjutkan perjalanannya, lalu bertemulah
malaikat-malaikat Allah dengan dia.” (Kejadian 32:1)
“… dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, 
yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki 
di tempat mayat Yesus terbaring.” (Johanes 20:12)
“Kemudian berkatalah seorang malaikat Tuhan kepada Filipus, 
katanya: ‘Bangunlah dan berangkatlah ke sebelah selatan, menurut 
jalan yang turun dari Yerusalem ke Gaza.’ Jalan itu jalan yang 
sunyi.” (Kisah Para Rasul 8:26)
“Karena tadi malam seorang malaikat dari Allah, yaitu dari Allah 
yang aku sembah sebagai milik-Nya, berdiri di sisiku…” (Kisah Para 
Rasul 27:23)
Karena itu, saudaraku, sebagai pengikut Yesus kita perlu
memahami betul bahwa kita dilindungi secara sangat sempurna. Kita 
perlu mengerti bahwa Allah telah menyediakan segala sesuatu 
untuk kita melalui firmanNya yang kudus itu. 
Apabila Anda memerlukan pertolongan, datanglah kepadaNya 
dengan berani. Di sana, di takhta kemurahan Allah, dalam nama 
Yesus Kristus, kita dapat meminta apa yang kita  inginkan.
Apabila saudara dan saya membutuhkan bantuanNya, Dia akan 
selalu menyediakan itu. Dia gemar menolong kita ketika kita 
memelihara dan menjalankan perintah-perintahNya dan melayani 
Dia.


KENANGAN TENTANG ALAM MAUT
Saya ingat waktu saya menyelesaikan perjalanan ke dalam alam 
maut, sebelum Tuhan membawa saya ke sorga, selama beberapa 
hari saya terguncang dan sakit. Setiap malam saya tak ingin lampu 
dimatikan dan harus ada Alkitab di samping ketika saya tidur. Dan 
saya terus membaca Alkitab. Jiwa saya benar-benar goyah karena 
membayangkan semua peristiwa mengerikan di alam maut itu.
Tapi setiap kali saya mengalami guncangan jiwa seperti itu, suara 
Yesus selalu terdengar: “Damai sejahtera atasmu. Tenanglah.” 
(Markus 4:39). Dan seketika itu damai sejahtera Tuhan mengalir 
ke dalam diri saya. Tapi beberapa saat kemudian masih saja saya 
terkenang lagi akan kengerian naraka lalu menjerit ketakutan. Tapi 
kemudian saya meyakini bahwa saya tidak sendirian sebab Tuhan 
Yesus selalu ada di sini di samping saya.
Hal itu tidak lantas berarti saya setiap saat merasa kuat dan tak 
takut lagi. Masih saja saya kadang tidak merasakan kehadiran 
Tuhan. Kadang saya begitu takut sehingga mengharapkan kehadiran 
Yesus pun seperti membuat saya ketakutan—takut kalau nanti Dia 
membawa saya ke alam maut lagi.
Awalnya orang-orang tidak mau mendengar kalau saya berbicara 
tentang perjalanan ke alam maut itu. Saya harus memohon-mohon 
dan berkata: “Tolong bertobatlah dari
dosa-dosamu sebelum semuanya terlambat.” 
Sangat sukar bagi siapa pun untuk mempercayai cerita saya 
tentang siksaan di alam maut yang  telah saya alami sendiri. Lebih 
sulit lagi bagi mereka untuk percaya bahwa Yesus sudah menyuruh 
saya menuliskan pengalaman itu dalam buku.
Tapi Tuhan kemudian meyakinkan saya bahwa Dia adalah Tuhan 
yang menyembuhkan. Walau awalnya saya tidak yakin akan dapat 
pulih dari trauma alam maut itu, tapi akhirnya kesembuhan dari 
Tuhan tiba juga dan saya disembuhkan secara sempurna.



PLANET BARU
Setelah itu, Tuhan datang lagi kepada saya. Dalam sekejap, kami 
naik tinggi di luar angkasa. Yesus berkata: “Aku akan menunjukkan 
kepadamu tentang cinta kasih dan kebaikan Allah dan tentang 
beberapa kawasan lain di sorga. Aku mau engkau
melihat pekerjaan-pekerjaan besar yang sudah Kulakukan yang semuanya 
sangat indah; karena itu perhatikanlah.”
Seorang malaikat Tuhan kemudian tampil dan berkata: 
“Pandanglah betapa baiknya Tuhan, Allahmu. Kasih setiaNya tetap 
selama-lamanya.”
Perasaan kasih sayang dan kelembutan yang amat sangat mengalir 
keluar dari malaikat itu dan membuat saya hampir menangis ketika 
dia berkata lagi: “Lihatlah kuasa dan kedahsyatan dan kebesaran 
Allah. Baiklah kutunjukkan kepadamu tempat yang telah Dia 
sediakan bagi anak-anakNya.”
Tiba-tiba sebuah planet besar muncul di depan kami. Planet baru 
ini besarnya sama seperti planet bumi.
“Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab 
langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan 
lautpun tidak ada lagi. Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem 
yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan 
pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya.” (Wahyu  
21:1-2)


ALLAH MENGASIHI ANAK-ANAK
Sambil mengamati planet yang muncul itu, saya mendengar Allah 
Bapa berbicara: “Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah satu. Bapa dan 
Anak adalah satu. Bapa dan Roh Kudus adalah satu. Aku mengutus 
AnakKu untuk mati di kayu salib agar tak seorang pun yang harus 
binasa.
“Aku akan menunjukkan kepadamu tempat yang telah Kusediakan 
bagi anak-anakKu. Aku sangat peduli terhadap semua anak-anak. 
Aku peduli ketika seorang ibu kehilangan anaknya, sekalipun buah 
kandungannya lahir sebelum waktunya. Ingat, Aku mengetahui 
segala sesuatu. Dan Aku peduli. 
“Mulai sejak ada kehidupan di dalam kandungan, Aku tahu. Aku 
tahu tentang bayi-bayi yang dibunuh ketika mereka masih di dalam 
rahim ibunya—bayi-bayi yang diaborsi karena tidak dikehendaki 
kehadirannya. 
“Aku tahu tentang bayi yang meninggal ketika lahir dan yang 
lahir cacat. Dari sejak terjadi pembuahan, sudah ada jiwa di situ. 
Malaikat-malaikat Ku-utus untuk turun dan membawa anak-anak 
yang meninggal itu kepadaKu. 
“Di sorga, mereka disayangi dan mereka tumbuh menjadi manusia 
sempurna. Aku memberikan kepada mereka tubuh yang lengkap 
dan memulihkan bagian manapun dari tubuh mereka yang cacat 
ketika dilahirkan. Aku memberi mereka tubuh yang sempurna.”


SEKOLAH MALAIKAT
Di seantero planet yang muncul itu ada perasaan saling menyayangi,
rasa menjadi manusia sempurna. Segala sesuatu yang ada di 
situ amatlah sempurna. Di sana-sini di tengah rerumputan hijau 
lebat dan kolam-kolam air kristal  terdapat tempat-tempat duduk 
yang  terbuat dari pualam, dilengkapi bangku-bangku kayu yang 
amat mulus tampaknya.
Sejauh mata memandang, saya melihat anak-anak tengah sibuk 
dengan berbagai kegiatan. Setiap anak mengenakan jubah putih 
yang tak bernoda sedikitpun. Mereka memakai sandal. Jubah-jubah 
mereka sangat berkilauan sehingga memancarkan cahaya gemerlap 
yang terpantul di planet itu. 
Warna-warni cantik di semua tempat menambah aksentuasi 
cemerlang pada jubah anak-anak itu. Pintu gerbang ke sana dijaga 
para malaikat dan nama anak-anak ini lengkap tertulis di dalam 
sebuah kitab.
Saya melihat ada anak-anak yang tengah bersekolah—mempelajari 
firman Allah. Ada juga sedang belajar memainkan berbagai alat 
musik. Buku  pelajaran musik yang mereka gunakan terbuat dari 
emas.
Saya terperanjat melihat berbagai jenis binatang berlari 
menghampiri anak-anak itu lalu duduk atau berbaring di dekat 
anak-anak yang  sedang bersekolah di sekolah malaikat tersebut.
Tak satu pun anak di situ yang menangis. Tak satu pun tampak 
bersedih sebab suasananya sangat menyenangkan dan kebahagiaan 
menyelimuti seluruh tempat itu.
Setelah beberapa saat, malaikat menunjukkan planet bercahaya 
terang benderang yang muncul di depan saya. Ini bagaikan batu 
cahaya yang disinari jutaan bintang. Segala sesuatu di planet ini 
amat indah, menyenangkan dan hidup. 
Dari kejauhan tampak dua gunung yang seluruhnya terdiri dari 
emas murni. Lebih dekat ke arah saya tampak dua gerbang yang 
juga terbuat dari emas murni. Gerbang-gerbang itu ditaburi berlian 
dan banyak batu mulia lainnya.
Saya baru menyadari bahwa inilah bumi baru yang diberitakan 
dalam Akitab dan kota yang tampak sangat anggun di planet itu 
adalah Yerusalem Baru—Kota Allah yang akan turun ke bumi.


PEMERINTAHAN YESUS KRISTUS
Dalam sekejap saya tiba kembali di bumi lama, yaitu bumi yang 
keadaannya akan seperti menjelang masa Kesukaran Besar tapi 
sebelum Perang Armageddon memurnikannya. Di situ saya melihat 
Yerusalem, ibukota Milennium (seribu tahun).
Dalam penglihatan itu tampak banyak orang datang
dari tempat-tempat jauh dan dekat, semuanya berusaha masuk ke dalam kota 
tersebut. Raja di kota itu adalah Yesus. Dan semua bangsa di atas 
bumi membawa kepadaNya banyak hadiah sebagai penghormatan 
kepadaNya. Di situ Dia diakui tidak hanya sebagai raja, tetapi Raja 
Segala Raja.
Tuhan Yesus kemudian menjelaskan arti dari penglihatan itu 
kepada saya dan menerangkan tentang apa yang akan segera terjadi. 
Yesus  berkata: “Tak lama lagi Aku akan kembali dan membawa 
balik ke sorga pertama-tama orang-orang benar yang sudah 
meninggal. Setelah itu, mereka yang masih hidup akan diangkat 
untuk berjumpa denganKu di angkasa. Setelah itu, Antikris akan 
muncul dan memerintah bumi selama waktu yang telah ditetapkan. 
Di masa itu akan ada kesukaran dan penderitaan amat besar seperti 
yang belum pernah terjadi dan tak akan terjadi lagi.
“Kemudian Aku akan datang kembali bersama orang-orang 
kudusKu, dan Setan akan dicampakkan ke dalam jurang yang tak 
berujung untuk tinggal di situ selama seribu tahun. Dalam masa 
seribu tahun itu Akulah yang akan memerintah seluruh bumi. Aku 
memerintah dari Yerusalem. 
“Di akhir masa seribu tahun itu Setan akan dibebaskan untuk 
satu masa, tapi Aku akan mengalahkan dia dengan gemerlap cahaya 
kedatanganKu. Lalu, bumi yang lama ini akan lenyap. Tapi, akan 
ada bumi yang baru dan Yerusalem Baru yang akan turun dari sorga 
dan Aku akan memerintah untuk selama-lamanya.”


KEDATANGAN KEMBALI YESUS KRISTUS
Dalam penglihatan lain setelah itu, saya menyaksikan apa yang 
akan terjadi, yaitu kembalinya Tuhan Yesus Kristus ke bumi. Saya 
mendengar Dia memanggil. SuaraNya bagai bunyi terompet yang 
menggelegar dan saya mendengar juga suara penghulu malaikat.
(I Tesalonika 4:16).
Mendengar bunyi dahsyat itu, seluruh planet bumi bergetar 
dan dari kubur keluar semua orang kudus yang diangkat naik ke 
angkasa untuk bertemu Tuhan.
Berjam-jam gemuruh terompet itu saya dengar. Bumi dan laut 
menyerahkan semua orang yang terkubur di sana (Wahyu 20:13). 
Tuhan Yesus Kristus tampak berdiri di atas awan-awan. Gaun luar 
jubahnya berbentuk nyala api dan kemuliaanNya memancar keluar 
penuh keagungan.  Terompet terus membelah udara dan sambil 
mengamati itu semua saya lihat orang-orang benar yang masih 
hidup juga terangkat ke angkasa untuk bergabung.
“Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah 
bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal 
dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia. 
“Ini kami katakan kepadamu dengan firman Tuhan: kita yang 
hidup, yang masih tinggal sampai kedatangan Tuhan, sekali-kali 
tidak akan mendahului mereka yang telah meninggal. 
“Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu 
malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan 
sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus 
akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih 
tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan 
menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan
selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan.” (I Tesalonika 4:14-17)
Saya melihat orang-orang yang sudah ditebus itu bagai jutaan titik 
cayaha berkumpul di suatu tempat di angkasa raya.
Di sana malaikat-malaikat memberikan jubah baru yang putih bersih
kepada mereka semua. Mereka bertempik-sorak
setelah mengenakan pakaian baru itu. 
Malaikat-malaikat memang ditugaskan untuk melayani mereka. 
Dan para malaikat itu tampak memberikan perhatian khusus 
kepada semua orang yang baru bangkit tersebut. Orang-orang 
ini menggunakan tubuh baru yaitu tubuh mulia. Tubuh baru itu 
mereka dapatkan ketika mereka terangkat ke angkasa. Suatu 
tempik-sorak kegirangan yang bergemuruh terdengar memenuhi 
langit  sementara para malaikat bernyanyi: “Glori bagi Raja Segala 
Raja.”


REPRESENTASI TUBUH KRISTUS
Dalam penglihatan lain saya melihat sesosok tubuh rohani yang 
besar jauh tinggi di sorga. Itulah Tubuh Kristus yang berada dalam 
posisi terlentang. Dari sana mengalir darah ke bumi. Ini adalah 
representasi dari tubuh Tuhan kita yang telah disembelih dahulu.
Tubuh ini terus bertambah besar sampai memenuhi seantero 
sorga. Jutaan jiwa yang sudah ditebus masuk ke dalam tubuh 
tersebut. Saya memandang penuh kekaguman ketika jutaan orang 
menaiki tangga dan masuk menjadi satu dengan tubuh itu. 
Mereka masuk mulai dari bagian kaki terus ke lutut, lengan, 
perut, jantung, dan terus ke kepala. Ketika tubuh itu sudah penuh, 
tampaklah bahwa tubuh itu berisi manusia dari berbagai penjuru 
planet bumi. 
Dengan suara yang menggelegar, orang-orang itu bernyanyi 
memuji Tuhan seperti yang ditulis dalam Alkitab: “Engkau layak 
menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; 
karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau 
telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa 
dan kaum dan bangsa. Dan Engkau telah membuat mereka menjadi 
suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan 
mereka akan memerintah sebagai raja di bumi.” (Wahyu 5:9-10)
Jutaan manusia tampak berhimpun di dekat takhta Allah dan 
saya melihat para malaikat membawa kitab-kitab yang berisi vonis 
pengadilan Allah. Ada juga kursi pengasihan dan banyak pula upah 
yang diberikan kepada banyak orang.
Sambil memandangi itu penuh kekaguman, tiba-tiba kegelapan 
menutupi seluruh bumi lalu kuasa-kuasa kegelapan beterbangan 
ke semua penjuru. Roh-roh jahat yang tak terhitung banyaknya 
dilepaskan dari penjara alam maut dan membludak menumpuk di 
bumi. Lalu terdengar suatu suara lain berkata, seperti dalam Wahyu 
12:12: “Karena itu bersukacitalah, hai sorga dan hai kamu sekalian 
yang diam di dalamnya, celakalah kamu, hai bumi dan laut! karena 
Iblis telah turun kepadamu, dalam geramnya yang dahsyat, karena 
ia tahu, bahwa waktunya sudah singkat.”


JURANG MAUT
Kemudian saya melihat seekor binatang buas yang sedang marah. 
Dia menumpahkan geramnya ke atas bumi. Alam maut bergetar 
karena murka binatang itu. Lalu, dari jurang maut muncul sejumlah 
besar rombongan makhluk jahat. Jumlahnya sangat banyak 
sehingga bumi menjadi gelap pekat.
Tampak manusia baik laki-laki maupun perempuan berlari 
menjerit mencari bukit dan gunung dan gua-gua persembunyian. 
Lalu berkobarlah peperangan besar di bumi di tengah kelaparan 
dan bayang-bayang kematian.
Sesudah itu tampak kuda-kuda mulia dan kereta berapi di sorga. 
Bumi terhuyung-huyung sementara matahari menjadi gelap dan 
bulan berubah seperti darah (Wahyu 6:12). Lalu, tampil seorang 
malaikat sambil berseru: “Dengar, wahai penduduk bumi, Sang 
Raja sedang datang.”
Setelah pengumuman itu, tampak Raja Segala Raja dan Tuhan 
Segala Tuan muncul di angkasa. Bersama Dia dalam kemuliaanNya 
itu banyak orang kudus dari berbagai jaman dan masa, semua 
mengenakan jubah putih bersih.
Betul seperti kata Alkitab (Wahyu 1:7) bahwa semua mata akan 
memandang Dia dan semua lutut akan bertelut dan semua lidah 
akan mengakui (Roma 14:11) bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan.
Kemudian tampak para malaikat mengacungkan sabit untuk 
menuai gandum yang telah matang (Wahyu 14:14-19) dan inilah 
akhir dunia ini.
Umat Tuhan..., saya yakin kita mesti saling mengasihi. Kita mesti 
berdiri teguh di dalam kebenaran dan mengoreksi anak-anak kita 
untuk menyadari bahwa Tuhan Yesus akan segera datang. Setuju 
atau tidak, Raja Segala Raja itu pasti datang.


PERMINTAAN TERAKHIR YESUS KRISTUS
Tuhan Yesus berkata kepada saya: 
“Bertobatlah dan kalian akan selamat, karena kerajaan Allah 
sudah hampir tiba. KehendakKu dan FirmanKu akan terlaksana. 
Siapkanlah jalan bagi Tuhanmu.” 
Kemudian Dia berkata lagi, persis seperti dalam ayat-ayat 
berikut:
“Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka 
jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu 
seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaanNya
memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.”
(I Timotius 6:17).
“Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan 
menuruti keinginan daging.” (Galatia 5:16).
“Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. 
Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab 
barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan 
dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan 
menuai hidup yang kekal dari Roh itu.” (Galatia 6:7-8).
“Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, 
hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, 
iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, 
kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap 
semuanya itu kuperingatkan kamu--seperti yang telah kubuat 
dahulu--bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia 
tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Tetapi buah 
Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, 
kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada 
hukum yang menentang hal-hal itu. Barangsiapa menjadi milik 
Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa 
nafsu dan keinginannya.” (Galatia 5:19-24).
 Tuhan Yesus melanjutkan perkataanNya: “Ketika Firman Allah 
sudah digenapi, maka kesudahan itu tiba. Tak seorang pun tahu 
hari dan jam ketika Anak Allah akan turun ke bumi lagi. Anak Allah 
pun tidak tahu kapan Dia akan ke bumi lagi sebab hanya BapaKulah 
yang mengetahuinya. 
“Firman Allah kini sedang digenapi secara cepat. Datanglah 
seperti seorang anak kecil biar
Aku membersihkan kalian dari dosa-dosa kedaginganmu. 
“Katakanlah kepadaKu: Tuhan Yesus, masuklah ke dalam hatiku 
dan ampunilah aku dari semua dosaku. Aku tahu aku orang 
berdosa, karena itu aku bertobat sekarang. Basuhlah aku dalam 
darahMu dan bersihkanlah aku. Aku telah berdosa terhadap sorga 
dan di hadapanMu aku tak layak disebut anak. Sekarang aku 
menerima Dikau dalam iman sebagai Juruselamatku.
“Aku akan menjadi Gembalamu dan engkau akan menjadi 
umatKu. Dan Aku akan menjadi Allahmu. Bacalah firman Allah 
dan janganlah meninggalkan persekutuan. Serahkanlah seluruh 
hidupmu kepadaKu maka Aku akan menjagamu. Aku tidak akan 
pernah meninggalkan engkau.”


BERSIAPLAH MENEMUI ALLAH
Kekasih Tuhan, dari lubuk hati yang terdalam saya telah 
membagikan kepadamu penglihatan dan wahyu yang diberikan 
kepada saya oleh Allah Yang Mahakuasa. 
Saya dapat simpulkan bahwa Allah sangat menyayangi kita 
semua. Dia telah menunjukkan kasih setiaNya kepada kita melalui 
FirmanNya dan melalui penglihatan-penglihatan di hari-hari terakhir ini.
Anak-anak yang dikasihi Tuhan, kita mesti bersiap-siap untuk 
berjumpa dengan Tuhan kita. Setiap saat kita mesti merindukan 
kedatanganNya. 
Saudara dan saya mengetahui semua kesusahan, tanda-tanda 
akhir jaman dan masa dimana kita kini berada. Perhatikanlah 
dengan seksama berbagai kejadian di dunia saat ini. Tak pernah 
ada masa seperti yang sekarang sedang kita alami. Semua ini adalah 
penggenapan dari apa yang tertulis di dalam Alkitab.
Oleh sebab itu, dengan segenap hati saya menganjurkan saudara 
yang sedang membaca buku ini untuk bersiap diri karena tak 
seorang pun tahu kapan Anak Manusia akan tiba. (Matius 25”13). 
Suka atau tidak, setuju atau tidak, Yesus Kristus pasti datang lagi. 
Dan tak ada kuasa atau kekuatan apa pun di seluruh alam semesta 
ini yang dapat menghalangi Dia. 
Yesus Kristus sang Maharaja alam semesta itu tidak membutuhkan 
persetujuan manusia untuk melaksanakan rencana kedatanganNya. 
Dia pasti akan datang ke dunia sebagai Hakim Yang Adil. Dan hanya 
Dia satu-satunya jalan untuk manusia dapat sampai ke sorga. Sebab 
Dia bersabda: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada 
seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” 
(Yohanes 14:6)
Ingat perkataan malaikat kepada saya waktu di sorga, bahwa 
apabila kita hidup kudus, kita akan berjumpa dengan semua orang 
terkasih yang sudah mendahului kita. Ingat juga bahwa apa pun 
yang kita kerjakan di bumi untuk Yesus pasti dicatat di sorga. Dan 
upah kita di sorga pasti lebih besar daripada upah apa pun yang 
dapat kita terima di bumi, sebab semua perbuatan kita di bumi 
dicatat oleh para malaikat Tuhan.
Banyak kali para penginjil, pengkhotbah, dan guru agama harus 
meninggalkan sanak keluarga untuk memberitakan firman Tuhan 
sambil mengalami berbagai kesulitan. Tuhan tahu semua itu karena 
Dia melihat semua itu. 
Dia juga tahu betapa kita sering ditolak atau tidak diperlakukan 
dengan baik. Tapi jangan khawatir, sebab kita tetap anak-anak sang 
Raja Segala Raja itu.
Dia menghendaki kita menjadi pelayan untuk para pelayan 
lainnya. Dia mau kita saling melayani seperti Dia melayani kita.
Allah tidak menjanjikan taman bunga mawar bagi kita. Walau 
Dia tidak menjanjikan kesenangan untuk kita di bumi, kita dapat 
menikmati berkat-berkat, kekayaan, kehormatan dan berbagai 
materi lainnya. Kita dapat memiliki semua ketika kita memikul 
salib dan mengikuti Kristus.
Saya rindu Anda sudah bersiap diri. Kalau belum menerima Yesus 
sebagai Tuhan dan Juruselamatmu, sekaranglah saatnya, agar 
hidup  kekal menjadi bagianmu.
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga telah 
dikaruniakanNya AnakNya yang tunggal, supaya siapa yang percaya 
kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” 
(Johanes 3:16)
“Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus 
adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah 
membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan 
diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, 
dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan. Sebab, 
barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.” 
(Roma 10:9-10, 13)

 
SEKARANG, BERDOALAH SEPERTI INI
Bapa di dalam nama Yesus Kristus.
 Aku datang kini kepadaMu sebagaimana adanya diriku.
Aku seorang berdosa, ya Tuhan. 
Aku telah berdosa terhadap Dikau dan terhadap sorga. 
Karena itu aku mohon kepadaMu, Tuhan Yesus, ampunilah aku 
dan masuklah ke dalam hatiku dan selamatkanlah jiwaku.
Biarlah aku dilahirkan kembali oleh Roh Allah Yang Hidup.
Aku menyerahkan hidupku ke dalam tanganMu, Tuhan Yesus.
Aku percaya sungguh bahwa Engkaulah Anak Allah.
Aku percaya bahwa Engkaulah Yesus Kristus 
yang diutus untuk menyelamatkan jiwaku 
agar terluput dari naraka.
Aku berterima kasih kepadaMu 
dan memuji dan memuliakan Dikau, 
sebab Tuhan telah mencurahkan darahMu 
untuk menebus aku.
Kalau Anda tadi berdoa dengan penuh keyakinan seperti yang 
saya anjurkan di atas, maka saat ini juga Anda sudah diselamatkan. 
Sebab Tuhan Yesus telah masuk ke dalam hatimu. Sekarang, akuilah 
Dia dengan hati dan bibirmu; dan dengan hati dan bibirmu pujilah 
Dia. Biarkanlah Dia memimpin hidupmu setiap hari.
Segala hormat dan puji bagi Allah sampai selama-lamanya!

Wahyu Allah tentang Sorga
Terima Kasih, 
TUHAN Memberkati

Dengan hikmat dan pimpinan TUHAN, buku A Divine Revelation 
of Heaven ini telah kami terjemahkan dengan judul  WAHYU 
ALLAH TENTANG SORGA untuk diedarkan di kalangan umat 
Kristiani di Indonesia.

Secara tulus kami mengucapkan terima kasih yang tak terhingga 
kepada semua anggota Perkumpulan Doa THE INVESTOR GROUP 
yang setia mendoakan dan memberikan semangat kepada kami 
untuk merampungkan penerjemahan buku ini.

Ucapan terima kasih kami tujukan juga kepada Mr. Robert 
Brownell di National Church of God, Washington D.C., yang 
begitu bersemangat memberikan inspirasi kepada kami dalam 
menyelesaikan penerjemahan buku Ibu Mary Kathryn Baxter ini.
Secara khusus kami berterima kasih kepada Malince Seniwati 
Oktarina Damanik, sahabat kami yang setia di dalam Tuhan, yang 
begitu tulus mendoakan dan membantu melakukan penyuntingan 
naskah terjemahan ini.

Tak lupa pula kami layangkan pengharagaan setinggi-tingginya 
serta ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada Ibu Linda 
Korwa Coutts beserta keluarganya di Kanada yang terpanggil untuk 
menyebarkan buku  WAHYU ALLAH TENTANG SORGA kepada 
umat Tuhan di tanah Papua, bahkan sebelum buku ini selesai 
diterjemahkan.

Kepada teman-teman di Harian  INVESTOR DAILY, majalah 
INVESTOR, majalah VIEW, dan majalah berbahasa Inggris GLOBE 
ASIA yang ikut mendoakan dan mendukung penerbitan buku ini 
kami ucapkan banyak terima kasih. Semoga Allah sumber segala 
berkat mencurahkan berkatNya berlimpah-limpah ke dalam usaha 
dan pekerjaan Anda semua.

Kami tak dapat merampungkan tulisan ini tanpa dukungan doa 
dari hamba-hamba TUHAN yang setia mendoakan kami selama 
ini. Kiranya TUHAN memberkati pelayanan, usaha, dan pekerjaan 
Anda semua.

Jakarta, 8 Maret 2007

+++  Pitan Daslani (Editor) +++



_______________________________________________________


A Divine Revelation of HEAVEN
by Mary K. Baxter  
 




http://www.youtube.com/watch?v=neJIsmnAPtQ




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar